
Kebijakan Impor Beras dan Dampaknya terhadap Harga Global
Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa harga beras di pasar global mengalami penurunan setelah Indonesia menghentikan impor komoditas tersebut. Ia menjelaskan, saat menjabat sebagai menteri perdagangan pada masa pemerintahan mantan presiden Jokowi, harga beras mencapai US$ 650 per ton. Pernyataan ini disampaikannya di Graha Mandiri pada Selasa, 16 Desember 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Zulkifli pernah menjabat sebagai menteri perdagangan dari tahun 2022 hingga 2024. Selama masa jabatannya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat aktivitas impor beras yang cukup tinggi. Contohnya pada tahun 2024, data BPS menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor beras sebanyak 4,52 juta ton. Thailand menjadi salah satu negara utama penyuplai beras pada masa itu. Angka impor beras pada tahun tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2017.
“Kita ini pembeli beras terbesar di dunia,” ujar Zulhas, sapaan akrabnya. Menurutnya, kebijakan impor beras yang dilakukan selama masa pemerintahannya berdampak signifikan terhadap harga beras di pasar global. Setelah Indonesia berhenti mengimpor beras pada 2025, harga komoditas tersebut turun menjadi kisaran US$ 400 per ton. Hal ini membuat Menteri Pertanian mendapatkan penghargaan dari PBB karena berhasil menurunkan harga beras dunia dalam waktu satu tahun.
Data Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan bahwa indeks harga beras pada November 2025 turun sebesar 1,5 persen dengan rata-rata 96,9 poin. Penurunan indeks harga beras, menurut FAO, disebabkan oleh penurunan harga beras jenis aromatik dan indica. Contohnya, harga beras aromatik pada November 2025 berada di level 92,5, lebih rendah dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 96,3.
Tahun ini, Indonesia masih melakukan impor beras, tetapi hanya untuk keperluan industri. Data BPS mencatat adanya impor beras sebanyak 364,3 ribu ton dengan nilai transaksi sebesar US$ 178,6 juta sepanjang Januari–Oktober 2025.
Menurut Kementerian Pertanian, impor beras pada tahun ini yang dilaporkan BPS merupakan bagian dari kebijakan beras khusus dan beras industri berbasis neraca komoditas. “Tidak menyentuh konsumsi masyarakat umum,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian Moch Arief Cahyono dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Desember 2025.
Tantangan dan Strategi Pengelolaan Beras
Meskipun Indonesia telah menghentikan impor beras untuk konsumsi masyarakat umum, kebijakan ini tetap memerlukan strategi yang matang agar tidak mengganggu pasokan pangan. Kementerian Pertanian menekankan pentingnya menjaga ketersediaan beras melalui produksi dalam negeri dan pengelolaan cadangan pangan yang optimal.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
- Peningkatan produktivitas pertanian melalui pendampingan petani dan pemanfaatan teknologi modern.
- Pengembangan infrastruktur irigasi untuk meningkatkan hasil panen.
- Penguatan sistem distribusi beras agar dapat mencapai daerah-daerah yang kurang terjangkau.
Selain itu, pemerintah juga sedang mempertimbangkan kebijakan pengendalian harga beras secara nasional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Keberlanjutan Produksi Beras
Produksi beras di Indonesia terus dikembangkan dengan fokus pada keberlanjutan. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa produksi beras mampu memenuhi kebutuhan domestik tanpa mengandalkan impor. Beberapa inisiatif yang diterapkan antara lain:
- Peningkatan luas lahan sawah yang produktif.
- Pelatihan petani dalam penggunaan pupuk organik dan pestisida ramah lingkungan.
- Pengembangan varietas beras unggul yang tahan terhadap iklim dan hama.
Dengan upaya-upaya ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi produsen beras yang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan.