Kolaborasi Indonesia-Taiwan Tangani Sampah Plastik Laut

admin.aiotrade 07 Nov 2025 2 menit 15x dilihat
Kolaborasi Indonesia-Taiwan Tangani Sampah Plastik Laut


aiotrade, JAKARTA - Masalah penumpukan sampah plastik di laut semakin mengkhawatirkan, sehingga diperlukan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak terkait di wilayah tangkapan sampah laut di Indo-Pasifik, khususnya Indonesia dan Taiwan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, The Habibie Center (THC) dan Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan memperkuat kerja sama dengan menyelenggarakan Lokakarya Internasional bertajuk “Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific.”

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Lokakarya ini merupakan kelanjutan dari kerja sama antara kedua lembaga dalam proyek penanganan sampah laut. Acara ini menghadirkan pembicara ahli dari Indonesia, Taiwan, Jepang, dan Filipina.

Direktur Eksekutif THC, Mohammad Hasan Ansori menekankan pentingnya masalah sampah plastik di laut yang semakin meningkat setiap tahun. Ia menilai, diperlukan kolaborasi multipihak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di wilayah tangkapan sampah laut di Indo-Pasifik, terutama Indonesia dan Taiwan.

Kerja sama ini bertujuan untuk mengintegrasikan kekuatan dan berbagi pengalaman dalam meminimalisasi sampah yang terbuang ke badan air seperti sungai dan laut.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC, Lee Shan Ying, Ph.D., menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam kolaborasi ini. Ia mencontohkan bahwa Taiwan sukses dengan inovasi berbasis komunitas yang dikelola oleh kaum muda, didukung kebiasaan memilah sampah sejak dini.

"Kapasitas Taiwan dalam menghadirkan berbagai inovasi berbasis komunitas, dipadukan dengan tingginya antusiasme daur ulang di Indonesia, dapat menjadi katalis bagi terciptanya perubahan positif di bidang tata kelola sampah di Indo-Pasifik," ujar Dr. Lee.

Lokakarya Internasional ini terdiri dari beberapa sesi utama yang membahas intervensi komprehensif dalam penanganan sampah laut. Salah satu topik yang dibahas adalah tantangan regulasi dan tata kelola, lokalisasi inovasi dan akuntabilitas produsen, serta kapal pemungut sampah tanpa awak buatan Taiwan.

"Meskipun Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 berhasil mengurangi sampah darat yang masuk ke laut sebesar 41,68%, capaian tersebut belum cukup. Diperlukan perubahan sistemik dengan menargetkan intervensi menyeluruh dari hulu ke hilir," kata Konsultan THC dan Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Muhammad Reza Cordova.

Adanya kapal pemungut sampah tanpa awak buatan Taiwan menjadi sorotan karena bisa memitigasi sampah plastik laut berbasis teknologi.

Azure Alliance, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi ekosistem laut, mengembangkan inisiatif tersebut secara multipihak dengan mengintegrasikan dukungan dari pemerintah, sektor pendidikan dan penelitian, serta kontribusi dari berbagai perusahaan swasta, seperti Acer dan Google.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan