Krisis TPA Cipeucang dan Solusi Kreatif Warga Tangerang Selatan
Krisis tempat pemrosesan akhir (TPA) di Kota Tangerang Selatan kini menjadi perhatian utama masyarakat setempat. Penutupan TPA Cipeucang pada 10 Desember lalu untuk penataan membuat sampah menumpuk di berbagai lokasi, termasuk di jalan-jalan umum dan area permukiman. Sampah yang sebelumnya diangkut ke TPA kini harus menunggu di tempat-tempat pengumpulan sementara, sehingga memicu masalah lingkungan dan kesehatan.
Di tengah situasi ini, warga RT 05 dan 06 RW 11 Perumahan Bukit Nusa Indah, Ciputat, mengambil inisiatif dengan membuat solusi alternatif. Mereka menggalang kerja sama untuk membangun lubang biopori sebagai cara mengelola sampah organik rumah tangga. Lubang biopori ini bertujuan untuk menyerap air hujan sekaligus mempercepat proses penguraian sampah organik.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pramono Subekti, salah satu ketua RT, menjelaskan bahwa pembuatan lubang biopori sudah direncanakan sejak lama. Namun, rencana tersebut lebih mudah direalisasikan saat krisis TPA Cipeucang terjadi. “Target kami adalah membuat hingga 300 lubang biopori dengan kedalaman satu meter,” ujarnya pada Kamis, 18 Desember 2025. Ia menambahkan bahwa pembuatan biopori akan dilakukan secara bertahap dan swadaya masyarakat.
Selain itu, untuk mengelola sampah non-organik, Pramono bersama warga lainnya berencana membentuk bank sampah. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah dan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari sampah yang bisa dipilah dan dijual. “Jangan hanya bergantung pada Pemerintah Tangsel, kita juga harus bergerak. Dalam hal ini, kita perlu meminimalisir sampah yang ada,” tambahnya.

Tumpukan sampah di jalan Dewi Sartika, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, 17 Desember 2025. Sampah yang menumpuk di pinggir jalan tersebut disebabkan adanya penataan gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Tempo/Amston Probel
Salah seorang warga lainnya, Zulkifli, mendukung inisiatif tersebut. Meskipun demikian, ia tetap menekankan pentingnya pemerintah mencari solusi terbaik untuk mengatasi krisis TPA. Ia mengajak seluruh warga Kota Tangerang Selatan untuk melakukan tindakan serupa, yaitu mengolah sampah dari rumah.
“Kita bisa lakukan secara pribadi, rumah ke rumah, membuat biopori untuk mengolah sampah organik di rumah,” katanya. Dengan langkah-langkah seperti ini, masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam mengatasi masalah sampah yang semakin mengkhawatirkan.
Langkah-Langkah Mengatasi Masalah Sampah
-
Membuat Lubang Biopori
Lubang biopori merupakan solusi efektif untuk mengelola sampah organik. Dengan kedalaman satu meter, biopori membantu menyerap air dan mempercepat proses penguraian sampah. -
Membentuk Bank Sampah
Bank sampah dapat menjadi alternatif untuk mengurangi jumlah sampah yang tidak bisa didaur ulang. Sampah yang terpilah bisa dijual dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. -
Mengajak Partisipasi Masyarakat
Setiap individu dapat berkontribusi dengan mengolah sampah di rumah. Hal ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengurangi dampak lingkungan. -
Menyosialisasikan Pengelolaan Sampah
Edukasi tentang pengelolaan sampah sangat penting agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan kombinasi langkah-langkah di atas, diharapkan masyarakat Tangerang Selatan dapat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah. Solusi-solusi kreatif seperti biopori dan bank sampah menjadi bukti bahwa masyarakat siap berperan dalam menghadapi krisis lingkungan.