
Di Balik Artis Dunia.CO.ID - JAKARTA.
Harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan signifikan, dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan menambah volatilitas harga minyak.
Berdasarkan data yang dirangkum dari berbagai sumber, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar 4,83% dalam satu hari menjadi US$ 100,03 per barel. Sementara itu, minyak Brent juga mengalami kenaikan sebesar 4,19% menjadi US$ 105,53 per barel. Penguatan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor utama yang saling terkait.
Menurut Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, penguatan harga minyak dipicu oleh penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal nuklir Iran yang dinilai "tidak dapat diterima". Hal ini memperburuk hubungan antara AS dan Iran, sehingga memudarkan harapan adanya deeskalasi konflik dalam waktu dekat.
Selain itu, laporan serangan drone terhadap kapal kargo di Teluk Persia serta intersepsi serangan udara di wilayah Kuwait dan UEA semakin memperkuat kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama sepuluh minggu ini bisa berkembang menjadi perang regional yang lebih terbuka.
Sutopo menjelaskan bahwa kondisi operasional Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi distribusi komoditas global, masih terganggu. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Kebuntuan militer yang menghambat pembukaan kembali jalur ini menciptakan premi risiko perang (war premium) yang signifikan pada harga minyak.
Selain situasi di Selat Hormuz, pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pelaku pasar berharap China dapat memainkan peran diplomatik untuk mendorong Iran melunakkan sikap terkait isu fasilitas nuklirnya. Hasil dari agenda pertemuan tersebut menjadi variabel kunci karena pasar berharap adanya pengaruh diplomatik China untuk membujuk Teheran agar melunakkan sikapnya.
Dalam jangka pendek, Sutopo memperkirakan harga minyak masih akan cenderung tinggi dengan volatilitas tinggi. Minyak WTI diproyeksikan bertahan di atas US$ 100 per barel apabila gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlanjut. Bahkan, International Energy Agency (IEA) menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.
Menurut Sutopo, peningkatan produksi dari Arab Saudi maupun negara anggota OPEC+ lainnya belum mampu secara cepat menggantikan potensi kehilangan pasokan akibat gangguan logistik di kawasan tersebut. Jika negosiasi di Beijing gagal menghasilkan kesepakatan konkret, harga minyak berpotensi bergerak ke kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel pada kuartal ini.
Investor juga perlu mencermati sejumlah indikator dalam beberapa pekan ke depan, seperti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan laporan mingguan persediaan minyak mentah dari Energy Information Administration (EIA). Selain itu, perkembangan keamanan jalur pelayaran di wilayah Qatar dan Uni Emirat Arab juga akan menjadi indikator penting bagi stabilitas pasokan energi global.
Menurutnya, setiap pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Teheran terkait syarat pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menjadi katalis utama bagi arah pergerakan harga minyak dunia.