Konferensi Besar 40: UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Jabar di Tengah Dominasi Pekerja Informal

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 11x dilihat
Konferensi Besar 40: UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Jabar di Tengah Dominasi Pekerja Informal

Struktur Ketenagakerjaan Jawa Barat yang Menunjukkan Perubahan Signifikan

Pola ketenagakerjaan di Jawa Barat kini menunjukkan pergeseran yang semakin jelas. Salah satu sektor yang menjadi fokus utama adalah UMKM, yang kini berperan sebagai titik kritis dalam menyerap tenaga kerja. Sementara itu, sektor informal masih mendominasi struktur ekonomi daerah ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, saat ini kondisi tenaga kerja Jabar masih bertumpu pada tiga sektor utama, yaitu perdagangan, industri, dan pertanian. Ketiga sektor ini memiliki karakteristik yang dekat dengan aktivitas UMKM. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pekerja bergantung pada lapangan usaha yang identik dengan UMKM.

“Ketika lebih dari 50 persen tenaga kerja berada di tiga sektor yang identik dengan UMKM, otomatis pengembangan UMKM-Kop harus menjadi instrumen ekonomi yang paling serius,” ujarnya dalam Forum Bisnis Indonesia Group Conference di Hotel Savoy Homan, Kota Bandung, Senin (8/12/2025).

Kondisi Sektor Informal yang Masih Mendominasi

Seiring dengan perkembangan UMKM, sektor informal tetap menjadi bagian penting dari struktur ketenagakerjaan Jabar. Data per Agustus 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 54,95% pekerja Jabar berada di sektor informal. Angka ini menjadi indikator kuat tingginya tingkat kerentanan sosial-ekonomi masyarakat.

Mayoritas pekerja informal terlibat dalam usaha ultra mikro, perdagangan kecil, pekerja lepas, atau aktivitas ekonomi rumah tangga dengan perlindungan sosial yang minim. Acuviarta menyebut hal ini sebagai tantangan struktural yang menggambarkan perekonomian daerah yang masih berlapis: satu sisi memiliki industri besar yang tumbuh, namun di sisi lain terdapat kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup pada usaha kecil tanpa kualitas pekerjaan yang stabil.

“Jika lebih dari separuh pekerja berada di sektor informal, berarti mereka hidup dalam ketidakpastian pendapatan. UMKM-Kop harus menjadi kendaraan mobilitas ekonomi agar mereka naik kelas,” kata dia.

Tantangan dan Peluang untuk UMKM dan SMK

Acuviarta menilai sinergi antara UMKM dan kelompok usaha informal perlu dirancang secara lebih agresif. Fokus penguatan bisa dilakukan lewat akses pembiayaan mikro, digitalisasi usaha sederhana, dan pembentukan koperasi berbasis komunitas kerja sehari-hari.

Selain itu, ada catatan lain yang mencuat, yaitu tingginya tingkat pengangguran terbuka pada lulusan SMK. Meskipun SMK dirancang sebagai pendidikan vokasi yang siap kerja, kapasitas pasar tenaga kerja tidak menyerap lulusan SMK secara optimal. Banyak lulusan justru tersangkut dalam masa tunggu panjang, sementara sebagian memilih pekerjaan di sektor informal tanpa keterampilan yang terpakai.

“SMK itu punya modal keterampilan. Tantangannya hanya pada kemampuan mengemas keterampilan itu menjadi unit usaha yang bernilai ekonomi. Di titik ini, UMKM bisa berperan signifikan,” katanya.

Rekomendasi untuk Penguatan UMKM

Upaya yang direkomendasikan meliputi inkubasi wirausaha, pendampingan pemasaran digital, hingga pelatihan manajemen usaha yang langsung relevan dengan kebutuhan pasar. Menurut Acuviarta, pola pembinaan ini lebih efektif dibanding menunggu penyerapan tenaga kerja industri yang sering berjalan lambat.

“Kalau menunggu industri menyerap lulusan SMK, tidak akan pernah cukup. Maka jalur kewirausahaan perlu diperkuat,” jelasnya.

UMKM sebagai Pilar Ekonomi Daerah

Melihat keseluruhan struktur ketenagakerjaan Jabar, Acuviarta menegaskan bahwa UMKM-Kop merupakan pilar paling strategis dalam transformasi ekonomi daerah. Penguatan UMKM dianggap tidak semata-mata soal pemberdayaan, tetapi fondasi penciptaan lapangan kerja baru, pengurangan ketimpangan produktivitas, dan percepatan formalitas ekonomi.

“UMKM sudah terbukti menjadi rumah bagi sebagian besar pekerja Jabar. Tugas kita bukan menebak perannya, tetapi mempercepat penguatan sistemiknya. Jika ini dilakukan, dampak ekonominya akan terasa langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tutup Acuviarta.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan