
Sejarah Duka dan Perubahan di Desa Suci
Hampir dua dekade lalu, Desa Suci di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami bencana banjir bandang yang menimbulkan duka mendalam. Malam kelam itu, air yang bercampur lumpur menghancurkan kehidupan warga, membawa teriakan dan dentuman yang masih terkenang oleh Parmuji, seorang warga setempat. Bencana tersebut merenggut ratusan nyawa, tetapi juga menjadi titik balik bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap alam sekitarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Parmuji, kini dikenal sebagai penggerak lingkungan, mengingat masa lalu dengan penuh kesadaran. Ia menyatakan bahwa sekarang warga ingin mencegah bencana sebelum terlambat. Dari pengalaman pahit itu, Desa Suci belajar pentingnya pengelolaan sampah baik dari rumah tangga maupun pertanian sebagai langkah mencegah bencana serupa.
Kesadaran Lingkungan Membentuk Kampung Proklim
Desa Suci kini menjunjung status sebagai Kampung Proklim, desa yang tanggap terhadap perubahan iklim. Inisiatif ini dibangun berdasarkan kesadaran warga akan pentingnya perlindungan lingkungan. Ihsannudin, dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember (UNEJ), melihat peluang untuk menjadikan kesadaran ini sebagai gerakan nyata. Ia bersama timnya menggerakkan warga untuk mengelola sampah, tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
“Isu bencana dan ekonomi sering kali menjadi pemantik kuat bagi masyarakat untuk bergerak,” ujar Ihsan. Program Pemberdayaan Desa Binaan dari Kemendikbudristek pun hadir mendukung inisiatif Desa Suci. Melalui teknologi sederhana yang mereka sebut “bata bolong”, para petani anggota Kelompok Tani (Poktan) Harapan kini mampu mengolah limbah pertanian menjadi pupuk organik tanpa proses rumit.
“Biasanya petani malas bikin pupuk karena ribet. Dengan bata bolong, cukup diamkan saja, dan 30 hari kemudian pupuk sudah bisa dipakai,” kata Subhan Arief Budiman, Wakil Dekan III Faperta UNEJ yang juga tergabung dalam tim pemberdayaan.
Peran Ibu-Ibu dalam Ekonomi Sirkular
Selain petani, ibu-ibu di Desa Suci pun tak mau kalah. Mereka tergabung dalam Bank Sampah Larahan Makmur. Kini mereka piawai mengubah sampah yang tak laku dijual seperti popok bekas dan plastik multilayer menjadi produk bernilai ekonomi. “Dulu, dua jenis sampah ini dianggap tak berguna. Sekarang bisa jadi pot tanaman dan mulsa pengganti plastik konvensional,” kata Senki Desta Galuh, pakar teknik lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Jember yang mendampingi kelompok tersebut.
Pot dari limbah popok kini dijual dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per buah, sementara mulsa hasil olahan plastik multilayer mampu menghemat biaya hingga Rp 250.000 per gulung bagi petani cabai.
Langkah-Langkah Kecil yang Memberi Nilai Besar
Langkah-langkah kecil itu perlahan memberi nilai besar. Desa Suci kini bukan hanya dikenal sebagai Desa Tanggap Bencana (Destana), tetapi juga sebagai contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat lokal. “Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Itu cara kami menjaga alam, menjaga masa depan,” kata Sekretaris Desa Suci, Akhmad Rikhwan.
Upaya kolaboratif bersama Ecoton Foundation memperkuat langkah mereka. Kini, tumpukan sampah bukan lagi sumber malapetaka, tetapi menjadi simbol perubahan dan kemandirian. Dari reruntuhan bencana, Desa Suci membuktikan, harmoni antara ekonomi dan ekologi bukan sekadar wacana, tapi kenyataan yang bisa tumbuh dari tangan-tangan warga yang tak menyerah.