Kisah Heroik Mayor Achmadi yang Mengusir Belanda, Terukir di Monumen Solo Jawa Tengah

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Kisah Heroik Mayor Achmadi yang Mengusir Belanda, Terukir di Monumen Solo Jawa Tengah
Kisah Heroik Mayor Achmadi yang Mengusir Belanda, Terukir di Monumen Solo Jawa Tengah

Sejarah Perjuangan dan Kiprah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Achmadi Hadisoemarto

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Achmadi Hadisoemarto adalah tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai pemimpin Serangan Umum Empat Hari di Surakarta pada 7–10 Agustus 1949, sebuah peristiwa yang mengguncang pasukan Belanda dan menegaskan keberanian rakyat serta tentara Indonesia dalam melawan pendudukan setelah proklamasi kemerdekaan.

Lahir dari Semangat Kebangsaan

Achmadi lahir di Ngawi pada 5 Juni 1927. Sejak muda, ia menunjukkan semangat kebangsaan yang tinggi. Di usia 14 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya menuju Surakarta untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan. Saat Revolusi Nasional Indonesia berkobar, semangat juangnya tak tertahankan. Di usia 18 tahun, ia memimpin Laskar Kere, sebuah kelompok milisi kecil yang turut bertempur di medan perang Solo dan sekitarnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada tahun 1948, Presiden Soekarno memberikan kepercayaan besar kepadanya dengan menganugerahkan pangkat Mayor dan menugaskannya sebagai Komandan Batalyon 2 Kesatuan Cadangan Umum (KRO) TNI. Setelah reorganisasi militer, Achmadi dipercaya menjadi Komandan Detasemen II Brigade XVII TNI, sekaligus Komandan Komando Militer Kota (KMK) Solo dan Komandan Batalyon Mahasiswa Brigade V KRU.

Puncak Kiprah: Serangan Umum Empat Hari

Puncak kiprah Achmadi terjadi pada 7–10 Agustus 1949, ketika ia memimpin Serangan Umum Empat Hari di Surakarta. Aksi ini mengguncang pasukan Belanda dan berhasil merebut kembali sejumlah titik strategis di kota tersebut. Serangan yang dipimpin Achmadi bersama tokoh militer muda Slamet Riyadi menjadi bukti bahwa semangat juang rakyat Indonesia tidak pernah padam, sekaligus memperkuat posisi diplomasi Indonesia di mata dunia.

Peristiwa tersebut juga menegaskan kesolidan antara tentara dan rakyat Solo dalam mempertahankan kemerdekaan. Nama Mayor Achmadi kemudian melejit di kalangan masyarakat dan dikenal luas oleh pihak militer Belanda.

Dari Medan Tempur ke Kabinet Negara

Setelah masa perjuangan bersenjata, Achmadi meniti karier di dunia pemerintahan. Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Dwikora yang Diperkuat. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Di era Orde Baru, ia sempat ditahan selama 10 tahun karena alasan politik.

Mayor Jenderal Achmadi wafat pada 2 Januari 1984 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Meski telah tiada, perjuangannya terus dikenang sebagai simbol keberanian dan integritas seorang pejuang sejati.

Monumen Mayor Achmadi: Jejak Abadi Perjuangan

Untuk mengenang jasanya, Pemerintah Kota Surakarta membangun Monumen Mayor Achmadi yang diresmikan pada 7 Agustus 2010 oleh mantan Panglima TNI Jenderal Joko Santoso dan Wali Kota Solo kala itu, Ir. Joko Widodo. Monumen ini berdiri di Jl. Abdul Rahman Saleh, Setabelan, Banjarsari, Surakarta, tak jauh dari pusat kota.

Patung perunggu Mayor Achmadi berdiri tegap dengan seragam militer lengkap, tangan kiri membawa buku, simbol ilmu dan kesadaran intelektual, sementara tangan kanan memegang pistol di pinggang, menggambarkan kesiapan membela tanah air. Di bawahnya, terdapat relief-relief yang menggambarkan peristiwa Serangan Umum Empat Hari, menghadirkan suasana perjuangan yang heroik dan menggugah rasa nasionalisme.

Ruang Edukasi dan Inspirasi Sejarah

Kini, Monumen Mayor Achmadi bukan sekadar tugu peringatan, tetapi juga ruang edukasi sejarah bagi masyarakat. Banyak sekolah yang menjadikannya destinasi studi lapangan untuk mengenalkan nilai perjuangan dan nasionalisme kepada generasi muda. Setiap tahun, terutama menjelang Hari Kemerdekaan dan Hari Pahlawan, monumen ini menjadi pusat kegiatan peringatan, doa bersama, dan upacara penghormatan.

Komunitas pemuda serta relawan juga rutin melakukan kerja bakti sebagai wujud penghargaan terhadap jasa para pejuang.

Makna dan Relevansi Masa Kini

Monumen Mayor Achmadi menjadi simbol bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya kisah masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk masa depan. Keberadaannya di tengah kota yang modern mengingatkan masyarakat akan pentingnya nilai keberanian, kejujuran, gotong royong, dan cinta tanah air.

Dengan perawatan yang berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat, monumen ini berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif yang memperkuat identitas sejarah Kota Surakarta.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan