
Kisah Haru Siswa Bintara Polri yang Berjuang Menghadapi Kehilangan Ayah
Muhammad Habib Thalib, seorang siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, mengalami duka mendalam setelah ayahnya meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi lima hari setelah ia lulus sebagai siswa Bintara Polri 2025. Ayahnya, Safar Dg Ranca, wafat di kampung halamannya, Kabupaten Jeneponto, pada 7 Juli 2025.
Safar Dg Ranca lahir pada 1 Maret 1979 dan meninggal tanpa disaksikan oleh putranya. Saat itu, Habib sedang menjalani pendidikan di SPN Batua, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Ia tidak bisa meninggalkan tempat pendidikan tersebut karena aturan yang ketat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selama tiga bulan menjalani pendidikan, Habib terus berjuang menghadapi rasa kehilangan ayahnya. Namun, suatu hari, podcast yang dibuat oleh akun SPN Batua memperlihatkan kisah Habib. Dalam podcast tersebut, ia menceritakan bagaimana ia diterima sebagai siswa bintara. Rasa bahagia yang dirasakannya seketika berubah menjadi duka mendalam saat ia mengetahui bahwa ayahnya telah wafat beberapa hari setelah pengumuman sidang akhir.
Habib menyampaikan perasaannya dengan tenang, tetapi saat ia mulai mengungkapkan perasaannya, suaranya terbata-bata. Ia mengaku bahwa rasa senang setelah lulus hanya bertahan sejenak. Mata Habib berkaca-kaca saat ia mengingat masa-masa sulit yang ia alami.
Kepala SPN Memanggil Habib
Setelah menonton tayangan podcast tersebut, Kombes Pol Syamsu Ridwan, kepala SPN Batua Polda Sulsel, memanggil Habib ke ruangannya. Habib tiba dan disambut dengan hangat. Syamsu Ridwan menyapa dengan ramah dan menanyakan pengalaman Habib selama menjalani pendidikan Bintara Polri.
Dengan nada pelan, Syamsu Ridwan kemudian menanyakan keinginan Habib saat ini. Habib spontan mengungkapkan isi hatinya. "Siap mohon izin komandan, saya sangat ingin untuk berziarah kubur komandan ke makam ayah saya," ucap Habib dengan sikap duduk tegap. Ia menambahkan, "Karena selama pendidikan komandan, saya terus mengingat ayah saya."
Pada momen itu, Syamsu Ridwan mengungkapkan keprihatinan mendalam. Ia mengatakan bahwa saat itu, ia tidak dapat memberikan izin kepada Habib untuk keluar dari SPN Batua karena adanya pemadatan pendidikan. "Hal yang tidak mungkin (saya izinkan saat itu), karena kita ada pemadatan pendidikan, sehingga selama lima bulan itu ya tidak pernah dan tidak boleh keluar juga," kata Syamsu Ridwan.
Namun, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Sapar Dg Ranca, Syamsu Ridwan mengizinkan Habib berziarah ke makam ayahnya, Minggu (19/10/2025). Bahkan, orang nomor satu di SPN Batua itu mengantar langsung Habib menziarahi pusara ayahnya. "Untuk menghormati, menghargai perjuangan bapak kamu, karena hari ini hari Minggu juga, nanti bapak antar kamu ke makam ayahmu," ucap Syamsu Ridwan.
Perjalanan ke Makam Ayah
Habib merasa siap dan memberi hormat serta memeluk sosok komandannya itu. Mereka menempuh perjalanan lebih kurang dua jam dari Kota Makassar menuju makam Sapar Dg Ranca. Lokasinya berada di belakang pemukiman warga.
Di depan gundukan tanah yang mengubur jasad sang ayah, Habib memanjat doa. Setelah itu, ia bersimpuh dan mencium nisan keramik hitam yang menuliskan nama ayahnya, Sapar Dg Ranca. Tangis Habib tak terbendung saat ia masih belum percaya bahwa sosok yang membesarkannya telah tiada untuk selama-lamanya.
Sebelum beranjak, Habib tak lupa menaruh pet pdh yang dikenakan di atas nisan ayahnya. Ia memberi hormat dengan harapan sang ayah bahagia di alam sana.