
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menjelaskan secara rinci mengenai proses penemuan dan penanganan cengkeh asal Indonesia yang terkontaminasi radioaktif Cesium-137. Ia menyebutkan bahwa kasus ini bermula dari temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada akhir September 2025, dan kini sedang dalam tahap akhir pemusnahan oleh pemerintah Indonesia.
"Waktu itu ditemukan kandungan Cs-137 di produk cengkeh. Ini yang dari Indonesia ditemukan oleh FDA dari Amerika," ujar Diaz dalam konferensi pers di Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut dia, FDA menemukan kandungan Cs-137 pada produk cengkeh yang diimpor dari PT Natural Java Spice (NJS) di Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Cesium mencapai 732,43 Bq per kilogram, di bawah ambang batas aman yang ditetapkan FDA, yakni 1.200 Bq/kilogram. Namun, FDA tetap memutuskan untuk mengembalikan produk tersebut ke Indonesia.
Berikut kronologinya:
1β3 Oktober: Inspeksi Awal
Menindaklanjuti temuan itu, Satgas Penanganan Cs-137 dari pemerintah Indonesia langsung melakukan inspeksi ke pabrik PT NJS di Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan kontaminasi Cs-137 di fasilitas tersebut. "Nah sebenarnya ini seharusnya masih di bawah batas intervensi, batas aman yang ditetapkan FDA itu sendiri, itu adalah 1.200 Bq per kilogram," kata Diaz.
Tim kemudian melanjutkan verifikasi ke sejumlah perkebunan pemasok cengkeh di Pati (Jawa Tengah), Lampung Selatan, dan Pesawaran (Lampung).
8β11 Oktober: Verifikasi Lapangan
Diaz mengatakan hasil investigasi lapangan di ketiga daerah menyimpulkan tidak ada indikasi kontaminasi radiasi di lokasi-lokasi perkebunan. Tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) juga mengambil sampel bunga cengkeh, kakao, dan tanah dari delapan titik untuk dianalisis di laboratorium. "Dari delapan titik di kebun cengkeh ini di Lampung Selatan dan Pesawaran untuk kemudian dianalisis di laboratorium," ujarnya.
25 Oktober: Temuan Paparan Radiasi
Paparan radiasi Cs-137 kemudian justru ditemukan di pemakaman umum Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dengan tingkat radiasi 1,05β1,3 mikrosievert per jam, melebihi ambang batas alamiah 0,5 mikrosievert per jam. Pemerintah kemudian melakukan langkah penyemenan di area tersebut, yang menurunkan kadar radiasi menjadi 0,11-0,18 mikrosievert per jam, sehingga dinyatakan aman.
"Jadi atas pertimbangan dari Bapeten dan BRIN, tim kemudian melakukan penyemenan. Jadi disemen di titik ini, dan hasilnya radiasinya turun dari 1,05-1,30 ke 0,11-0,18," kata dia.
1 November: Cengkeh Tiba di Tanjung Perak
Selanjutnya, kontainer berisi 21,6 ton cengkeh pengembalian dari Amerika tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari jumlah itu, 13,5 ton di antaranya terindikasi terkontaminasi Cs-137 dengan paparan 0,02β0,12 mikrosievert per jam, masih di bawah batas aman Bapeten. "Walaupun sebenarnya radiasi ini masih di bawah ambang batas yang ditetapkan Bapeten," ucap Diaz.
4 November: PT NJS Melimpahkan Cengkeh
PT NJS menyatakan kesediaan untuk menyerahkan 13,6 ton cengkeh terpapar radiasi tersebut untuk dimusnahkan. Pemerintah melakukan dekontaminasi kontainer menggunakan metode kering (dry method) dan memindahkan seluruh cengkeh ke gudang PT NJS di Benowo, Surabaya.
Diaz menegaskan, langkah terakhir yang kini disiapkan adalah pemusnahan seluruh cengkeh yang terkontaminasi. "KLH bersama BRIN dan Bapeten akan memulai proses pemusnahan cengkeh yang terkontaminasi Cs-137 sebesar 13,6 ton ini," ujarnya.
Terkait sumber radioaktif Cs-137 di produk cengkeh, Diaz mengatakan Tim Satgas juga telah terjun ke wilayah kebun hingga gudang cengkeh milik PT NJS yang berada di Provinsi Lampung, dan tidak menemukan kontaminasi Cs-137.
Wilayah yang diperiksa, di antaranya tiga kebun cengkeh milik masyarakat di Kabupaten Pesawaran, Lampung; gudang cengkeh di Sidomulyo, Lampung Selatan; kebun cengkeh masyarakat di Penengahan, Lampung Selatan; kebun cengkeh masyarakat di Kalianda, Lampung Selatan; persawahan masyarakat di Penengahan, Lampung Selatan; area pemakaman umum di Penengahan, Lampung Selatan; serta area Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
"Pada 8β11 Oktober 2025, tim gabungan Bapeten, KLH, BRIN, dan Polri sudah melakukan investigasi ke wilayah-wilayah, tidak ditemukan kontaminasi CS-137. Perkebunan di ketiga kabupaten tersebut ditanyakan Bapeten sudah clean and clear," ujar dia.
Kontaminasi CS-137 justru ditemukan oleh tim investigasi di area pemakaman umum di Penengahan, Lampung Selatan. "Pada 25 Oktober 2025, tim malah menemukan adanya paparan Cs-137 di pemakaman umum Penengahan, Lampung Selatan, dengan laju dosis sebesar 1,05-1,30 mikroSievert/jam. Ini sudah di atas ambang batas Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika atau FDA dan Bapeten, yakni 0,5 mikroSievert/jam," tuturnya.
Untuk wilayah pemakaman yang terpapar tersebut, Satgas telah dilakukan betonisasi lokasi setinggi 13 sentimeter. "Yang di pemakaman sudah disemen 13 sentimeter, harusnya sudah aman," ucap Diaz.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH Rasio Ridho Sani mengatakan pengamanan lokasi dengan menggunakan proses pembetonan karena lokasi temuan berada cukup jauh dari tempat penyimpanan limbah sementara, yakni di Jakarta.
Selain itu, KLH juga akan terus memantau dan berkoordinasi dengan Bapeten dan BRIN. "Setelah kami lakukan penyemenan, kami juga akan lakukan monitoring. Ya kami akan berkoordinasi, tentu ini menjadi otoritas daripada Bapeten dan BRIN," ujarnya.
Ia menyebutkan sumber Cesium di pemakaman berjarak sekitar 3β5 kilometer dari perkebunan cengkeh yang menyuplai ke PT NJS. Ia juga mengatakan jarak pemukiman terdekat dari sumber radioaktif sekitar 50β100 meter. "Kami masih menelusuri sumber paparan Cesium yang berada di pemakaman tersebut," ucapnya.
Sebelumnya, Satgas Cs-137 memastikan hanya satu dari 12 kontainer berisi cengkeh yang dikirim ke Amerika terindikasi terkontaminasi zat radioaktif. βSatu kontainer suspect 137 (Cs-137) berisi cengkeh dijadwalkan tiba di Surabaya pada 29 Oktober 2025. Jadi kontainer yang suspect itu hanya satu,β kata Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan.
Satgas telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk kesiapan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, serta pengujian di laboratorium Bapeten dan BRIN saat menerima kedatangan kontainer cengkeh suspect tersebut.