
aiotrade, JAKARTA — Bitcoin sedang menghadapi penurunan tahunan yang keempat dalam sejarahnya. Namun, kali ini tidak diiringi dengan skandal besar atau krisis industri kripto. Penurunan ini terjadi dalam kondisi pasar yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Pada Senin, harga Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga 3,7% akibat aksi jual yang kuat. Secara year to date (hingga saat ini), Bitcoin telah turun sekitar 7%. Meski demikian, data dari Coinmarketcap pada Rabu (17/12/2025) menunjukkan bahwa harga Bitcoin naik 1,64% menjadi US$87.677,20.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Koreksi Bitcoin kali ini lebih ringan dibandingkan tiga fase penurunan sebelumnya. Namun, situasi saat ini berbeda karena adopsi institusional kripto semakin luas, regulasi semakin matang, dan pendukung utama seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mendukung kripto.
Menurut Bloomberg, penurunan cepat setelah Bitcoin mencapai rekor di atas US$126.000 pada awal Oktober membingungkan para penggemar Bitcoin. Pasar kripto kesulitan menemukan pijakan, volume transaksi menipis, investor menarik dana dari ETF Bitcoin, serta pasar derivatif menunjukkan sedikit minat untuk bertaruh pada pemulihan.
Bahkan pembelian besar-besaran oleh "whale" atau investor besar seperti Strategy Inc. milik Michael Saylor belum mampu membalikkan keadaan. Pratik Kala, manajer portofolio hedge fund Apollo Crypto, menyatakan bahwa banyak pihak terkejut karena tidak ada kelanjutan penguatan meskipun ada banyak katalis positif.
Fase bearish ini juga membuat Bitcoin terlepas dari pergerakan saham. Indeks S&P 500 ditutup di level rekor awal bulan ini dan telah menguat 16% sepanjang tahun. Saham teknologi—yang selama ini sering bergerak seirama dengan Bitcoin—bahkan mencatat kinerja lebih baik.
Tiga penurunan tahunan pertama Bitcoin selalu diiringi peristiwa yang meruntuhkan kepercayaan pasar. Pada 2014, peretasan dan kolapsnya bursa Mt. Gox menunjukkan ketidakamanan infrastruktur kripto. Bitcoin anjlok 58% pada tahun itu.
Empat tahun kemudian, gelembung ICO pecah setelah otoritas melakukan pengetatan, menyeret Bitcoin dan token lain ke tren koreksi. Penurunan 2018 sebesar 74% masih menjadi yang terdalam sepanjang sejarah.
Kejatuhan 2022 menjadi yang paling signifikan, seiring membesarnya skala pasar dan tumbangnya sejumlah pemain besar seperti FTX milik Sam Bankman-Fried, serta memicu pengetatan luas di era Presiden Joe Biden.
Hingga puncak Oktober, laju Bitcoin tampak tak terbendung. Trump menetapkan kripto sebagai prioritas nasional, Kongres AS mengesahkan regulasi stablecoin, dan ETF Bitcoin menyedot dana miliaran dolar. Nilai akuisisi dan penggalangan dana melonjak, sementara sejumlah perkara penegakan hukum warisan pemerintahan Biden ditarik.
Namun di balik reli tersebut, kerentanan menumpuk—terutama leverage yang ekstrem. Kerapuhan reli itu meledak ke ruang publik pada 10 Oktober, saat likuidasi taruhan berleverage mencapai US$19 miliar dan menyeret pasar kripto ke pusaran volatilitas.
Para "whale" Bitcoin mulai melepas aset, menahan tekanan harga meski sebagian besar leverage telah tersapu. Perputaran transaksi merosot tajam, dengan volume November turun paling dalam sejak awal 2024, menurut data CoinDesk.
Beragam indikator menunjukkan pelaku pasar memilih menepi. Investor telah menarik lebih dari US$5,2 miliar dari ETF spot Bitcoin yang tercatat di AS sejak 10 Oktober. Kedalaman pasar—indikator kemampuan menyerap transaksi besar tanpa gejolak harga—turun sekitar 30% dari puncak tahunannya, berdasarkan data peneliti Kaiko.
“Penjualan dari para whale lama benar-benar meredam momentum. Industri sudah mendapatkan semua yang diminta dari sisi regulasi—bahkan ETF dengan staking—tetapi harga tidak ikut bergerak,” ujar Kala.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.