Kinerja Ekonomi Hijau Jawa Timur: Tantangan dan Peluang

Ekonomi hijau di Provinsi Jawa Timur, meskipun memiliki daya saing yang cukup kompetitif secara nasional, masih menyisakan beberapa tantangan yang perlu segera diperbaiki. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Lingkungan dan Pembangunan Universitas Airlangga, Deni Kusumawardani, dalam acara Bisnis Indonesia Group Conference 2025 yang digelar di Hotel Wyndham Surabaya City Centre, Senin (8/12/2025).
Deni menjelaskan bahwa indeks daya saing ekonomi daerah diadopsi dari Global Competitiveness Index (GCI), yang kemudian menjadi Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berdasarkan IDSD 2024, Provinsi Jawa Timur menempati posisi kelima secara nasional dengan skor 3,88. Angka ini berada di atas rata-rata nasional sebesar 3,43, sehingga Jawa Timur masuk dalam kelompok 21 provinsi yang memiliki nilai di atas rata-rata.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Empat Kelompok Indikator dalam IDSD
IDSD terdiri dari empat kelompok indikator utama, yaitu pasar, lingkungan, sumber daya manusia, dan ekosistem inovasi. Dalam pengukuran tersebut, Provinsi Jawa Timur menunjukkan kinerja yang baik pada tiga indikator teratas, namun masih memiliki tiga indikator yang berada di posisi terendah.
- Indikator Teratas
- Pertama adalah kualitas institusi.
- Kedua adalah stabilitas ekonomi makro, yang dipengaruhi oleh digitalisasi birokrasi, seperti yang terjadi di Surabaya.
-
Ketiga adalah ukuran pasar, di mana Jawa Timur memiliki pangsa terbesar kedua terhadap PDB nasional.
-
Indikator Terendah
- Pertama adalah pasar produk, di mana struktur persaingan tidak sempurna dan cenderung oligopoli atau monopoli.
- Kedua adalah pasar tenaga kerja, yang masih lemah dalam aspek upah, mobilitas, dan kesetaraan gender.
- Ketiga adalah sektor keuangan, khususnya akses kredit, yang perlu ditingkatkan untuk meningkatkan inklusi dan permodalan masyarakat.
Ketimpangan antara Kabupaten dan Kota
Deni juga mengungkap adanya ketimpangan kinerja ekonomi hijau antara kabupaten dan kota di Jawa Timur. Data menunjukkan bahwa delapan kabupaten-kota memiliki kinerja di atas rata-rata Jawa Timur, enam di antaranya adalah kota. Kota-kota seperti Surabaya, Madiun, Malang, dan Batu dinilai lebih progresif, terutama dalam aspek ekonomi dan inovasi. Namun, sebagian wilayah lainnya masih tertinggal, terutama dalam indikator lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Daerah-daerah dengan kinerja terendah antara lain Probolinggo, Lamongan, Kediri, Bangkalan, dan Sampang. Bangkalan bahkan dinilai paling jelek dalam semua indikator, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Kinerja SDGs dan Masalah Lingkungan
Meskipun capaian Sustainable Development Goals (SDGs) Jawa Timur menunjukkan kinerja sosial yang cukup menonjol, seperti penanganan kemiskinan dan akses pendidikan, kinerja lingkungan justru menjadi yang paling rendah. Masalah utamanya meliputi produksi, konsumsi, ekosistem, dan pemukiman.
Selain itu, porsi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Jawa Timur masih jauh dari target nasional. Target EBT pada tahun 2025 ternyata meleset, dengan hanya mencapai 14% setelah direvisi dari 23%.
Trade-off Antara Ekonomi dan Lingkungan
Deni menegaskan bahwa masih ada trade-off antara pertumbuhan ekonomi dengan kualitas lingkungan di Jawa Timur. Peningkatan ekonomi sering kali mengorbankan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi hijau, green job, dan green investment.
Peran Kolaborasi untuk Transisi Ekonomi Berkelanjutan
Untuk mempercepat transisi menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, Deni menekankan pentingnya peran aktif dan kolaborasi dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku industri. Dengan kerja sama yang kuat, Jawa Timur dapat memperbaiki kinerja ekonomi hijau dan mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.