Tantangan dan Prospek Kinerja Emitter Baja di Tahun 2026
Kinerja emiten baja di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan di tahun 2026. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja mereka adalah volatilitas harga baja. Harga baja global, khususnya Hot Rolled Coil (HRC), mengalami fluktuasi yang berdampak langsung pada pendapatan dan margin perusahaan.
Perkembangan Harga Baja Global
Berdasarkan data dari Trading Economics, harga HRC Steel saat ini berada di level US$ 1.083,08 per ton. Angka ini naik sebesar 2,47% dalam sebulan terakhir dan meningkat 15,84% sejak awal tahun (year to date / YTD). Sementara itu, harga baja di pasar Cina berada di level CNY 3.079 per ton. Meski stabil dalam sebulan terakhir, harga ini mengalami penurunan sebesar 0,55% YTD.
Perubahan harga ini memiliki dampak signifikan terhadap kinerja emiten baja. Beberapa perusahaan seperti PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mengalami penurunan penjualan bersih hingga 46,74% secara tahunan (year on year / yoy) dari US$ 351,80 juta menjadi US$ 187,35 juta sepanjang tahun 2025. GGRP juga mencatatkan kerugian bersih sebesar US$ 36,83 juta pada tahun tersebut, dibandingkan laba bersih US$ 122,27 juta pada 2024.
Di sisi lain, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$ 339,64 juta pada tahun 2025. Pendapatan perusahaan juga meningkat menjadi US$ 959,84 juta sepanjang tahun tersebut. Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan laba bersih sebesar Rp 534,24 miliar, tumbuh 0,78% secara tahunan. Namun, penjualan dan pendapatan jasa ISSP turun sebesar 2,94% (yoy) dari Rp 6,11 triliun menjadi Rp 5,93 triliun.
Strategi dan Target Emiten Baja
Corporate Secretary & Investor Relations Chief Strategy & Business Development Officer Spindo, Johanes W. Edward menjelaskan bahwa pihaknya masih menargetkan pertumbuhan laba bersih hingga 10% di tahun 2026. Alasan utamanya adalah rata-rata harga jual (average selling price / ASP) ISSP yang cenderung naik, didorong oleh kenaikan harga LME steel HRC China YTD.
Permintaan baja di awal tahun 2026 dinilai stabil, sehingga target pertumbuhan laba bersih tetap dipertahankan. Saat ini belum ada perubahan target, yaitu kenaikan 10% dari laba bersih (tahun 2025), ujarnya.
Analisis dari Para Ahli
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menyebutkan bahwa kinerja emiten baja sepanjang tahun 2025 cenderung tertekan, meskipun proyek IKN dan infrastruktur tetap menjaga volume permintaan. Namun, margin perusahaan terganggu akibat banjir produk baja impor murah dari Cina.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menilai bahwa tahun 2025 merupakan tahun kebangkitan bagi KRAS setelah bertahun-tahun merugi. Pendorong utamanya adalah keberhasilan restrukturisasi utang, kembali beroperasinya pabrik Hot Strip Mill (HSM), serta keuntungan dari penyelesaian utang dipercepat (haircut).
Namun, laba KRAS pada tahun lalu lebih didominasi oleh pos non-operasional, sedangkan rugi operasional masih tercatat sebesar US$ 82,70 juta.
Tantangan dan Peluang di Tahun 2026
Di tahun 2026, beberapa sentimen positif diharapkan dapat menggerakkan kinerja emiten baja, seperti belanja infrastruktur domestik yang masih berjalan, potensi kebijakan anti-dumping terhadap baja Cina, serta penguatan utilisasi fasilitas produksi KRAS. Di sisi lain, tantangan negatif tetap ada, termasuk maraknya impor baja murah yang memicu perang harga domestik dan risiko penumpukan stok bagi emiten yang tidak kompetitif.
Wafi menilai bahwa prospek 2026 lebih baik dibandingkan 2025 untuk KRAS, karena basis restrukturisasi sudah lebih kuat. Namun, pemulihan margin operasional masih menjadi tantangan utama.
Rekomendasi Investasi
Wafi menyarankan investor untuk mencermati saham ISSP dan KRAS dengan target harga masing-masing Rp 560 per saham dan Rp 420 per saham. Dengan melihat tren harga baja yang fluktuatif, investor perlu memperhatikan perubahan harga dan margin yang bisa memengaruhi kinerja emiten.