Kredit UMKM Menurun di Akhir 2025, OJK Catat Kontraksi Pinjaman

admin.aiotrade 11 Des 2025 3 menit 23x dilihat
Kredit UMKM Menurun di Akhir 2025, OJK Catat Kontraksi Pinjaman

Pertumbuhan Kredit Perbankan di Oktober 2025

Pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Oktober 2025 tercatat melambat. Meskipun kinerja intermediasi perbankan meningkat, penyaluran pinjaman kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru mengalami kontraksi. Hal ini terjadi meskipun kondisi likuiditas di tingkat yang memadai serta profil risiko yang terjaga.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit mencapai 7,36 persen year-on-year (yoy) pada Oktober 2025, dengan total kredit mencapai Rp8.220,21 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada September 2025 yang mencapai 7,70 persen.

Kategori Penggunaan Kredit

Dari sisi penggunaan, kredit investasi tercatat tumbuh paling tinggi yaitu sebesar 15,72 persen. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 7,03 persen. Sementara itu, kredit modal kerja hanya mampu tumbuh sebesar 2,39 persen yoy.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Debitur

Secara kategori debitur, pertumbuhan kredit korporasi tercatat sebesar 11,02 persen. Namun, kredit UMKM justru terkontraksi sebesar 0,11 persen yoy. Hal ini menunjukkan bahwa sektor UMKM masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses kredit meskipun sektor lainnya mengalami pertumbuhan positif.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Sektor

Secara sektoral, pertumbuhan kredit sebesar 7,36 persen didominasi oleh sektor rumah tangga yang tumbuh 7,28 persen, industri pengolahan yang tumbuh 7,53 persen, serta pertambangan dan penggalian yang tumbuh cukup tinggi yaitu 14,58 persen.

Beberapa sektor lain juga mencatat pertumbuhan kredit double digit. Di antaranya adalah administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial yang tumbuh sebesar 36,79 persen. Selanjutnya, pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin tumbuh 26,40 persen; aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis 25,32 persen; serta aktivitas jasa lainnya 22,84 persen.

Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh tinggi sebesar 11,48 persen yoy menjadi Rp9.756,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya untuk menyimpan dana di perbankan.

Perkembangan Suku Bunga

BI-Rate tercatat tetap stabil setelah turun 125 basis poin (bps) sejak awal tahun. Penurunan ini diikuti oleh penurunan bertahap suku bunga perbankan. Rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun menjadi 9,01 persen pada Oktober 2025, menyusut 16 bps secara tahunan dan 5 bps secara bulanan.

Penurunan tertajam terlihat pada kredit modal kerja yang turun 42 bps (yoy) dan 16 bps (mtm) menjadi 8,30 persen. Sementara itu, suku bunga kredit investasi turun 39 bps (yoy) namun masih meningkat 7 bps (mtm) menjadi 8,32 persen pada Oktober 2025 dari 8,71 persen pada Oktober 2024 dan 8,25 persen pada September 2025.

Kesimpulan

Meskipun pertumbuhan kredit secara keseluruhan mengalami perlambatan, beberapa sektor seperti industri pengolahan, pertambangan, dan sektor administrasi pemerintah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hal ini menunjukkan adanya potensi pertumbuhan ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor usaha. Namun, sektor UMKM masih membutuhkan dukungan lebih besar agar dapat mengoptimalkan akses kredit dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan