
aiotrade, JAKARTA — Indeks saham BUMN menunjukkan performa yang cukup solid sepanjang tahun 2025. Meski begitu, kinerja indeks IDX BUMN 20 masih tertinggal jauh dari IHSG. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Senin (29/12/2025), IDX BUMN 20 mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,16% year to date (YtD). Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 3,07% YtD dan IDX 30 yang mencapai 3,76% YtD.
Namun, jika dibandingkan dengan IHSG yang naik hingga 22,10% pada periode yang sama, kinerja BUMN terlihat kurang optimal. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa reli pasar modal tidak merata, dengan beban berat masih terasa pada saham-saham besar atau big caps.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan bahwa pertumbuhan indeks BUMN 20 yang masih di level single digit dipengaruhi oleh bobot perbankan pelat merah. Performa big four bank sempat di bawah ekspektasi pasar.
Meski demikian, penguatan IDX BUMN 20 juga didukung oleh beberapa aksi korporasi. Salah satunya adalah sentimen positif dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
“Perbaikan sentimen didorong oleh perombakan pengurus, baik di jajaran komisaris maupun direksi, seperti yang terjadi di BMRI dan BBRI. Perubahan kepemimpinan ini diharapkan mampu mendorong eksekusi strategi bisnis yang lebih efektif, disiplin belanja modal, dan efisiensi,” ujar Nafan.
Selain sektor perbankan, Nafan menyebutkan bahwa sejumlah emiten pelat merah nonbank menunjukkan tren teknikal yang positif. Beberapa saham seperti:
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM)
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS)
- PT Timah Tbk. (TINS)
- PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM)
dinilai memiliki prospek yang relatif kuat.
Dinamika pasar modal tahun ini juga dipengaruhi oleh pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia pada Februari 2025. Nafan menyebutkan bahwa sentimen Danantara cukup memengaruhi prospek fundamental emiten negara. Terlebih, ada wacana pemerintah untuk memangkas jumlah BUMN agar lebih ramping dan berdaya saing.
“Jika dinamika Danantara berjalan konsisten, peluang perbaikan kinerja BUMN dan indeks terkait akan terbuka lebar,” pungkas Nafan.