Krakatau Steel Minta Rp8,3 Triliun, Ini Tanggapan Danantara

admin.aiotrade 01 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Krakatau Steel Minta Rp8,3 Triliun, Ini Tanggapan Danantara

Proses Penyelamatan Krakatau Steel Dijalankan oleh Danantara Indonesia

Danantara Indonesia, sebuah dana kekayaan negara (sovereign wealth fund), akan segera memulai proses penyelamatan perusahaan pelat merah. Dalam waktu dekat ini, mereka akan melakukan restrukturisasi terhadap PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Salah satu perusahaan yang akan diproses lebih dulu adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS). Berdasarkan 22 program kerja dari PT Danantara Asset Management (Persero), holding operasional Danantara, terdapat empat sektor utama yang masuk dalam klaster restrukturisasi. Salah satunya adalah sektor manufaktur baja.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Krakatau Steel sebagai perusahaan baja nasional diketahui tengah menghadapi tekanan di sisi keuangan. Emiten bersandi KRAS ini tercatat memiliki beban utang sebesar US$1,7 miliar atau setara dengan Rp28,34 triliun. Nilai itu terdiri atas pokok utang senilai US$1,4 miliar beserta bunga US$338 juta.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menuturkan bahwa penyelamatan Krakatau Steel akan dilakukan dalam waktu dekat, mengingat adanya persoalan utang yang membayangi perseroan.

“Ada penyelesaian problematika di Krakatau Steel. Ini juga masalah, lihat bukunya dan ini punya problem juga,” pungkas Dony saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (29/9/2025).

Dalam perkembangan terbaru, Krakatau Steel rupanya telah meminta bantuan Danantara untuk menginjeksi modal US$500 juta atau sekitar Rp8,3 triliun. Bantuan ini nantinya berstatus pinjaman alias shareholder loan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Krakatau Steel, Daniel Fitzgerald Liman, mengungkapkan bahwa pengajuan bantuan modal telah dilakukan sejak Juni 2025 dan diharapkan dapat terealisasi sebelum akhir tahun.

“Harapan kami dana segar ini segera cair sebelum Desember 2025, sehingga pada tahun depan kami bisa meningkatkan produktivitas pabrik,” ujar Daniel dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (30/9/2025).

Direktur Utama Krakatau Steel, Muhamad Akbar Djohan, mengatakan bahwa dukungan modal kerja tersebut diperlukan untuk menyelamatkan operasional sekaligus memenuhi kebutuhan bahan baku yang krusial bagi keberlanjutan industri baja nasional.

“Yang kami butuhkan adalah penyediaan modal kerja oleh Danantara sebesar US$500 juta untuk penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku agar fasilitas produksi dapat berjalan efisien dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Selasa (30/9/2025).

Fokus pada Pengembangan Unit Produksi

Di sisi lain, perseroan tengah fokus memperkuat unit hot strip mill (HSM) dan cold rolling mill (CRM) agar menjadi lini bisnis yang efisien, kompetitif, dan menguntungkan.

Selanjutnya, KRAS turut mengembangkan bisnis infrastruktur dan hilirisasi produk baja melalui pengembangan kawasan industri beserta fasilitas penunjang, serta optimalisasi di lini hilir.

Tantangan dan Harapan Bersama

Penyelamatan Krakatau Steel merupakan langkah penting untuk menjaga stabilitas industri baja nasional. Dengan bantuan Danantara, perusahaan diharapkan dapat kembali pulih dan meningkatkan kinerja secara signifikan. Proses restrukturisasi ini juga menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

Dengan dukungan modal kerja sebesar US$500 juta, Krakatau Steel berharap dapat mempercepat peningkatan produktivitas pabrik dan memenuhi kebutuhan bahan baku yang sangat krusial. Dengan demikian, perusahaan akan mampu menjaga posisi sebagai salah satu produsen baja terbesar di Indonesia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan