Kehidupan di Pasar Youtefa, Jayapura
Pagi yang masih sepi menghiasi Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua. Udara terasa lembap dan lantai pasar basah akibat sisa hujan malam sebelumnya. Lapak-lapak mulai dibuka, dan Lambert Paragaye tiba dengan langkah tenang. Ia adalah seorang pedagang daging babi yang berasal dari Jayawijaya, Papua Pegunungan. Lambert bukanlah pegawai negeri sipil, ia lebih memilih bekerja di pasar sebagai sumber penghidupannya.
Sejak beberapa tahun terakhir, pasar menjadi ruang hidup bagi Lambert. Dari lapak sederhana ini, ia mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga martabat sebagai kepala keluarga. “Kalau di pasar, kerja capek memang, tapi hasilnya bisa langsung dirasakan,” ujarnya pelan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menjelang Natal 2025, tantangan semakin terasa. Harga daging babi (B2) di Kota Jayapura melonjak tajam hingga menembus Rp200.000 per kilogram. Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Menurut Lambert, sejak awal November, pasokan babi hidup yang masuk ke Jayapura semakin terbatas. “Sekarang beli satu ekor babi bisa sampai Rp15 juta sampai Rp17 juta. Itu tergantung besar kecilnya. Kalau sudah mahal begini, harga jual pasti ikut naik,” katanya.

Bagi pedagang kecil seperti Lambert, kenaikan harga bukan hanya soal untung dan rugi. Ia harus berhadapan dengan keluhan pembeli, sekaligus menanggung risiko kerugian jika daging tidak habis terjual. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Meski harga melonjak, minat beli warga tetap tinggi. Lapak Lambert nyaris tak pernah sepi, terutama saat Natal kian dekat. “Orang datang beli walaupun mahal. Natal itu momen penting. Daging babi sudah jadi bagian dari tradisi,” ujarnya.
Sepanjang siang, Lambert sibuk melayani pembeli. Ada yang membeli setengah kilogram, ada pula yang memesan dalam jumlah besar untuk keluarga dan kerabat. Di sela-sela transaksi, ia kerap berbincang dengan pembeli, menanyakan kabar kampung halaman, atau sekadar bercanda ringan. Bagi Lambert, pasar bukan hanya tempat berdagang, tetapi juga ruang sosial. Di sinilah ia belajar membaca situasi, memahami karakter orang, dan menguatkan relasi antarsesama perantau Papua.
Pilihan Lambert bekerja di pasar bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari banyak anak muda Papua bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil. Namun baginya, pasar menawarkan kebebasan dan kemandirian yang tak ia temukan di pekerjaan lain. “Kalau PNS, gaji sebulan sekali. Kalau di pasar, hari ini kerja, hari ini juga dapat uang,” katanya.
Ia berharap kisah hidupnya bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda Papua agar berani melihat peluang di luar jalur formal. “Anak Papua jangan hanya pikir jadi PNS. Kita bisa bangun hidup dari usaha sendiri, dari kerja keras,” ucapnya, tegas.
Menjelang sore, suasana Pasar Youtefa semakin ramai. Suara tawar-menawar bersahut-sahutan, aroma daging segar bercampur bau tanah basah. Lambert masih berdiri di lapaknya, meski lelah mulai terlihat di wajahnya. Di tengah mahalnya harga dan beratnya tantangan ekonomi, Lambert memilih bertahan. Baginya, pasar adalah sekolah kehidupan—tempat ia belajar jujur, sabar, dan bertanggung jawab.

Saat matahari mulai condong ke barat, timbangan kembali bergerak. Beberapa potong daging terakhir terjual. Lambert menghela napas lega. Hari itu, ia kembali membawa pulang hasil kerja kerasnya. Di Jayapura, di balik hiruk-pikuk Pasar Youtefa, Lambert Paragaye membuktikan bahwa jalan hidup tidak harus berakhir di balik meja kantor. Dari lapak daging babi, ia menimbang harapan, menjaga tradisi, dan menyambut Natal dengan cara yang sederhana namun bermakna.