Kripto hilang Rp 45,2 T sepanjang 2025, rekor kejahatan siber terbaru

admin.aiotrade 27 Des 2025 3 menit 23x dilihat
Kripto hilang Rp 45,2 T sepanjang 2025, rekor kejahatan siber terbaru

Krisis Keamanan Kripto: Pencurian Aset Mencapai Rekor Baru

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Data dari sejumlah perusahaan pemantau blockchain menunjukkan bahwa para penjahat siber berhasil mencuri aset kripto senilai 2,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 45,2 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menjadi rekor baru dalam sejarah kejahatan siber di industri kripto. Dalam beberapa tahun terakhir, aksi peretasan kembali menghantam berbagai bursa kripto, proyek web3, hingga layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Salah satu insiden peretasan terbesar pada tahun ini adalah pembobolan bursa kripto Bybit yang berbasis di Dubai. Dalam serangan tersebut, peretas berhasil membawa kabur sekitar 1,4 miliar dolar AS aset kripto. Perusahaan analisis blockchain bersama FBI menuduh kelompok peretas yang didukung pemerintah Korea Utara sebagai dalang di balik aksi ini. Kelompok ini dikenal sebagai salah satu aktor paling aktif dan sukses dalam membobol sistem kripto dalam beberapa tahun terakhir.

Skala peretasan Bybit bahkan disebut sebagai perampokan kripto terbesar sepanjang masa, sekaligus salah satu kejahatan finansial terbesar dalam sejarah manusia. Sebelumnya, rekor pencurian kripto hanya mencapai 624 juta dolar AS dan 611 juta dolar AS, masing-masing terjadi pada peretasan Ronin Network dan Poly Network pada 2022.

Perusahaan Pemantau Kripto Mengonfirmasi Angka Kerugian

TechCruch melaporkan bahwa perusahaan pemantau kripto Chainalysis dan TRM Labs sama-sama memperkirakan total kerugian akibat pencurian kripto sepanjang 2025 mencapai 2,7 miliar dolar AS. Chainalysis juga mencatat tambahan sekitar 700 ribu dolar AS yang dicuri langsung dari dompet kripto individu.

Estimasi serupa datang dari De.Fi, perusahaan keamanan web3 yang mengelola basis data REKT, sebuah database yang mendokumentasikan kasus pencurian kripto. Mereka mencatat total kerugian akibat peretasan dan pencurian kripto sepanjang tahun lalu juga mencapai 2,7 miliar dolar AS.

Kelompok Peretas Korea Utara Tetap Aktif

Seperti pola yang terus berulang, kelompok peretas Korea Utara kembali menjadi pemain paling sukses. Sepanjang 2025 saja, mereka disebut telah mencuri sedikitnya 2 miliar dolar AS aset kripto. Menurut Chainalysis dan Elliptic, sejak 2017 kelompok peretas yang diduga berada di bawah kendali Pyongyang ini telah menggasak sekitar 6 miliar dolar AS kripto. Dana tersebut diyakini digunakan untuk membiayai program senjata nuklir Korea Utara yang terkena sanksi internasional.

Insiden Peretasan Lainnya Tahun Ini

Selain Bybit, sejumlah peretasan besar lainnya juga terjadi tahun ini. Di antaranya serangan terhadap bursa terdesentralisasi Cetus yang menyebabkan kerugian sebesar 223 juta dolar AS. Lalu, peretasan protokol Balancer yang dibangun di atas blockchain Ethereum dengan kerugian mencapai 128 juta dolar AS. Sementara itu, bursa kripto Phemex juga tak luput dari serangan, dengan lebih dari 73 juta dolar AS aset kripto dicuri.

Tren Kejahatan Siber yang Terus Meningkat

Tren ini menunjukkan bahwa kejahatan siber di dunia kripto belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Sebagai perbandingan, total kripto yang dicuri mencapai 2,2 miliar dolar AS pada 2024. Setahun sebelumnya pada 2023, angkanya berada di kisaran 2 miliar dolar AS.

Keamanan Ekosistem Kripto Kembali Jadi Sorotan

Dengan nilai kerugian yang terus meningkat, keamanan ekosistem kripto kembali menjadi sorotan serius. Bagi industri yang menjanjikan sistem keuangan masa depan, ancaman peretasan kini menjadi tantangan nyata yang belum sepenuhnya teratasi. Perlu adanya inovasi dan pengembangan sistem keamanan yang lebih kuat agar bisa mengurangi risiko serangan yang semakin canggih.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan