
Kasus Penyekapan Komplotan Begundal Modus Jual Beli Mobil di Tangerang Selatan
Pada akhir-akhir ini, sebuah kasus penyekapan yang melibatkan komplotan begundal dengan modus jual beli mobil telah terungkap. Empat orang korban disekap di sebuah rumah di Pondok Aren, Tangerang Selatan, setelah tertipu oleh pelaku yang mengaku menjual mobil. Kejadian ini berawal dari pertemuan empat korban dengan seorang wanita bernama Nunung di sebuah angkringan di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Awal Kecurangan dan Penyekapan
Empat korban, yaitu Dessi Juwita bersama suaminya Indra alias Riky, serta dua rekannya, Nurul alias Ibenk dan Ajit Abdul Majid, bertemu dengan Nunung pada Sabtu (11/10/2025) pukul 22.30 WIB. Mereka ingin membeli mobil keluaran tahun 2021. Setelah melakukan pembayaran DP sebesar Rp 49 juta melalui transfer ke rekening tersangka N, para korban tiba-tiba ditangkap oleh pelaku.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saat memesan makanan, Nunung datang bersama pelaku lainnya. Mereka langsung merampas ponsel dan tas milik para korban sambil berteriak “kooperatif! kooperatif!” Sebelum mereka sadar, keempat korban dipaksa masuk ke dalam mobil dan dibawa ke lokasi penyekapan.
Pengalaman Menyedihkan di Lokasi Penyekapan
Di dalam mobil, mata para korban ditutup dengan kain hitam. Setibanya di rumah penyekapan, kain penutup mata mereka dilepas, lalu mereka dimasukkan ke kamar di lantai dua. Namun, Dessi diperintahkan untuk keluar dari kamar. Dari luar, ia mendengar rintihan suaminya yang tampak sedang dicambuk oleh para pelaku.
Kondisi di rumah penyekapan semakin mencekam. Namun, suasana tiba-tiba sunyi ketika empat orang yang menjaga Dessi tertidur. Pada saat itu, Dessi memanfaatkan kesempatan untuk kabur. Ia keluar dari kamar secara diam-diam dan mencoba membuka pintu rumah. Meskipun pintu tidak terkunci, ia sempat terhenti karena pagar bangunan dua lantai tersebut tidak bisa dibuka.
Pelarian yang Berhasil
Dessi kemudian beralih ke samping rumah dan naik ke pagar besi. Ia nekat melompat hingga celananya robek. Setelah berhasil keluar, ia langsung berlari tanpa menoleh ke belakang. Di ujung jalan, ia bertemu seorang pria tua yang membantunya menggunakan sepeda motor. Pria itu memberikan informasi bahwa ia berada di daerah Taman Mangu, Pondok Aren.
Seorang sopir taksi juga membantu Dessi menuju ke kawasan Cibubur, ke rumah ibu mertuanya. Dari sana, Dessi langsung menghubungi keluarganya dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Laporan polisi (LP) tersebut dilimpahkan ke Unit III Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Penangkapan Pelaku dan Penyelamatan Korban
Hingga saat ini, polisi telah menangkap sembilan pelaku yang terdiri dari delapan laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah MAM (41), NN (52), VS (33), HJE (25), S (35), APN (25), Z (34), I, dan MA (39). Dari penangkapan ini, Indra, Nurul alias Ibenk, dan Ajit Abdul Majid berhasil diselamatkan dari lokasi penyekapan.
Video yang diterima oleh media menunjukkan proses penangkapan Nunung dan pelaku lainnya di dalam mobil di salah satu apartemen kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Polisi meminta mereka keluar dan langsung membawa mereka ke lokasi penyekapan di Pondok Aren.
Pengakuan Korban dan Buktibukti Kekerasan
Di lokasi penyekapan, polisi menemukan Nurul alias Ibenk sedang tidur di atas kasur. Saat menanyakan keberadaan Indra dan Ajit Abdul Majid, korban mengatakan bahwa mereka masih disekap. Polisi kemudian membuka pintu kamar yang terkunci rapat dan menemukan kedua korban dalam kondisi ketakutan.
Berdasarkan pengakuan korban, mereka mengalami kekerasan seperti dipukul, dicambuk, dan dijejek. Beberapa luka dan memar bekas cambukan terlihat di tubuh mereka. Dalam wawancara, korban menyampaikan pengalaman buruk mereka selama dua hari di tempat penyekapan.