Kinerja Perusahaan Properti Industri Tetap Stabil, Ini Penjelasan Analis Mirae

admin.aiotrade 13 Nov 2025 3 menit 17x dilihat
Kinerja Perusahaan Properti Industri Tetap Stabil, Ini Penjelasan Analis Mirae

Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri pada 2025

Pada periode Januari hingga September 2025, kinerja emiten properti kawasan industri masih mengalami tekanan yang signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan investasi asing langsung (FDI) dan ketidakpastian ekonomi global. Beberapa perusahaan properti kawasan industri mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih dalam laporan keuangan mereka.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pendapatan dan Laba Bersih yang Menurun

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,31 triliun hingga kuartal III-2025, turun 14,15% secara tahunan (YoY). Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga merosot tajam sebesar 97,17% YoY menjadi Rp 6,46 miliar. Penurunan kinerja tersebut disebabkan oleh renovasi besar-besaran di Paradisus by Meliá Bali, yang ditujukan untuk meningkatkan nilai jangka panjang dan pengalaman bagi para tamu.

Sementara itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 780 miliar pada kuartal III-2025, dengan laba bersih sebesar Rp 525 miliar. Marjin laba bersih perseroan tercatat tinggi di level 67%.

Di sisi lain, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp 3,67 triliun, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,39 triliun. Namun, laba bersih KIJA turun menjadi Rp 634,6 miliar dari Rp 769,7 miliar per September 2024.

Kinerja Prapenjualan yang Bervariasi

Dari sisi kinerja prapenjualan alias marketing sales, para emiten juga mencatatkan hasil yang bervariasi. SSIA mencatat marketing sales seluas 18 hektare (ha) dari lahan Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan, setara Rp 352,6 miliar. Angka ini anjlok 87,3% YoY dari 141,8 ha atau senilai Rp 1,74 triliun per September 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penjualan lahan dalam jumlah besar kepada BYD di Subang Smartpolitan tahun lalu yang bersifat one-off.

DMAS meraih marketing sales sebesar Rp 626,4 miliar hingga kuartal III-2025, baru mencapai 35% dari target tahun ini sebesar Rp 1,81 triliun. Ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, serta kebijakan tarif resiprokal internasional turut menurunkan minat investor asing.

Sementara itu, KIJA justru mencatatkan kinerja positif dengan realisasi marketing sales sebesar Rp 2,92 triliun hingga September 2025, naik 22% YoY. Pencapaian tersebut setara 83% dari target tahun 2025 yang dipatok Rp 3,5 triliun.

Tekanan FDI Masih Bayangi Kinerja

Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, lemahnya kinerja emiten properti kawasan industri tak lepas dari penurunan FDI nasional. Realisasi FDI pada kuartal III-2025 sebesar Rp 212 triliun, turun 8,87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Rp 232,65 triliun). Penurunan ini menjadi yang paling tajam sejak kuartal I-2020 saat pandemi Covid-19.

Jika FDI kembali turun pada kuartal IV, kinerja emiten properti kawasan industri kemungkinan masih tertekan hingga akhir tahun. Namun, ia melihat peluang pemulihan di awal tahun 2026. Setelah penurunan tajam ke titik terendah, FDI berpotensi meningkat secara bertahap ke level yang lebih tinggi.

Tahun depan bisa lebih optimistis karena perbaikan kondisi makro dan peningkatan ekspor dari sektor manufaktur dapat mendorong FDI masuk kembali. Penurunan biaya pinjaman juga bisa membuat industri manufaktur lebih ekspansif dan meningkatkan permintaan lahan industri.

Namun, rekomendasi saham untuk emiten kawasan industri masih menunggu konfirmasi tren pemulihan FDI dan stabilitas ekonomi global.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan