
Upaya Danantara Indonesia Menyelamatkan Krakatau Steel
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia sedang melakukan berbagai langkah pembenahan untuk menyelamatkan perusahaan pelat merah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). BUMN baja ini tengah meminta tambahan modal sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 8,35 triliun. Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara Febriany Eddy menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima permohonan dana dari KRAS dan saat ini sedang dalam proses validasi. Perhitungan terkait dana tersebut sudah masuk tahap akhir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Febri, salah satu misi besar Danantara adalah membangun kembali basis manufaktur yang kuat di Indonesia demi membuka lapangan kerja berkualitas. Ia menilai bahwa Krakatau Steel merupakan awal dari upaya tersebut karena memiliki potensi luar biasa.
Proyek Blast Furnace yang Tidak Berjalan Lancar
Febri menyinggung bahwa Krakatau Steel melakukan investasi besar untuk membangun fasilitas blast furnace. Langkah ini dilakukan karena KRAS berada di segmen midstream dan ingin masuk ke upstream. Tujuannya adalah agar KRAS dapat memperoleh pasokan bahan baku yang lebih stabil, efisien, dan sesuai kebutuhan produksinya. Namun, eksekusi proyek ini tidak berjalan mulus.
Meskipun proyek blast furnace selesai dibangun, ketika dioperasikan justru membuat pabrik rugi sehingga fasilitas tersebut harus dihentikan. Dari situ, beban utang KRAS menjadi sangat besar. Febri menjelaskan bahwa kerugian saat fasilitas itu dinyalakan dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari teknologi yang kurang efisien, desain yang tidak optimal, hingga proyek yang mengalami overrun. Apalagi ketika fasilitas tersebut akhirnya selesai, teknologi global sudah lebih maju, sehingga blast furnace KRAS tidak bisa bersaing.
Masalah Utang dan Kehilangan Creditworthiness
Dengan beban utang besar serta bunga yang harus ditanggung, menurut Febri, KRAS akhirnya kehilangan creditworthiness karena kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangannya semakin terbatas. "Jadi dia gak bisa pinjam uang lagi layaknya perusahaan-perusahaan lain. Bahkan untuk modal kerja pun tidak ada," ujarnya.
Selain itu, selama dua tahun terakhir sebelum 2025, KRAS juga mengalami kebakaran di HSM-nya. Hal ini memperparah kondisi keuangan perusahaan.
Alokasi Dana untuk Operasional Utama
Manajemen Krakatau Steel sebelumnya menyampaikan bahwa dana yang diterima perseroan akan dialokasikan untuk kebutuhan operasional utama. Penggunaannya mencakup pembelian bahan baku berupa slab baja untuk pabrik HSM, hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil full hard (CRC F/H) untuk pabrik CRM PT KBI, HRC untuk pabrik pipa baja PT KPI, serta berbagai produk turunan baja lainnya.
Alokasi tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan modal kerja berdasarkan cash conversion cycle masing-masing fasilitas produksi. Tak hanya itu, perseroan juga berencana mengajukan tambahan pendanaan hingga US$ 500 juta dalam bentuk lain untuk menyelesaikan proses restrukturisasi.
Pembiayaan dari Pihak Ketiga dan Kenaikan Biaya
Saat ini pemenuhan bahan baku masih mengandalkan pembiayaan dari pihak ketiga yang mengenakan bunga lebih tinggi dibandingkan fasilitas perbankan. Ditambah sejumlah batasan yang ditetapkan oleh masing-masing financier. "Melalui dukungan Danantara, PTKS akan beroperasi secara optimal dan mengurangi beban biaya bahan baku yang sebelumnya menggunakan pembiayaan dari pihak ke-3 (financier)," ucap manajemen Krakatau Steel dalam keterbukaan informasi BEI.
Berdasarkan hasil analisis, Krakatau Steel diproyeksikan dapat meningkatkan EBITDA hingga US$ 31,9 juta setelah menerima dukungan pembiayaan dari Danantara. Proyeksi ini menunjukkan bahwa dukungan melalui Program Penyehatan Perusahaan (PPS) memberikan nilai tambah yang signifikan bagi seluruh entitas di dalam grup.
Fokus pada Efisiensi dan Peningkatan Daya Saing
Dengan terjaminnya modal kerja untuk fasilitas HSM, Krakatau Steel dapat memenuhi kewajiban utang restrukturisasi Tranche A menggunakan kas operasional. Fokus utama dari inisiatif ini adalah memperkuat lini produksi baja, khususnya di unit HSM dan CRM. Kedua unit ini ditargetkan menjadi pusat bisnis yang efisien, kompetitif, dan profitable.
Untuk mencapai hal tersebut, KRAS menjalankan program efisiensi biaya secara menyeluruh, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk di pasar domestik maupun internasional. Dengan efisiensi operasional yang konsisten, perusahaan dapat menekan biaya produksi, meningkatkan margin keuntungan, serta menjaga daya saing harga terhadap produk impor.
Selain itu, PTKS juga akan mengoptimalkan potensi pasar baja melalui strategi product mix dengan memanfaatkan unique selling point (USP) PTKS yang jarang dapat dipenuhi pemasok domestik lain. "KRAS akan fokus untuk memaksimalkan potensi penjualan di USP, ekspor, dan mass market yang memiliki margin tinggi dan sedang," ujarnya.