Koperasi Merah Putih Ngagel Rejo Surabaya Luncurkan Bisnis Beras dalam Sebulan

admin.aiotrade 07 Nov 2025 6 menit 14x dilihat
Koperasi Merah Putih Ngagel Rejo Surabaya Luncurkan Bisnis Beras dalam Sebulan
Koperasi Merah Putih Ngagel Rejo Surabaya Luncurkan Bisnis Beras dalam Sebulan

Koperasi Keluarga Merah Putih (KKMP) Ngagel Rejo: Awal Mula dan Perjalanan

Di sebuah ruangan kecil di samping kantor Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo, anggota Koperasi Keluarga Merah Putih (KKMP) Ngagel Rejo sibuk melayani pelanggan. Meskipun baru sebulan beroperasi, koperasi ini telah melayani puluhan pelanggan tetap. Sebuah papan nama berdiri di depan pintu seakan memberikan pesan selamat datang di muka koperasi ini.

Di dalam koperasi, tidak ada etalase besar namun muatan berisi beras, gula, hingga minyak goreng tertata rapi menjadi barang pokok yang dijual di tempat ini. “Kami benar-benar mulai dari nol, Mas,” tutur Endang Purwaningtyas, ketua koperasi yang juga menjadi motor utama gerakan ini ketika ditemui di Koperasi tersebut belum lama ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Suaranya tenang tapi tegas. Matanya berbinar ketika bercerita tentang perjalanan koperasi yang lahir dari semangat gotong royong. Koperasi ini secara resmi berdiri 6 September 2025 dan dilantik secara simbolis oleh Presiden bersama koperasi-koperasi lain pada 22 September 2025. Hanya dalam waktu singkat, koperasi ini telah mengumpulkan 59 anggota aktif.

Endang dibantu Eko Retno Agustin sebagai Sekretaris, Totok Suprayitno di Bendahara, Mimbar Isdianto sebagai Wakil Ketua Bidang Keanggotaan, dan Agung Priyo Saputro sebagai Wakil Ketua Bidang Usaha. “Semuanya warga Ngagel Rejo, karena kami ingin koperasi ini benar-benar tumbuh dari lingkungan sendiri,” kata Endang belum lama ini berbincang dengan aiotrade dengan didampingi sejumlah pengurus koperasi.

Tanpa Pinjaman Bank, Tanpa Utang, Tanpa Sponsor Besar

Di antara yang menarik dari KKMP Ngagel Rejo adalah cara mereka berdiri: tanpa pinjaman bank, tanpa utang, tanpa sponsor besar. Endang bercerita bahwa semua modal awal berasal dari swadaya pengurus. “Kami sepakat, daripada terbebani bunga bank, lebih baik jalan pelan-pelan tapi aman,” ujarnya.

Kebijakan ini menjadi dasar seluruh langkah koperasi. Produk yang mereka jual pun untuk sementara dijual hampir tanpa margin keuntungan. Terpenting bagi koperasi, mereka ingin anggota bertambah terlebih dahulu. “Misalnya kami beli beras Rp 55 ribu (perkarung 5 kilogram), ya dijual Rp 58 ribu. Hanya beda sedikit. Kami belum ambil untung. Yang penting warga tertarik dulu, merasa terbantu, dan pelan-pelan mulai percaya pada koperasi ini,” katanya.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Namun, bagi Endang dan timnya, kepercayaan masyarakat jauh lebih berharga dibanding keuntungan cepat. Mereka percaya, koperasi harus hadir sebagai solusi ekonomi, bukan sekadar usaha dagang.

Kendala Keterbatasan Tempat

Salah satu kendala terbesar KKMP Ngagel Rejo adalah keterbatasan tempat. Hingga kini, koperasi masih menumpang di ruang kecil di samping ruang Lurah Ngagel Rejo. Padahal, mereka juga ingin mengajak UMKM untuk ikut memasarkan produk melalui koperasi ini.

Ia menyebut, sekitar 80 persen warga Ngagel Rejo adalah pelaku UMKM, terutama di bidang makanan dan minuman. Ada juga pengrajin kerajinan tangan (handicraft), pembuat camilan, hingga pemilik rumah antik di RW 9 dan RW 10 yang memiliki koleksi barang bernilai sejarah. “Belum bisa mendisplay produk UMKM kami. Padahal banyak potensi luar biasa di Ngagel Rejo. Bayangkan kalau nanti kami punya tempat sendiri, bisa jadi etalase UMKM lokal, bahkan mungkin jadi kampung tematik khas Ngagel Rejo,” katanya.

Walau masih muda, langkah KKMP Ngagel Rejo tak luput dari perhatian berbagai pihak. Beberapa bank nasional dan BUMN telah datang menawarkan kerja sama dengan koperasi yang masuk dalam 10 koperasi percontohan di Surabaya tersebut. “Dari Bank Mandiri, Bank Jatim, Pertamina Patra Niaga, bahkan dari program BUMN sempat dua kali datang. Kami juga sering diundang gathering atau dialog pemberdayaan ekonomi,” kata Endang.

Namun, bagi mereka, semua tawaran itu belum saatnya diterima. “Kami belum mau terburu-buru. Pondasi kami harus kuat dulu. Kami masih ingin tumbuh dengan cara yang sehat dan transparan,” tambahnya.

Permintaan Sembako Meningkat

Kini, permintaan sembako dari anggota perlahan meningkat. Dalam sebulan, KKMP mampu menyalurkan hingga 4 ton beras, 1,2 ton gula, dan 5.760 liter minyak goreng. Angka yang mungkin terlihat kecil bagi perusahaan besar, tapi sangat berarti bagi koperasi yang baru berjalan beberapa bulan.

Sadar bahwa koperasi masih baru dan belum banyak dikenal, KKMP berencana menjemput bola. Bulan depan, mereka akan menggelar operasi pasar keliling RW, menggandeng pelaku usaha setempat seperti pedagang ayam dan telur. Program ini juga menjadi ajang edukasi agar masyarakat memahami bahwa KKMP bukan koperasi simpan pinjam, melainkan koperasi usaha dan produksi.

“Kami ingin warga makin dekat dengan koperasi. Kalau selama ini menunggu, sekarang kami yang mendatangi,” jelas Endang. “Masih banyak yang salah paham. Banyak yang mengira koperasi itu pasti soal pinjam uang. Padahal kami justru ingin bantu warga lewat usaha bersama, bukan utang,” tambahnya.

Harapan dari Generasi Muda dan Optimisme ke Depan

Salah satu tantangan lain adalah menarik minat generasi muda. Saat launching pertama, beberapa pemuda datang tapi belum tertarik bergabung. “Waktu kami ajak, mereka bilang, ‘Buat apa bayar iuran Rp25.000, mending buat ngopi.’ Tapi nanti kalau koperasi sudah berkembang, pasti mereka akan datang,” kata Endang sambil tersenyum bijak.

Bagi Endang, semangat ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi tentang melanjutkan nilai kebersamaan bangsa. Nama “Merah Putih” bukan kebetulan — melainkan simbol semangat perjuangan. “Kami yakin, program pemberdayaan dari Presiden dan pemerintah ini akan membawa manfaat besar kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh. KKMP kami memang belum punya apa-apa, tapi kami punya keyakinan,” ujarnya mantap.

Bendahara KKMP Ngagel Rejo, Totok Suprayitno, menjadi salah satu tulang punggung dalam menjaga ritme organisasi ini tetap hidup. Bagi Totok, koperasi bukan sekadar wadah jual beli. Lebih dari itu, koperasi adalah bentuk nyata pengabdian sosial dan ekonomi bersama.

“Kehadiran Koperasi Merah Putih ini sedikit banyak membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Itu prinsip kami,” ujarnya Totok menambahkan. Hingga saat ini KKMP Ngagel Rejo memilih jalur idealis: menjual tanpa mengambil keuntungan berarti. Semua kebutuhan pokok dijual dengan harga yang hampir sama dengan modal.

“Kami belum mencari untung. Semua dijual dengan harga yang sama. Akhirnya pengurus sepakat, kalau enam bulan ke depan situasinya masih seperti ini, ya kami siap berkorban dulu. Kami jadi pelayan bagi anggota dan masyarakat,” tutur Totok.

Kalimat itu mencerminkan dedikasi tinggi para pengurus. Di saat banyak usaha berorientasi pada laba, mereka justru memilih fokus pada kebermanfaatan. Tak jarang, para pengurus datang di luar jam tugas untuk melayani pembeli atau mengurus stok barang.

Bagi Totok, koperasi ini lahir bukan karena modal besar, tapi karena semangat kebersamaan. Ia percaya, tanpa dukungan warga, KKMP tidak akan mampu tumbuh. “Kami sadar, tanpa ada bantuan dari RW, RT, PKK, karang taruna, dan seluruh elemen masyarakat, koperasi ini akan sulit berkembang,” ujarnya.

Karena itu, KKMP Ngagel Rejo berencana melakukan sosialisasi ke setiap RW dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan bisa memperkenalkan koperasi lebih luas sekaligus membuka ruang kolaborasi antarwarga. Ia berharap dalam beberapa bulan ke depan, koperasi tak hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi wadah pembinaan ekonomi bagi pelaku UMKM di Ngagel Rejo.

“Yang kami bangun ini bukan hanya koperasi, tapi juga semangat bersama. Kalau warga bisa melihat manfaatnya, mereka pasti akan ikut serta. Dari situ koperasi akan tumbuh secara alami,” ujarnya optimis. Totok sadar perjalanan ini tak akan mudah. Tapi baginya, setiap langkah kecil memiliki arti.

Ketika pengurus rela berkorban waktu dan tenaga tanpa pamrih, ketika warga mulai percaya dan datang membeli, dan ketika koperasi menjadi bahan pembicaraan di pos ronda, di situlah perubahan dimulai. “Ini bukan soal besar atau kecil, tapi soal semangat. Kalau semua bersatu, kita bisa buktikan koperasi bukan barang lama, tapi masa depan,” tandasnya.

Di ruang sederhana itu, semangat gotong royong terus berdenyut. Tiap kantong gula, tiap liter minyak, tiap pertemuan kecil antara pengurus dan anggota, semuanya menjadi bagian dari perjuangan membangun kemandirian. Dari Ngagel Rejo, warna merah putih itu tak lagi hanya bendera—tapi semangat yang hidup dalam setiap warga yang percaya bahwa kebersamaan bisa menggerakkan ekonomi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan