Desa Hargorejo: Kebangkitan Ekonomi dari Program Reforma Agraria
Desa Hargorejo yang berada di Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, menjadi salah satu contoh sukses dalam penerapan program Reforma Agraria. Wilayah ini dulu dikenal dengan medan perbukitan dan akses yang terbatas. Namun kini, desa tersebut telah bertransformasi menjadi kampung produktif dengan usaha gula semut sebagai penggerak utama ekonomi warga.
Sebelum adanya program Reforma Agraria, masyarakat Desa Hargorejo sudah memproduksi gula batok dan gula semut. Namun, mereka menghadapi tantangan besar dalam hal pemasaran dan peremajaan pohon kelapa. Dengan pendampingan dari kerja sama antara BPN dan pihak terkait, warga kini memiliki arah yang lebih jelas dan mampu mengelola usaha secara mandiri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Alfia Fathul Hidayati, Kepala Seksi Penataan dan Pemberdayaan (P2) Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta, menjelaskan bahwa program Reforma Agraria yang dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Kulon Progo tidak hanya berhenti pada penataan aset melalui sertipikasi tanah pada tahun 2016 dan 2019. Program ini berlanjut ke upaya menata akses ekonomi masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga dunia usaha, Kementerian ATR/BPN melalui Kantah Kabupaten Kulon Progo membantu warga memperkuat kelembagaan kelompok tani, meningkatkan kapasitas produksi, hingga mendorong sertifikasi organik untuk produk gula semut.

Ketua Kelompok Tani Gula Semut Nyawiji Mulyo, Sadiman, menyampaikan bahwa dulu produksi gula batok dan gula semut dilakukan secara pribadi dan belum terorganisir. Setelah ada sosialisasi Reforma Agraria, mereka dibimbing untuk memperkuat kelompok dan membangun kelembagaan. Sekarang, kelompok ini bahkan sudah bisa melakukan ekspor.
Sadiman menambahkan bahwa pendampingan dari Kantah Kabupaten Kulon Progo dan pihak swasta membuka wawasan petani untuk tidak hanya melayani pasar lokal, namun juga memenuhi standar ekspor. Dulu mereka hanya menjual ke pasar sekitar, sekarang sudah bisa mengirim dua kontainer sebulan lewat kerja sama dengan PT Nira Lestari Internasional.
Lurah Hargorejo, Bekti Murdayanto, menyatakan bahwa Reforma Agraria benar-benar membawa perubahan nyata bagi warganya. Khususnya bagi 100 petani gula semut Desa Hargorejo yang menjadi penerima manfaat program pendampingan usaha dan bagi Masyarakat Desa Hargorejo.
“Program ini tidak hanya mengurus sertipikasi tanah, tapi juga mendampingi warga agar bisa mengelola potensi lokal. Gula semut menjadi ikon desa kami karena mampu menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja,” ujar Lurah Hargorejo.
Kini, Hargorejo tak lagi sekadar dikenal sebagai desa di lereng perbukitan Kulon Progo. Dengan semangat gotong royong dan pendampingan berkelanjutan, Desa Hargorejo menjadi bukti bahwa Reforma Agraria bukan hanya soal tanah, tapi juga tentang menumbuhkan harapan dan kemandirian.