Kisah Ugi, Ayah Korban Ledakan SMAN 72: Anak Kritis, Dua Kali Operasi

admin.aiotrade 10 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Kisah Ugi, Ayah Korban Ledakan SMAN 72: Anak Kritis, Dua Kali Operasi


Ahmad Aufa Sodiq (14), seorang siswa SMAN 72 di Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi salah satu korban yang sempat kritis akibat ledakan yang terjadi di sekolahnya pada Jumat (7/11). Pelaku dari kejadian tersebut adalah seorang siswa SMA tersebut sendiri.

Ayah korban, Ugi Abdurrahman, menceritakan kondisi anaknya yang hingga kini masih dirawat di RSI Cempaka Putih dan telah menjalani dua kali operasi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Ya, sudah dua kali operasi, operasi kepala, gendang telinga, sama tangan, lengan,” ujar Ugi saat berbicara kepada wartawan di SMAN 72 Jakarta, Senin (10/11).

Ugi menyebutkan bahwa Aufa masih menjalani perawatan intensif. Selain itu, anaknya juga direncanakan akan mendapatkan operasi ketiga.

“Anak saya, di RS Islam. Hanya itu aja. Terus, yang ada operasi ketiga katanya, operasi kepala itu. Dilihatin saya itu, ada kelainan di dekat batang otak, katanya,” kata Ugi.

Dugaan Paku Tertinggal saat Operasi, RS Bantah


Ugi mengatakan, operasi kedua dilakukan karena ada kesalahan dalam penanganan awal di rumah sakit.

“Ya ternyata ada mismanajemen, manajemen rumah sakit. Akhirnya dioperasi lagi kedua, hanya tangan, ada ketinggalan barang berupa paku berukuran cukup besar.”

“Paku dia besar, paku besar, sih,” jelasnya.

Ugi mengaku sempat protes karena meilai penanganan ke anaknya lambat.

“Ternyata ambil dari kamar itu sampai tiga jam, belum masuk ke ruang operasi. Saya juga komplain, komplain ini kesalahannya di manajemen atau di dokter. Saya banyak teman dokter, saya konfirmasi dengan teman dokter, itu urusan manajemen,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, pihak Humas RSI Cempaka Putih, Anca, membantah klaim bahwa ada paku tertinggal saat operasi.

“Enggak benar,” tandasnya saat dikonfirmasi aiotrade, Senin (10/11).

Posisi Korban Sangat Dekat dengan Lokasi Ledakan


Ugi menceritakan, saat kejadian, Aufa berada di sekitar masjid sekolah, tepat di dekat lokasi ledakan pertama.

“Dekat sekali, dia peledakan pertama. Di masjid, dekat sekali dia. Di sebelah kirinya,” ungkap Ugi.

Aufa tak sadarkan diri akibat ledakan pertama itu.

“Makanya dia nggak tahu ada peledakan dua, tiga. Jadi, saat peledakan pertama ya sudah dia nggak sadar. Nah, digotong, sempat viralnya karena darahnya banyak. Jadi temannya teriak, ‘Aufa kritis, Aufa kritis,” jelas Ugi.

Menurutnya, kondisi Aufa kini sudah sadar.

“Sadar, alhamdulilah,” katanya.

Namun, Aufa masih kesulitan bicara.

“Nggak, nggak bisa dia, anak kebetulan agak sulit diajak ngobrol, kecuali sama ibunya, ya,” ujarnya.


Ugi menambahkan, hingga kini belum ada sesi trauma healing yang diberikan pihak sekolah karena anaknya masih dalam perawatan. Namun, Kementerian Sosial telah berjanji akan memberikan pendampingan langsung.

“Belum. Kan anaknya belum ini (pulih), katanya jaminan dari Mensos [Kemensos]. Nanti akan datang ke rumah. Sampai ke rumah. Diawali dari rumah sakit dulu. Nanti sampai ke rumah ada tindakan dari Mensos,” jelasnya.

Menurut Ugi, sejumlah pejabat sudah sempat menjenguk anaknya di rumah sakit.

“Semua kunjungan, termasuk Kapolri sudah, wawancara dengan istri. Kebetulan saya nggak ada. Jadi ada beberapa menteri, ada Pak Gubernur juga. Tadi malam kan Mas Rano, Wakil (Gubernur) ya,” ujarnya.

Ledakan terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11) saat ibadah salat Jumat. Insiden tersebut menyebabkan puluhan siswa mengalami luka bakar dan gangguan pendengaran.

Dalam olah TKP, petugas menemukan senjata mainan bertuliskan simbol dan nama yang diduga terkait paham neo-Nazi dan terorisme kulit putih. Polisi masih menyelidiki motif serta asal mula bahan peledak — yang berisi paku — yang digunakan pelaku dalam peristiwa itu.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan