Peran Jepang dalam Menghadapi Ancaman Energi Global
Krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menimbulkan ancaman besar bagi Jepang, negara yang sangat bergantung pada impor minyak mentah. Dalam kondisi normal, Jepang mengimpor sekitar 2,36 juta barel minyak mentah per hari, dengan sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz. Kini, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan semakin meningkat, terutama setelah munculnya ancaman dari Iran.
PM Jepang Menekankan Pentingnya Deeskalasi Konflik Timur Tengah
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, telah menyampaikan desakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk memastikan jalur aman bagi kapal-kapal global di Selat Hormuz. Pembicaraan telepon selama 25 menit ini dilakukan setelah adanya kesepakatan gencatan senjata bersyarat antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Takaichi menegaskan pentingnya keamanan navigasi dan deeskalasi konflik. Ia juga meminta akses segera bagi kapal-kapal dari semua negara, termasuk armada terkait Jepang.
"Selat Hormuz adalah jalur vital logistik global dan milik publik internasional," ujar Takaichi saat berbicara kepada wartawan. Di sisi lain, Jepang menyambut baik gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sebagai langkah positif. Takaichi berharap adanya kesepakatan diplomatik permanen untuk mengakhiri konflik.

Kapal Tanker Jepang Terjebak di Teluk Persia
Sebanyak 42 kapal tanker Jepang masih tertahan di Teluk Persia, menunggu jaminan keamanan lebih lanjut. Iran menyatakan akan menghentikan operasi militernya jika serangan terhadapnya dihentikan, serta membuka jalur terbatas di Selat Hormuz melalui koordinasi militer. Sejak konflik meningkat akibat serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, selat tersebut terblokir yang memicu gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak.
Meskipun mengecam blokade Iran, pemerintahan Takaichi tetap menjaga hubungan diplomatik Tokyo-Teheran, sambil berkoordinasi erat dengan sekutu keamanannya, Washington. Bahkan jika blokade dicabut segera, diperlukan sekitar 20 hari bagi kapal-kapal tanker tersebut untuk sampai ke pelabuhan Jepang. Dilaporkan, 3 kapal afiliasi Jepang telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat sejak 3 April 2026, termasuk kapal LPG Green Asha.

Lonjakan Harga Energi Global yang Membebani Fiskal Jepang
Para pejabat Jepang memperingatkan bahwa meskipun pertempuran berakhir, mereka khawatir Teheran dapat memberlakukan persyaratan baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, seperti biaya transit. Secara struktural, Jepang lebih siap dibanding krisis 1970-an. Minyak kini hanya menyumbang 7 persen dari pembangkit listrik, turun dari 60 persen. Negara ini juga memiliki cadangan lebih dari 200 hari. Namun, ketergantungan ini bergeser ke gas alam cair (LNG), yang menghasilkan sebagian besar listriknya.
Serangan Iran terhadap fasilitas LNG di Qatar pada Maret lalu memicu kekhawatiran baru. Mengingat harga kontrak LNG sering kali terkait dengan harga minyak, masyarakat Jepang bersiap menghadapi lonjukan tagihan listrik dan inflasi rumah tangga dalam waktu dekat.
Di tengah krisis, kebijakan fiskal pemerintah justru menuai kritik tajam. Bukannya membatasi konsumsi seperti negara Asia lainnya, Tokyo justru menggelontorkan subsidi besar untuk menekan harga bensin di angka 170 yen (sekitar Rp18.200) per liter. Program ini menelan biaya sekitar 500 miliar yen (Rp53,6 triliun) per bulan, yang dinilai membebani fiskal dan bertentangan dengan upaya penghematan energi.
