
Pertumbuhan Kredit Perbankan pada September 2025
Pada bulan September 2025, penyaluran kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 7,70 persen secara tahunan (yoy), mencapai angka Rp8.163 triliun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas intermediasi mulai meningkat di tengah tren penurunan suku bunga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, kinerja intermediasi perbankan saat ini stabil dengan profil risiko yang terjaga dan aktivitas operasional yang tetap optimal dalam memberikan layanan keuangan bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit pada bulan tersebut mencapai 7,70 persen yoy.
Pertumbuhan Berdasarkan Jenis Penggunaan Kredit
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi menjadi yang tumbuh paling tinggi, yaitu sebesar 15,18 persen. Diikuti oleh kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 7,42 persen dan kredit modal kerja yang naik sebesar 3,37 persen. Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,53 persen, sedangkan kredit UMKM hanya naik sebesar 0,23 persen.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Selain kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada bulan September 2025, pertumbuhan DPK mencapai 11,81 persen yoy, sehingga totalnya mencapai Rp9.695 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK pada bulan Agustus yang hanya sebesar 8,51 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perbankan masih kuat.
Likuiditas Industri Perbankan Tetap Longgar
Likuiditas industri perbankan tetap longgar, dengan rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing berada di level 130,47 persen dan 29,30 persen. Angka ini jauh di atas ambang batas minimal masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Selain itu, liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 205,94 persen.
Kualitas Kredit yang Terjaga
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,24 persen dan NPL net 0,87 persen. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) tercatat sebesar 9,52 persen, yang menurun dari bulan sebelumnya.
Kekuatan Modal Perbankan
Permodalan perbankan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 26,15 persen. Angka ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi ketidakpastian global. βIni menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,β tambah Dian.
Tantangan bagi Sektor UMKM
Meskipun pertumbuhan kredit menunjukkan tren positif, tantangan bagi sektor UMKM masih besar mengingat pertumbuhan kreditnya mendekati stagnan. Oleh karena itu, penguatan kebijakan untuk mendorong akses pembiayaan pelaku usaha kecil perlu menjadi fokus lanjutan pemerintah dan otoritas keuangan.