
Kolaborasi BPDLH dengan Perusahaan Swasta untuk Mendukung Petani Kakao dan Kopi
Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) telah menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai perusahaan swasta, termasuk PT Mars Symbioscience Indonesia, yang bekerja sama dengan PT Olam Food Ingredients (OFI) Indonesia dan PT Papandayan Cocoa Industries (Barry Callebaut). Kerja sama ini menjadi momen penting dalam transformasi pembiayaan berkelanjutan yang fokus pada sektor kehutanan berbasis agroforestri, khususnya bagi petani kakao dan kopi di Indonesia.
Program Dana Bergulir untuk Meningkatkan Kapasitas Petani
Program ini dirancang untuk membantu petani menjadi entitas usaha yang lebih kuat dan terintegrasi dengan pasar global. Skema dana bergulir memungkinkan petani untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan sambil tetap menjaga kelestarian hutan Indonesia. Dengan pendekatan inovatif, program ini menjangkau ratusan petani di berbagai daerah, baik melalui kelompok Tani Hutan Rakyat maupun Perhutanan Sosial.
Salah satu contohnya adalah KTHR di Kediri yang melakukan tutupan hutan melalui mekanisme tunda tebang dan multiusaha kehutanan. Program ini memberikan akses pembiayaan modal kerja dan investasi usaha pertanian, peternakan, serta perdagangan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas petani menuju entitas usaha yang visible dan bankable.
Manfaat dari Skema Dana Bergulir
Beberapa manfaat dari skema Dana Bergulir ini antara lain:
- Fleksibilitas pembiayaan melalui persyaratan yang inklusif dengan siklus pengembalian yang disesuaikan dengan karakteristik usaha kehutanan dan agroforestri.
- Penerapan mekanisme Blended Finance Model (BFM) yang menggabungkan akses permodalan dengan pendampingan teknis intensif guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
- Integrasi dengan offtaker melalui kemitraan dengan perusahaan global untuk memberikan kepastian pasar, menekan risiko usaha, dan menjamin keberlanjutan ekonomi di tingkat tapak.
Akses Pembiayaan untuk Petani di Berbagai Wilayah
Kolaborasi antara BPDLH dengan para pihak yang mendukung terbentuknya ekosistem pembiayaan agroforestri membuka peluang akses pembiayaan kepada masyarakat sekitar hutan di beberapa wilayah Indonesia. Contohnya, 500 petani kakao di Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan; 200 petani kakao di Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung; serta 150 petani kopi pada Kelompok Perhutanan Sosial KTH Rengganis di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, melalui PT Mars Symbioscience Indonesia.
Selain itu, BPDLH juga turut berkolaborasi dengan 4 KTHR di Kediri untuk produk tunda tebang pohon mangga podang dalam pembiayaan modal kerja dan investasi usaha pertanian, peternakan, dan perdagangan.
Langkah Awal Pemberdayaan Petani Hutan
Penandatanganan perjanjian dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara terkait pembiayaan kepada 38 petani di Desa Salimbatu, Kabupaten Bulungan, serta 200 petani di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan menjadi langkah awal pemberdayaan petani hutan. Kegiatan ini juga menjadi momentum mengawali kolaborasi antara BPDLH dan pemerintah daerah.
Penguatan Integrasi Ekosistem Data Petani
Kerja sama ini juga menitikberatkan pada penguatan integrasi ekosistem data petani. Dengan sistem monitoring berbasis data yang lebih akurat, BPDLH bertujuan meningkatkan kualitas pengambilan kebijakan yang tepat sasaran serta membangun kepercayaan lembaga keuangan formal lainnya untuk terlibat dalam pembiayaan hijau di masa depan.
Inisiatif Sejalan dengan Agenda Nasional Pembangunan Rendah Karbon
Inisiatif ini sejalan dengan agenda nasional pembangunan rendah karbon. Melalui model agroforestri dan pembiayaan tunda tebang, kolaborasi ini membuktikan bahwa perlindungan fungsi ekologis hutan dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Harapan untuk Pilot Project dan Praktik Baik
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan menjadi pilot project atau praktik baik bagi pengembangan skema pembiayaan hijau lainnya di Indonesia. Memastikan bahwa setiap dana yang disalurkan dapat terus berputar secara berkelanjutan agar berdampak baik bagi generasi mendatang.