Kisah bisnis: Sawi terbuang jadi cemilan untungkan

Kisah bisnis: Sawi terbuang jadi cemilan untungkan

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik Kisah bisnis: Sawi terbuang jadi cemilan untungkan. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.

Awal Mula Ide Keripik Sawi di Desa Sumberejo

Di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, petani sering menghadapi masalah kelebihan produksi sawi putih. Hasil panen yang tidak laku terjual kerap kali dibiarkan terbuang karena biaya panen yang tinggi. Hal ini membuat para petani memilih untuk tidak memanen jika hasilnya tidak bisa dijual.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Siyono, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sumberejo, menyadari bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Dengan bantuan program pembinaan, ia dan para petani setempat mencoba mencari solusi agar sawi yang terbuang bisa dimanfaatkan. Akhirnya muncul ide pembuatan keripik sawi, yang kini diberi nama Kraukk.

Produksi Kraukk sudah berjalan sejak 2022. Bisnis ini terbukti meningkatkan pendapatan para petani hingga 2-3 kali lipat, serta mengurangi kerugian dari sawi yang biasanya terbuang.

“Biasanya petani menjual dengan harga Rp1.000 per kilogram. Itu kita menyerap dari mereka petani-petani, ya walaupun baru sebagian petani itu, bisa 2-3 kali lipat untuk bahan digoreng itu,” kata Siyono.

Proses Pembuatan Keripik Sawi Kraukk

Awal mula pembuatan keripik sawi Kraukk berawal dari kelebihan produksi di daerah tersebut. Petani ingin memanfaatkan barang yang terbuang. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ditemukan inovasi yaitu pembuatan keripik sawi kriuk.

Kraukk mendapatkan dukungan penuh dari IFG (Indonesia Financial Group). Selama dua tahun, IFG melakukan Life In di Sumberejo, yang merupakan program pengembangan komunitas petani. Program ini membantu petani memahami sistem penggorengan dan pemanfaatan limbah.

Ide Muncul dari Petani Sendiri

Ide membuat sawi menjadi keripik muncul dari petani sendiri. Dalam diskusi dengan IFG, petani mengajukan potensi keripik sawi yang bisa diolah. Alasan utamanya adalah banyaknya sampah yang terbuang saat overproduksi.

IFG kemudian memberikan bimbingan dan pelatihan kepada petani. Sejumlah peserta Life In terlibat dalam proyek ini, termasuk di bidang keripik sawi, pengolahan sampah, dan kegiatan pemuda.

Nasib Sawi yang Tak Terjual

Saat overproduksi, sawi yang tidak terjual biasanya dibiarkan di lahan sebagai pupuk kompos. Tantangan terbesar bagi petani adalah biaya panen yang tidak cukup jika hasil tidak laku.

Sebanyak 215 petani terlibat dalam proyek ini. Mayoritas penduduk Desa Sumberejo adalah petani sawi. Anggota Gapoktan Sumberejo terdiri dari berbagai kelompok tani, termasuk KWT (Kelompok Wanita Tani).

Penjualan Awal dan Pengolahan

Sebelum dijadikan keripik, sawi yang tidak terjual hanya dijual di pasar tradisional. Namun, setelah evaluasi, ternyata sawi berkualitas tinggi lebih cocok untuk diolah menjadi keripik.

Dari 13 kelompok tani, hanya 3 kelompok yang terlibat dalam produksi Kraukk. Volume produksi rata-rata 400-500 bungkus per bulan, dengan penjualan di Kota Magelang dan Salatiga.

Tim Pengolahan dan Respons Pelanggan

Tim pengolahan Kraukk terdiri dari sekitar 10 orang. Respons pelanggan sangat positif, terutama di satu toko oleh-oleh yang laris. Penjualan rata-rata 300-400 bungkus per bulan.

Omzet dari penjualan Kraukk mencapai Rp17 ribu per bungkus. Kenaikan pendapatan sekitar 30-40 persen dibandingkan sebelum pengolahan.

Tantangan Pemasaran Online

Meski telah mencoba berjualan online, prosesnya masih lambat. Banyak anggota tim belum terlalu akrab dengan teknologi digital. Meskipun bekerja sama dengan Shopee, responsnya tidak maksimal.

Jika akses ke e-commerce tersedia, tim Kraukk siap menjalankannya. Namun, kendala logistik seperti jarak pengiriman masih menjadi tantangan.

Rencana Masa Depan

IFG terus memberikan bimbingan dan binaan untuk meningkatkan produksi. Ada rencana untuk mengembangkan olahan sayuran lainnya. Bantuan promosi dan digitalisasi sangat dibutuhkan.

Meski masih ada tantangan, Kraukk telah membuktikan bahwa produk lokal bisa menjadi bisnis yang sukses. Dengan inovasi dan kolaborasi, masa depan industri pertanian di Desa Sumberejo terlihat cerah.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan info viral ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar