Kinerja perusahaan properti melonjak di 2025, ini proyeksi 2026

admin.aiotrade 29 Des 2025 4 menit 11x dilihat
Kinerja perusahaan properti melonjak di 2025, ini proyeksi 2026


Jakarta – Kinerja saham emiten sektor properti terpantau menguat sepanjang tahun 2025. Namun, kenaikan saham tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja fundamental para emiten.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Desember 2025, indeks IDX Properties & Real Estate sudah naik sebesar 54,41% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 22,1% YTD.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyatakan bahwa kinerja indeks ini melesat sejak awal tahun dan bahkan jauh mengungguli IHSG. Hal ini didorong oleh penurunan suku bunga BI sebanyak lima kali sepanjang tahun. Saat ini, suku bunga BI ada di level 4,75%.

Penurunan suku bunga BI mendorong turunnya cost of fund (CoF), meningkatnya minat KPR, dan dana pasar berotasi ke saham beta tinggi yang sebelumnya tertinggal. Menurut Sukarno, efek low base membuat banyak saham lapis dua sampai tiga melonjak ratusan persen.

“Kondisi itu diperkuat sentimen restrukturisasi utang, proyek baru, dan aksi korporasi, meskipun belum sepenuhnya tercermin di laba,” ujarnya.

Beberapa emiten properti berhasil menjadi 10 besar top gainers sepanjang tahun 2025. Contohnya:

  • PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) dengan kenaikan 2.120% YTD
  • PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dengan kenaikan 1.707,02% YTD
  • PT Trinitri Dinamik Tbk (TRUE) dengan kenaikan 1.023% YTD
  • PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) dengan kenaikan 775,61% YTD
  • PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) dengan kenaikan 737,5% YTD
  • PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) dengan kenaikan 837,5% YTD
  • PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) dengan kenaikan 525% YTD
  • PT Pakuan Tbk (UANG) dengan kenaikan 525,85% YTD
  • PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dengan kenaikan 495,32% YTD
  • PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) dengan kenaikan 469,31% YTD
  • PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) dengan kenaikan 109,38% YTD

Namun, Sukarno menilai, pergerakan saham-saham tersebut lebih didorong oleh momentum dan spekulasi akibat free float kecil dan likuiditas tipis. “Secara valuasi, mayoritas emiten properti sudah ahead of fundamentals, sementara emiten besar relatif lebih rasional,” ujarnya.

Tidak Mencerminkan Fundamental
Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan, kenaikan indeks IDXPROPERT sepanjang tahun 2025 terutama dipicu oleh penurunan suku bunga BI yang agresif sepanjang tahun. Suku bunga yang lebih rendah dinilai meningkatkan daya beli KPR dan ekspektasi pemulihan penjualan properti.

Selain itu, terjadi rotasi dana dari sektor yang sudah mahal ke saham-saham properti yang sebelumnya tertinggal. Namun, kenaikan indeks juga tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental semua emiten. Beberapa saham properti berkapitalisasi kecil melonjak sangat tinggi dan ikut mendongkrak indeks, meski valuasinya sudah tergolong mahal.

“Sementara itu, saham properti besar seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) naik lebih sehat, karena didukung prospek penjualan dan neraca yang relatif kuat,” kata David.

Prospek dan Rekomendasi
Di tahun 2026, sektor properti masih punya prospek positif, tetapi lajunya kemungkinan tidak sekencang tahun 2025. Sentimen positif datang dari potensi lanjutan suku bunga rendah dan insentif properti dari pemerintah.

Namun, risiko tetap ada, seperti daya beli yang belum pulih sepenuhnya dan valuasi saham tertentu yang sudah tinggi. Emiten properti besar dengan proyek berjalan dan penjualan stabil berpotensi tetap jadi penopang sektor ditahun depan.

“Saham-saham spekulatif berisiko mengalami koreksi jika kinerja tidak menyusul kenaikan harga,” tuturnya.

Untuk sektor properti, saham CTRA, BSDE, dan SMRA masih relatif menarik, karena fundamentalnya lebih kuat dan valuasinya lebih rasional dibanding emiten kecil. David menyarankan strategi akumulasi bertahap saat koreksi.

Senada, Sukarno berpandangan, sektor properti masih berpeluang tumbuh di tahun seiring suku bunga rendah bertahan, potensi insentif, dan pemulihan pendapatan prapenjualan. Namun laju kinerja indeks tidak akan sekencang tahun 2025, karena valuasi saham yang sudah tinggi dan ada risiko profit taking meningkat.

“Pasar cenderung beralih dari saham spekulatif ke emiten dengan neraca sehat dan arus kas nyata,” ungkapnya.

Sukarno merekomendasikan beli untuk saham BSDE dengan target harga Rp 1.100 - Rp 1.150 per saham, saham PWON Rp 400 - Rp 420 per saham, saham CTRA dengan target harga Rp 1.000 - Rp 1.100 per saham, dan saham SMRA dengan target harga Rp 450 - Rp 480 per saham.

“Saham-saham tersebut diperdagangkan dengan price to book value (PBV) di bawah 1x dan price to earning ratio (PER) di bawah 15x. Itu tergolong undervalued,” tuturnya.

Analis Teknikal Phillip Sekuritas Indonesia Joshua Marcius melihat, pergerakan saham CTRA berpotensi melanjutkan penurunan ke level support di Rp 790 per saham, selama bergerak di bawah area resistance Rp 900 per saham.

Sebab, tren saham CTRA masih bergerak di bawah dynamic resistance EMA34 dan breakdown yang terjadi hari ini. “Rekomendasi yang dapat dipertimbangkan untuk CTRA adalah wait and see,” katanya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan