
Banjir Bandang Melanda Pasar Tradisional Kampung Buntul Kemumu
Pada malam hari Rabu (26/11/2025), wilayah Pasar Tradisional Kampung Buntul Kemumu, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah dilanda banjir bandang yang menghancurkan. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras yang terus-menerus mengguyur daerah tersebut.
Arus air yang deras membawa berbagai material dari hulu sungai seperti lumpur, pasir, gelondongan kayu besar, ranting, dan sampah alam lainnya. Material-material ini langsung menghantam pasar Buntul yang dikelilingi perbukitan hutan serta aliran sungai. Banjir bandang ini terjadi tanpa peringatan, sehingga warga hanya memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Warga Masih Berjuang Membersihkan Rumah Pascabencana
Pada Selasa (16/12/2025) pagi, suasana di Kecamatan Permata masih sibuk dengan aktivitas warga yang berjibaku membersihkan rumah mereka. Beberapa warga terlihat menyapu lumpur, membilas kain-kain kotor, membelah kayu, mengangkat puing-puing rumah, hingga membuang balok-balok kayu.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, trauma yang dialami oleh warga sangat dalam. Salah satu warga, Maryani, menceritakan pengalamannya saat banjir bandang melanda.
Detik-Detik Saat Banjir Menghancurkan
Maryani menjelaskan bahwa banjir terjadi pada malam hari ketika ia sedang beristirahat di dalam rumah bersama anak-anaknya usai lelah berjualan. Saat itu, suaminya sedang menginap di kebun.
Tidak lama kemudian, ia dibangunkan oleh anaknya karena hujan deras terus mengguyur. Ia mencoba menghidupkan api dan melihat keluar rumah, namun tiba-tiba air besar datang menghantam wilayah tersebut.
Ia segera berlari ke arah jalan sambil menggendong anak-anaknya, tetapi tidak bisa menyelamatkan harta benda apa pun. Air yang masuk ke dalam rumah mencapai sedada, membuat kondisi gelap dan mencekam.
Pengalaman Traumatis dan Kesulitan yang Dihadapi
Maryani dan anak-anaknya akhirnya saling merangkul di atas balai yang lebih tinggi. Mereka bertahan semalaman hingga pagi tiba, meskipun hujan terus mengguyur. Namun, banjir bandang susulan kembali datang menjelang siang, membawa material batu dan kayu besar yang menghantam bangunan-bangunan di sekitar.
Dengan hanya berbekal sarung, Maryani hanya bisa melihat barang-barang berharganya terbawa arus air. Dua malam mereka mengungsi, sementara suaminya masih terjebak di kebun. Tidak ada pakaian yang tersisa, dan semua barang dagangan hilang.
Kondisi Setelah Banjir Surut
Pada hari ketiga, kondisi air mulai surut, dan Maryani akhirnya pulang. Namun, yang ia lihat membuatnya seperti bermimpi. Rumah-rumah sudah hancur, dan batang-batang kayu tergeletak di mana-mana.
Selain itu, Maryani juga kehilangan pangan. Beras basah dipenuhi lumpur, minum dan tidur hanya seadanya. Kondisi semakin mencekam dengan padamnya listrik dan hilangnya jaringan telekomunikasi.
Trauma yang Tak Mudah Hilang
Maryani mengungkapkan bahwa ia masih trauma dengan banjir. Bahkan, mendengar hujan saja ia takut air kembali datang. Tidurnya pun tidak nyenyak, dan bayang-bayang malam sulit untuk dihilangkan.
Selain itu, komunikasi dengan dunia luar juga terganggu. Jaringan telekomunikasi mati, dan hingga kini masih belum stabil. Maryani merasa kesepian dan khawatir akan kemungkinan banjir susulan yang bisa terjadi kembali.