
Pengelolaan investasi yang berfokus pada prinsip syariah memang memiliki tantangan tersendiri, terutama karena keterbatasan instrumen investasi. Namun, hal ini tidak menghalangi perusahaan asuransi syariah untuk mencatatkan kinerja positif dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan asuransi umum syariah berhasil mencatatkan peningkatan hasil investasi sebesar 23,5% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 286,2 miliar hingga Juli 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terbatasnya pilihan instrumen, perusahaan tetap mampu meraih pertumbuhan yang signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Salah satu perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan positif adalah PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah). Perusahaan ini melaporkan bahwa hasil investasi mereka meningkat menjadi Rp 71,14 miliar pada September 2025, naik 14,13% dibandingkan dengan angka Rp 62,33 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Zurich Syariah, Hilman Simanjuntak menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ia menyebutkan bahwa SBSN menjadi kontributor utama hasil investasi perusahaan, sesuai dengan alokasi portofolio yang telah ditetapkan.
Menurut Hilman, strategi perusahaan berfokus pada stabilitas dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Dalam mengelola portofolio investasi, Zurich Syariah tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian, terutama di tengah keterbatasan instrumen syariah dan fluktuasi pasar.
Sebagian besar aset investasi ditempatkan pada sukuk pemerintah Indonesia yang dinilai stabil dan memiliki suplai memadai. Selain itu, perusahaan juga melakukan diversifikasi portofolio dengan menggabungkan deposito syariah, SBSN, dan obligasi korporasi syariah.
“Kami juga secara aktif memantau pasar dan menyesuaikan strategi alokasi aset agar dapat memberikan hasil optimal,” tambah Hilman.
Selain Zurich Syariah, PT Asuransi Jasindo Syariah juga mencatatkan pertumbuhan positif dalam kinerja investasi. Sekretaris Perusahaan Jasindo Syariah, Wahyudi menjelaskan bahwa pilihan instrumen investasi syariah memang lebih sempit karena harus mematuhi prinsip-prinsip seperti larangan riba, gharar, dan maisir.
Namun, ia mengatakan bahwa tantangan ini justru menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas strategi investasi. “Kami mengoptimalkan portofolio melalui diversifikasi pada instrumen syariah yang aman dan likuid seperti sukuk negara, deposito syariah, reksa dana syariah, dan saham dalam indeks syariah,” ujarnya.
Wahyudi menekankan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi dasar utama dalam menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil. Perusahaan juga melakukan pemantauan aktif terhadap pergerakan pasar dan menyesuaikan alokasi investasi secara berkala.
Kontributor utama imbal hasil berasal dari sukuk negara, deposito syariah, dan reksa dana syariah berbasis pendapatan tetap. Dengan ruang investasi yang terbatas, Jasindo Syariah menerapkan strategi pengelolaan investasi yang seimbang antara kepatuhan terhadap prinsip syariah dan optimalisasi hasil investasi.
“Kami juga memperkuat kerja sama dengan lembaga keuangan serta manajer investasi syariah guna memanfaatkan potensi pasar modal syariah yang terus berkembang,” ujarnya.
Perusahaan optimistis bahwa dengan tata kelola yang baik dan inovasi berkelanjutan, portofolio investasi Jasindo Syariah bisa kompetitif dibandingkan produk asuransi konvensional dan memberikan nilai tambah bagi peserta asuransi.