
Pengalaman Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam Menyelesaikan S3 Ekonomi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berbagi kisah perjuangannya dalam menyelesaikan pendidikan S3 di bidang Ekonomi di Universitas Purdue, Amerika Serikat. Proses ini tidak hanya melibatkan tantangan akademik, tetapi juga tekanan dari kehidupan pribadi, termasuk syarat menikah dan ancaman cerai dari istrinya, Ida Yulidina.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Purbaya menceritakan bahwa sebelum menikah dengan Ida, ia telah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan Schlumberger. Perusahaan ini dikenal sebagai incaran para lulusan terbaik Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, sebelum memutuskan untuk menikah, ia justru mendapat tantangan agar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Saya sudah keluar dari Schlumberger, ayo kita kawin. Oh, entar dulu. Kamu udah kerja oke, bisa nemenin saya. Tapi saya minta kamu sekolah lagi. Syaratnya itu. Sekolahnya apa? S3. Bukan S2? Enggak, S3," ujarnya.
Pemilihan Jurusan yang Ternyata Tidak Mudah
Setelah memutuskan untuk melanjutkan studi, Purbaya mulai mempertimbangkan jurusan apa yang akan diambil. Sebagai lulusan Teknik ITB, ia merasa bahwa jurusan Ekonomi adalah yang paling mudah untuk dijalani.
"Wah, gue pikir-pikir, apa yang paling gampang? Saya kan orang ITB, sombong. Kita pikir yang paling gampang kan ekonomi. Wah, gue ambil ekonomi deh," katanya.
Ia bahkan menyebut bahwa karena tidak tahu banyak tentang ekonomi, ia langsung mendaftar ke beberapa universitas ternama, termasuk Universitas Purdue dan Stanford University. Akhirnya, ia diterima di Universitas Purdue, yang dulunya menjadi tempat belajar salah satu rektor ITB. Setelah menikah, Purbaya membawa Ida Yulidina ke AS untuk menemaninya menyelesaikan S3.
Tantangan Akademik yang Tidak Terduga
Meski dianggap mudah, jurusan Ekonomi ternyata jauh lebih sulit dibandingkan pendidikan sebelumnya di ITB. Purbaya mengaku bahwa selama di ITB, ia sering nakal dan lebih banyak bermain daripada belajar. Namun, di Purdue, meskipun ia belajar mati-matian, ia masih kesulitan memahami materi yang diajarkan.
"Saya pikir kan gampang. Mampuslah ternyata. Ternyata itu susah banget ya. Saya pikir susah-susah sekali tuh. Di ITB aja nggak sesusah ini, saya pikir. Di ITB tuh saya agak badung jalan main-main terus. Di sini udah belajar matian, nggak ngerti juga saya udah mati-matian," ujarnya.
Ancaman Cerai yang Mengubah Nasib
Di tengah masa sulit tersebut, Purbaya curhat kepada istrinya tentang niat untuk menyerah dan pulang ke Indonesia. Justru, istrinya memberikan jawaban yang menohok. Ia mengancam akan bercerai jika Purbaya pulang ke Indonesia tanpa menyelesaikan S3.
"Jadi, sebulan pertama itu, sebulan dua bulan lah, saya menghadap istri saya. Wah, ini kayaknya pelajarannya susah. Saya nggak ngerti, udah belajar mati-matian nggak ngerti. Juni kita pulang aja ke Indonesia ya," ujarnya.
"Kan orang yang udah sok jago, sok pinter, ganteng kayak gitu kan, down-nya down banget kan. Istri saya bilang apa? Oke, Juni kita pulang. Sampai Indonesia, sampai Jakarta, kamu saya cerai," tambahnya.
Kesadaran dan Keputusan untuk Melanjutkan
Purbaya mengakui bahwa jika ia bersikukuh untuk pulang, maka semua yang telah ia korbankan akan sia-sia. Ia telah meninggalkan pekerjaan, tabungan semakin menipis, dan risiko kehilangan istri juga sangat besar.
"Pusing lah gue. Udah rugi, udah keluar kerja, duit udah mau habis, udah habis sebagian lah. Nanti istri hilang juga. Itu total loss namanya. Jadi, kita tenanginlah. Ya udah, saya belajar lagi, tapi kamu bantu saya," tutupnya.