
Koperasi Kelurahan Merah Putih Cipare Berjuang Hadapi Berbagai Tantangan
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cipare, yang berada di Kecamatan Serang, terus berupaya mempertahankan aktivitas usaha meskipun menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah minimnya modal dan kurangnya dukungan dari pemerintah daerah. Padahal, koperasi ini didirikan dengan tujuan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan.
Sekretaris KKMP Cipare, Tatang, menjelaskan bahwa sejak didirikan pada pertengahan tahun ini, koperasi sempat mendapat sambutan yang luar biasa dari warga. “Waktu awal pembentukan, hampir semua dari 21 RW di Cipare ikut sosialisasi dan semangatnya tinggi sekali,” ujarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun, antusiasme tersebut perlahan menurun seiring berjalannya operasional koperasi yang mulai menemui berbagai kendala di lapangan. Tatang menjelaskan bahwa saat awal perencanaan, koperasi ditargetkan untuk menjalankan beberapa unit usaha seperti toko sembako, simpan pinjam, hingga klinik kecil. Namun, setelah mengikuti bimbingan teknis (Bimtek), hanya satu jenis usaha yang dapat direalisasikan.
“Tapi setelah Bimtek, yang bisa jalan baru toko sembako saja. Padahal warga paling berharap ada simpan pinjam,” ujarnya.
Untuk memulai toko sembako, KKMP Cipare hanya mengandalkan iuran anggota. Dari 387 anggota terdaftar, hanya sekitar 87 anggota aktif. “Modal awal kita cuma dari iuran anggota, sekitar dua sampai tiga juta rupiah. Itu pun dari simpanan pokok dan wajib,” jelas Tatang.
Meski demikian, toko sembako telah berjalan sejak Juni 2025. Namun, keuntungan yang diperoleh masih belum terasa. “Sistemnya masih berputar. Barang dijual, hasilnya dipakai belanja lagi. Belum ada keuntungan yang bisa dihitung,” katanya.
KKMP Cipare berharap Pemerintah Kota Serang dapat memberikan bantuan modal untuk mendorong geliat usaha koperasi di tingkat kelurahan. “Minimal ada bantuan permodalan supaya kegiatan koperasi bisa lebih aktif. Selama ini kita bertahan dari iuran anggota saja,” ungkap Tatang.
Koperasi juga telah menjalin kerja sama dengan Kantor Pos dan tengah menjajaki kemitraan dengan perusahaan distributor sembako seperti Rajawali dan ABM. Namun, sebagian besar masih terbatas pada komunikasi awal. “Kita hati-hati. Setiap kerja sama harus sepengetahuan Dinas Koperasi. Takutnya kalau kita ambil keputusan sendiri malah salah,” katanya.
Selain modal, masalah tempat usaha turut menjadi tantangan. Lokasi yang digunakan saat ini masih bersifat sementara karena menumpang di kantor Kelurahan Cipare dan belum memiliki status aset yang jelas.
Dari sisi akses finansial, KKMP telah memiliki rekening koperasi di Bank BJB dan pernah mendapat bimbingan teknis dari Bank Mandiri. Namun, pengajuan modal usaha belum dapat direalisasikan. “Kalaupun ada kredit, biasanya berbasis agunan pribadi. Kami berharap koperasi bisa difasilitasi langsung, bukan individu,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai hambatan, pengurus KKMP Cipare tetap berusaha menjaga semangat anggota dan melanjutkan operasional koperasi. “Kami sadar, ini proses. Tapi tanpa dukungan konkret dari pemerintah, koperasi rakyat seperti kami akan sulit berkembang,” tutup Tatang.