
Universitas Gadjah Mada (UGM) Kembali Lahirkan Lulusan Berprestasi
Pada upacara wisuda Program Pascasarjana yang digelar di Grha Sabha Pramana, UGM kembali melahirkan lulusan berprestasi. Dalam acara tersebut, sebanyak 2.335 lulusan dikukuhkan, terdiri atas 2.028 lulusan magister dan 193 lulusan doktor (S3). Di antara mereka, nama Rizky Aflaha menjadi sorotan karena berhasil menyandang gelar doktor termuda dari Program Studi Fisika FMIPA UGM pada usia 25 tahun 10 bulan 1 hari.
Capaian ini terbilang luar biasa, mengingat rata-rata usia lulusan program doktor UGM mencapai 41 tahun 6 bulan 15 hari. Namun, Rizky menegaskan bahwa pencapaiannya bukan berasal dari program akselerasi formal, melainkan hasil strategi akademik dan pemanfaatan peluang beasiswa.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Program magister hanya satu tahun dan doktor tiga tahun. Maka dari itu, saya dapat gelar lebih muda dibanding yang lain,” ujar Rizky, Jumat (24/10).
Strategi Akademik yang Efektif
Ia menjelaskan bahwa kunci keberhasilannya adalah mengikuti beasiswa PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) setelah menyelesaikan studi sarjana dalam tujuh semester. Meski begitu, perjalanan akademiknya tidak selalu mulus.
“Awalnya sempat merasa dipandang sebelah mata karena masih muda. Sampai akhirnya perlahan-lahan aku mulai menunjukkan diri bahwa aku bisa, dan alhamdulillah terhitung dari mulai studi doktor sampai hari ini sudah melahirkan 40 publikasi internasional, padahal syarat lulusnya hanya dua,” ungkapnya.
Dukungan dari Para Promotor
Rizky juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para promotor yang telah membimbingnya, yaitu Prof. Kuwat Triyana, Prof. Roto, dan Dr. Aditya Rianjanu. “Beliau memberi arahan dari mulai hal-hal kecil, mulai dari membuat roadmap riset, desain riset, menulis jurnal internasional, sampai hal-hal seperti penyajian gambar yang bagus di jurnal,” tuturnya.
Kehidupan yang Seimbang
Menariknya, di balik prestasinya yang gemilang, Rizky bukanlah sosok “kutu buku”. Ia tetap menjalani kehidupan seperti mahasiswa lain pada umumnya dengan manajemen waktu yang baik.
“Aku tidak bermain game online dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bermain sosmed. Aku lebih memilih kegiatan seperti bulu tangkis, organisasi, dan naik gunung. Bahkan, sepertinya orang-orang di Jogja lebih mengenalku sebagai atlet bulu tangkis ketimbang mahasiswa doktor,” ujarnya sambil tertawa.
Pentingnya Percaya Diri dalam Karier Akademik
Menutup kisahnya, Rizky menegaskan pentingnya rasa percaya diri dalam meniti karier akademik.
“Kita hanya perlu percaya diri. Melalui percaya diri, kita akan banyak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas lebih jauh. Sebaliknya, seberbakat apapun kita, kalau tidak percaya diri, maka tidak akan kemana-mana,” pungkasnya.