Konferensi Besar: Bank Indonesia Dorong Optimalisasi 3 Sektor untuk Ekonomi Jabar 2026

admin.aiotrade 08 Des 2025 3 menit 30x dilihat
Konferensi Besar: Bank Indonesia Dorong Optimalisasi 3 Sektor untuk Ekonomi Jabar 2026


aiotrade, BANDUNG— Bank Indonesia (BI) memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada 2026 akan mencapai kisaran 4,9% hingga 5,7%. Proyeksi ini didorong oleh beberapa tren positif yang diperkirakan menjadi daya ungkit perekonomian Jawa Barat. Tren ini juga meningkat dari optimisme pertumbuhan ekonomi di tahun ini yang berada di rentang 4,7% hingga 5,5%.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muslimin Anwar menyatakan bahwa tantangan terbesar di Jawa Barat pada tahun depan adalah pembenahan sektor industri pengolahan, peningkatan kontribusi pertanian untuk ketahanan pangan, serta stimulasi sektor perdagangan dan pariwisata melalui insentif fiskal dan dukungan perbankan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun 2026, BI menyoroti tiga sektor utama yang memerlukan penanganan dan sinergi kebijakan,” ujarnya usai menjadi pembicara dalam Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference dengan tema Optimalisasi Sektor Prioritas untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat, di Kota Bandung, Senin (8/12/2025).

Tiga Sektor Utama yang Perlu Diperhatikan

Ia menjelaskan, sektor industri pengolahan, yang selama ini menjadi kontributor terbesar, menunjukkan adanya pergeseran bobot yang cenderung menurun sejak tahun 2010. Muslimin menduga penurunan kontribusi ini bukan sepenuhnya disebabkan oleh penurunan riil, melainkan karena masalah validitas dan kelengkapan data.

"Penurunan ini bisa disebabkan karena memang realnya menurun atau karena datanya yang tidak ter-capture secara penuh? Nah, kami melihat ada kemungkinan datanya tidak ter-capture secara valid, secara penuh, dikarenakan dua hal," ujar Muslimin Anwar.

Ia memberikan contoh, Data Sistem Informasi Industri Nasional (Sinaz) menunjukkan dari 26.000 pelaku industri, sekitar 10.000 di antaranya belum memperbarui data. BI kini mendukung pemerintah daerah untuk memetakan dan menyasar 50 hingga 100 pelaku industri besar yang belum memperbarui data Sinaz melalui sosialisasi dan pendampingan.

Selain itu, masalah ekspor, terutama Surat Keterangan Asal (SKA) yang banyak diterbitkan di luar wilayah setempat, juga menjadi fokus perhatian untuk dikelola lebih baik.

Sektor Pertanian: Kontributor Ketiga PDRB

Prioritas kedua adalah sektor pertanian, yang saat ini berada di peringkat ketiga kontributor PDRB setelah perdagangan besar dan eceran (PBE). Peningkatan kontribusi pertanian, yang saat ini menyumbang sekitar 8%, sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan.

BI mendorong proyek-proyek investasi skala besar terkait pangan di beberapa wilayah, serta melakukan pendampingan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan UMKM yang sejalan dengan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Pendekatan khusus diberikan untuk menarik minat petani milenial melalui pemanfaatan teknologi. “Petani milenial ini dia itu lebih educated dan biasanya mereka itu senang teknologi. Oleh karena itu pendampingan kami dan dukungan juga sarana prasarana itu adalah terkait dengan IoT, internet of thing, dari sisi hulu sampai dengan hilir,” jelasnya.

Dukungan teknologi mencakup penggunaan teknologi untuk pemupukan dan penyiraman, hingga penjualan produk melalui platform berbasis teknologi untuk memutus rantai distribusi dan meningkatkan daya saing harga.

Sektor Perdagangan dan Pariwisata: Stimulus Fiskal dan Kerja Sama Perbankan

Sementara itu, untuk mendongkrak sektor perdagangan besar dan eceran, serta pariwisata, BI mendorong stimulus berupa insentif fiskal seperti penurunan pajak hotel untuk hari kerja. Selain insentif fiskal, kerja sama dengan perbankan juga didorong melalui program-program yang mendukung pariwisata, seperti skema cicilan liburan yang lebih ringan.

Sinergi ini diharapkan dapat memicu kegiatan pariwisata dan event swasta yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan sektor transportasi, logistik, informasi dan komunikasi (Infokom), serta akomodasi, makanan, dan minuman (Akmamin).

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan