KKP Rilis Panduan Pengukuran Karbon Biru Padang Lamun

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 24x dilihat
KKP Rilis Panduan Pengukuran Karbon Biru Padang Lamun

Standar Pengukuran Karbon Biru Lamun Diperkuat untuk Meningkatkan Kredibilitas Data

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah memperkuat standar pengukuran karbon biru pada ekosistem padang lamun. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas data, efektivitas konservasi pesisir, mendukung perdagangan karbon, serta memberikan kontribusi nyata bagi mitigasi perubahan iklim global.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Standar yang dikeluarkan berupa manual pengukuran karbon biru lamun, yang menjadi pedoman teknis dalam memperkuat kredibilitas data, efektivitas konservasi, dan kontribusi Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim. Manual ini menjadi rujukan nasional pertama untuk pengukuran cadangan karbon pada ekosistem padang lamun di seluruh wilayah pesisir Indonesia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyampaikan bahwa manual ini merupakan langkah penting untuk mendorong tata kelola karbon biru yang kredibel dan berbasis sains. Ia menekankan bahwa data yang terukur, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan agar Indonesia dapat berperan lebih besar dalam mitigasi iklim dan perdagangan karbon global.

Manual ini menjadi fondasi untuk memperkuat aksi konservasi berbasis bukti. Upaya ini sejalan dengan semangat kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, daerah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat. Pemanfaatan karbon biru harus memastikan keberlanjutan ekosistem sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah pesisir.

Keberagaman Ekosistem Lamun di Indonesia

Indonesia memiliki keanekaragaman lamun yang tinggi dengan 15 spesies dari sekitar 60 spesies lamun di seluruh dunia hidup di perairan Indonesia. Beberapa spesies yang paling banyak ditemui antara lain rumput laut besar (Enhalus acoroides), daun lamun (Thalassia hemprichii), spesies lamun tropis berdaun bulat (Cymodocea rotundata), dan lamun tropis dengan daun pendek lebar (Cymodocea serrulata).

Ekosistem lamun dikenal sebagai penyerap karbon yang sangat efisien, terutama pada sedimen yang mampu menyimpan karbon dalam jangka waktu ribuan tahun apabila habitat tetap terjaga. Secara global, padang lamun menyumbang 10–18% cadangan karbon laut dangkal meski hanya menutupi kurang dari 0,2% dasar laut.

Namun, saat ini banyak padang lamun di berbagai wilayah pesisir Indonesia menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi akibat tekanan antropogenik seperti alih fungsi pesisir, pencemaran, praktik penangkapan ikan destruktif, serta dampak perubahan iklim. Kerusakan tersebut tidak hanya menghilangkan fungsi ekologis lamun, tetapi juga berpotensi melepaskan kembali karbon sedimen ke atmosfer, sehingga mengancam upaya penurunan emisi gas rumah kaca.

Regulasi Strategis Perkuat Kebijakan Iklim

Pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi strategis untuk memperkuat kebijakan iklim, termasuk Peraturan Presiden (Perpres) No. 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Permen KP No. 1 Tahun 2025, dan Kepmen KP No. 52 Tahun 2024 terkait peta jalan mitigasi perubahan iklim sektor kelautan dan perikanan.

Regulasi tersebut menempatkan ekosistem lamun sebagai aset penting dalam skema perdagangan karbon berbasis konservasi dan restorasi. Direktur Konservasi Ekosistem Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP, Firdaus Agung, menambahkan bahwa manual pengukuran karbon biru lamun disusun untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan panduan terintegrasi mulai dari tahap persiapan survei, pengambilan sampel lapangan, analisis laboratorium, perhitungan cadangan karbon, hingga pelaporan dan manajemen data.

Penyusunan manual melibatkan peneliti, akademisi, dan praktisi konservasi pesisir. Penerapan manual ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas inventarisasi karbon biru, mendorong efisiensi program konservasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam mekanisme perdagangan karbon internasional.

Komitmen KKP dalam Memperkuat Tata Kelola Sumber Daya Laut

Sebelumnya, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa kementeriannya berkomitmen memperkuat tata kelola sumber daya laut melalui pendekatan berbasis sains, kolaborasi, dan inovasi teknologi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat ekonomi biru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mempercepat pencapaian target iklim nasional.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan