Kisah Radjiman Wedyodiningrat: Dokter Keraton yang Jadi Nama Jalan di Solo

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 15x dilihat
Kisah Radjiman Wedyodiningrat: Dokter Keraton yang Jadi Nama Jalan di Solo
Kisah Radjiman Wedyodiningrat: Dokter Keraton yang Jadi Nama Jalan di Solo

Peran Penting dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat dalam Sejarah Indonesia

dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat adalah tokoh penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Ia tidak hanya seorang dokter yang berdedikasi, tetapi juga seorang pemimpin intelektual dan politik yang berperan besar dalam merumuskan dasar negara Indonesia, termasuk lahirnya gagasan Pancasila.

Lahir pada 21 April 1879 di Yogyakarta, Radjiman menunjukkan bahwa semangat kemajuan dan perjuangan dapat tumbuh sejajar di berbagai bidang, baik kesehatan maupun politik. Ia memiliki latar belakang keluarga priyayi dengan ayah bernama Sutodrono dan ibu berasal dari Gorontalo. Pamannya, dr. Wahidin Soedirohoesodo, yang merupakan pendiri Boedi Oetomo, memainkan peran penting dalam pendidikan Radjiman.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Asal-Usul dan Pendidikan

Pendidikan Radjiman dimulai di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran pribumi di Batavia. Dari kecil, ia sering mengantar anak pamannya ke sekolah dan akhirnya diizinkan masuk oleh seorang guru Belanda. Ketekunan dan usaha kerasnya membuatnya sukses meraih gelar dokter di usia 20 tahun dan Master of Arts pada usia 24 tahun. Ia kemudian melanjutkan studi ilmu kedokteran di Belanda, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Minat Radjiman terhadap kesehatan masyarakat tumbuh dari keprihatinan melihat warga Ngawi yang dilanda wabah pes. Ia juga belajar ilmu kandungan karena banyaknya ibu yang meninggal saat melahirkan.

Dokter Keraton dan Pengabdian di Ngawi

Keahlian dan dedikasinya membuat Pakubuwono X, Raja Surakarta, mengangkatnya sebagai dokter Keraton Surakarta Hadiningrat. Radjiman bekerja di beberapa rumah sakit di Surakarta, termasuk Rumah Sakit Kadipolo, di mana ia pernah menangani operasi sesar pada tahun 1915, sebuah prestasi medis luar biasa pada masa itu.

Sejak 1934, ia memilih tinggal di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Ngawi. Di sana, ia mengabdikan diri menangani wabah penyakit pes yang melanda warga. Rumahnya kini telah menjadi situs sejarah dan dikenal masyarakat setempat sebagai “Kanjengan”, tempat di mana Presiden Soekarno bahkan pernah berkunjung dua kali.

Aktivitas Politik: Dari Boedi Oetomo hingga BPUPKI

dr. Radjiman termasuk dalam generasi awal intelektual pribumi yang percaya bahwa kemerdekaan harus diawali dari kesadaran nasional. Ia adalah salah satu pendiri organisasi Boedi Oetomo, dan bahkan pernah menjadi ketua organisasi tersebut pada 1914–1915. Dari sinilah langkah politiknya semakin matang. Ia mengusulkan agar Boedi Oetomo membentuk milisi rakyat, sebuah gagasan revolusioner di masa kolonial.

Pemerintah Belanda menanggapinya dengan membentuk Volksraad (Dewan Rakyat), dan Radjiman menjadi salah satu anggotanya mewakili Boedi Oetomo. Namun, puncak perannya dalam sejarah Indonesia terjadi ketika ia menjadi ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945.

Dalam sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, ia mengajukan pertanyaan penting: “Apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan inilah yang kemudian dijawab oleh Soekarno dengan pidato monumental yang melahirkan konsep Pancasila. Radjiman mencatat dan menulis pengantar dalam penerbitan buku pertama Pancasila tahun 1948 di kediamannya di Ngawi.

Misi ke Saigon dan Hari-Hari Menjelang Proklamasi

Pada 9 Agustus 1945, sehari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Radjiman bersama Soekarno dan Mohammad Hatta diterbangkan ke Saigon (kini Ho Chi Minh City, Vietnam). Mereka bertemu Marsekal Lapangan Hisaichi Terauchi, komandan Jepang untuk Asia Tenggara, guna membahas rencana kemerdekaan Indonesia di tengah situasi Jepang yang hampir kalah.

Misi bersejarah itu menjadi langkah penting menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945. Radjiman, sebagai tokoh tua yang dihormati, menjadi saksi dari dinamika politik menuju kemerdekaan.

Karier Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, dr. Radjiman tetap aktif dalam pemerintahan. Ia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan bahkan memimpin sidang pertama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pasca Republik Indonesia Serikat (RIS).

Ia wafat pada 20 September 1952 dan dimakamkan di Yogyakarta. Presiden Soekarno turut hadir dalam pemakamannya sebagai bentuk penghormatan kepada sang dokter bangsa.

Nama yang Diabadikan: Jalan Tertua di Kota Solo

Di Kota Surakarta, nama dr. Radjiman Wedyodiningrat diabadikan menjadi Jalan Radjiman, yang merupakan jalan tertua di Kota Solo. Jalan ini membentang dari Simpang Pasar Klewer hingga Tugu Lilin, dan menjadi saksi sejarah perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta Hadiningrat pada 17 Februari 1745, dalam peristiwa Boyong Kedaton.

Kini, meski Solo telah berkembang menjadi kota modern, Jalan Radjiman tetap menjadi bagian vital dari kehidupan kota. Di jalur ini berdiri Pasar Klewer, pusat batik terbesar di Indonesia, yang menjaga denyut ekonomi dan tradisi Jawa hingga kini.

Atas jasa dan pengabdiannya yang besar bagi bangsa, dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 6 November 2013. Warisan pemikiran dan keteladanannya masih hidup hingga kini, dari rumahnya di Ngawi yang menjadi situs sejarah nasional, hingga jalan di Surakarta yang mengabadikan namanya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan