
Kondisi Kelangkaan Solar di Lampung Mengganggu Berbagai Sektor Ekonomi
Kondisi kelangkaan solar subsidi kembali terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Lampung dalam beberapa hari terakhir. Antrean panjang kendaraan, terutama truk dan mobil angkutan, sering kali terlihat di berbagai SPBU yang menjadi titik distribusi bahan bakar tersebut. Hal ini menyebabkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat, termasuk petani, nelayan, hingga para pengemudi angkutan.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, mengungkapkan bahwa masalah ini menjadi isu serius karena dampaknya langsung terhadap perekonomian daerah. Ia menekankan bahwa banyak alat pertanian membutuhkan solar untuk beroperasi, begitu juga dengan transportasi dan kegiatan nelayan. Bahkan, kebutuhan infrastruktur petani juga terhambat akibat keterbatasan pasokan solar.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Alat pertanian butuh solar, kendaraan butuh solar, nelayan tidak bisa melaut tanpa solar, sopir tidak bisa beraktivitas. Bahkan kebutuhan infrastruktur petani juga terhambat. Ini jelas mengganggu roda ekonomi daerah,” ujarnya saat diwawancarai.
Khoir menegaskan bahwa DPRD akan mempercepat upaya kolaborasi antarinstansi guna mencari solusi terbaik. Selain itu, ia menekankan pentingnya pengawasan distribusi solar agar pasokan tidak disalahgunakan. Menurutnya, selain menjalankan fungsi pengawasan, DPRD juga memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan keluhan masyarakat dan menyuarakan permasalahan mereka.
Menanggapi dugaan adanya penimbunan solar oleh oknum tertentu, Khoir memastikan bahwa DPRD akan menindaklanjuti informasi tersebut. Ia menegaskan bahwa jika terbukti ada pelaku penimbunan, pihak berwenang harus bertindak tegas. “Kita akan cari tahu apakah benar ada oknum yang melakukan penimbunan hingga menyebabkan ketersediaan solar berkurang. Kalau terbukti, tentu pihak berwenang harus bertindak tegas. Dan kami pastikan DPRD akan mengawasi itu,” tegasnya.
Peningkatan Konsumsi Solar yang Signifikan
Berdasarkan pantauan lapangan, antrean panjang kendaraan masih terjadi di SPBU Itera-Kota Baru yang berada di Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kelangkaan solar belum sepenuhnya terselesaikan.
Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengambil langkah untuk mengajukan penambahan kuota solar sebesar 9,06 persen dari jatah tahunan ke Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Lampung, Sopian Atiek, menjelaskan bahwa lonjakan konsumsi solar cukup signifikan dalam tiga bulan terakhir.
“Solar ini memang ada peningkatan di Lampung mulai Juli konsumsi meningkat 5.000 kiloliter (KL) dari kuota bulanan, Agustus bertambah lagi 9.000–10.000 KL, dan di September ini prediksi peningkatan minimal di angka 10.000 KL,” ujarnya.
Menurut Sopian, kenaikan kebutuhan solar dipicu oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor transportasi. Hasil pengecekan bersama Pertamina di delapan kabupaten menunjukkan bahwa beberapa SPBU memiliki kuota yang tidak mencukupi. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut terkait distribusi dan pengelolaan solar di wilayah tersebut.