
aiotrade
, JAKARTA Pertumbuhan kredit perbankan pada awal 2026 menunjukkan adanya peningkatan. Namun, tren ini belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan aktivitas sektor riil. Di balik ekspansi pembiayaan yang relatif stabil, masih terdapat dana kredit dalam jumlah besar yang belum dicairkan atau undisbursed loan.
Fenomena ini mencerminkan kehati-hatian dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi yang belum sepenuhnya mereda. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa nilai undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.536,40 triliun atau setara 22,86% dari total plafon kredit. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit per Februari 2026 tercatat sekitar 9% secara tahunan, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran 7%.
Secara nominal, kinerja kredit terlihat membaik. Namun, besarnya porsi kredit yang belum dicairkan menunjukkan bahwa sebagian pembiayaan masih berada pada tahap komitmen dan belum sepenuhnya digunakan untuk kegiatan ekonomi. Dengan kata lain, angka pertumbuhan kredit belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan aktivitas produksi, investasi, atau ekspansi usaha di lapangan.
Data yang dihimpun dari laporan keuangan menunjukkan tren peningkatan undisbursed loan di sejumlah bank besar. Bank Central Asia mencatat undisbursed loan sebesar Rp470,38 triliun per Februari 2026, meningkat 9,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp427,68 triliun. Kenaikan yang lebih tinggi terjadi pada Bank Mandiri yang mencatat undisbursed loan Rp303,66 triliun per Februari 2026, naik 17,84% secara tahunan dari Rp257,70 triliun. Sementara itu, Bank Negara Indonesia mencatat lonjakan paling signifikan, yakni sebesar 51,50% menjadi Rp87,30 triliun dari Rp57,62 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Bank CIMB Niaga mencatat undisbursed loan sebesar Rp116,17 triliun per Februari 2026, relatif stabil dibandingkan Rp109,80 triliun pada tahun sebelumnya. Adapun Bank Mega mencatat undisbursed loan sebesar Rp32,33 triliun per Februari 2026, meskipun data pembanding tahun sebelumnya tidak tersedia.
Fenomena serupa juga tercermin di sejumlah bank besar yang mencatat peningkatan nilai undisbursed loan secara tahunan. Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya jeda antara persetujuan kredit dan realisasi penarikan dana oleh debitur. Dalam praktiknya, fasilitas kredit yang telah disetujui tetap tercatat sebagai pipeline penyaluran, meskipun dana belum benar-benar digunakan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai kondisi tersebut mencerminkan ketidaksinkronan antara ekspansi kredit dan aktivitas sektor riil. Bank sudah menyetujui kredit, tetapi dunia usaha belum menariknya secara optimal. Faktor utamanya adalah ketidakpastian, baik global maupun domestik, yang membuat pelaku usaha menahan ekspansi, ujarnya.
Menurut dia, volatilitas nilai tukar, fluktuasi harga energi, hingga prospek permintaan yang belum solid menjadi faktor utama yang menahan realisasi kredit. Selain itu, karakteristik proyek investasi yang bersifat jangka menengah hingga panjang juga membuat pencairan kredit berlangsung bertahap dan sangat bergantung pada progres proyek.
Perlambatan pertumbuhan kredit dari sekitar 10,2% menjadi sekitar 8,9% secara tahunan turut memperkuat indikasi bahwa fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya efektif. Kredit yang telah disetujui belum segera dikonversi menjadi aktivitas ekonomi, sehingga stok undisbursed loan terus meningkat.
Ke depan, porsi kredit yang belum dicairkan diperkirakan masih berpotensi bertahan tinggi dalam jangka pendek apabila ketidakpastian belum mereda. Dunia usaha cenderung tetap berada dalam posisi menunggu perkembangan kondisi ekonomi sebelum merealisasikan investasi. Namun demikian, kondisi ini juga menyimpan potensi akselerasi. Ketika stabilitas makroekonomi mulai membaik, terutama dari sisi nilai tukar, suku bunga, dan permintaan domestik, pipeline kredit yang besar dapat dengan cepat dikonversi menjadi realisasi investasi.
Pipeline kredit sebenarnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kondisi ekonomi mendukung agar kredit tersebut benar-benar ditarik dan menjadi aktivitas ekonomi, ujarnya.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, melihat fenomena tingginya undisbursed loan juga dipengaruhi dinamika likuiditas di perbankan. Permintaan kredit dari sektor riil masih terbatas, sementara masyarakat dan korporasi cenderung menahan ekspansi. Ini yang membuat undisbursed loan tetap tinggi, kata Huda. Ia menambahkan, pelemahan indikator aktivitas seperti Purchasing Managers Index (PMI) yang turun mendekati ambang ekspansif menjadi sinyal bahwa dunia usaha masih berhati-hati. Dalam kondisi tersebut, kredit yang telah disetujui tidak langsung ditarik, melainkan menunggu kepastian permintaan.
Di sisi perbankan, kondisi ini direspons dengan pendekatan yang lebih berhati-hati. Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA Hera F. Haryn menyatakan bahwa pertumbuhan kredit tetap dijaga sejalan dengan kondisi ekonomi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. BCA terus menjaga penyaluran kredit yang berkualitas dan mengelola pembiayaan yang belum ditarik secara pruden, ujarnya.
Per Februari 2026, kredit BCA secara bank only tercatat mencapai Rp953 triliun dengan pertumbuhan yang tetap terjaga. Likuiditas yang memadai dinilai menjadi penopang bagi bank dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset.
Sementara itu, dari sisi praktik di lapangan, Direktur Wholesale Banking Madi Darmadi Lazuardi menjelaskan bahwa tingginya undisbursed loan juga tidak terlepas dari karakteristik pembiayaan proyek dan skema kredit. Banyak kredit diberikan untuk proyek yang masih berjalan, sehingga pencairannya bertahap sesuai progres. Selain itu, dalam pembiayaan sindikasi, limit yang disetujui tidak langsung seluruhnya dicairkan, ujarnya. Menurutnya, kondisi tersebut justru mencerminkan adanya potensi pertumbuhan kredit ke depan, mengingat fasilitas yang telah disiapkan dapat segera ditarik seiring berjalannya proyek.