Kritik Pembangunan Gudang Bulog Dihormati, BUMN Karya Jadi Prioritas

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 18x dilihat
Kritik Pembangunan Gudang Bulog Dihormati, BUMN Karya Jadi Prioritas


aiotrade, JAKARTA — Sejumlah pengamat menyoroti rencana Perum Bulog dalam membangun 100 gudang penyimpanan beras dan jagung yang hanya melibatkan BUMN Karya. Rencana pembangunan ini akan dimulai pada Januari 2026 dan ditargetkan selesai pada tahun depan. Setiap gudang memiliki kapasitas beragam, antara 1.000 hingga 7.000 ton, tergantung dari luas sawah setiap daerah.

Pendekatan Finansial yang Dianjurkan

Eliza Mardian, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, menilai bahwa pembangunan gudang Bulog sebaiknya menggunakan skema pembiayaan campuran atau blended financing. Hal ini dilakukan agar tidak terlalu memberatkan APBN.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Jangan sampai 100% anggaran berasal dari APBN yang melibatkan BUMN Karya. Lebih baik mengajak koperasi atau pelaku usaha,” ujarnya. Ia menyarankan agar program andalan pemerintah dapat dikonvergensikan agar tidak saling terpisah.

Contoh yang disampaikan oleh Eliza adalah Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih. KopDes ini awalnya bertujuan untuk menyerap hasil panen petani dan mengolah gabah menjadi beras. “Nah, itu pasti butuh gudang. Jadi, sebaiknya dorong KopDes ini bekerja sama dengan Bulog untuk mengelola gudangnya,” tambahnya.

Selain itu, Eliza menjelaskan bahwa pendanaan KopDes/Kel Merah Putih tidak seluruhnya berasal dari pinjaman Himbara, tetapi juga ada sumber dana lain. Menurutnya, jika KopDes/Kel Merah Putih menggandeng swasta lokal, maka Bulog juga bisa menyewa gudang kepada swasta asalkan sesuai standar operasional prosedur (SOP) Bulog.

Efisiensi Anggaran dan Transparansi

Eliza menilai bahwa efisiensi anggaran akan tercapai jika ada transparansi. Untuk itu, ia menekankan pentingnya transparansi dan pengawasan pembangunan gudang. Masyarakat juga diharapkan dapat turut serta mengawasi jalannya pembangunan tersebut.

Ia juga menyebutkan bahwa anggaran Rp5 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan gudang Bulog belum sepenuhnya terealisasi. “Keliru jika berasumsi setiap gudang jatahnya Rp50 miliar karena Rp5 triliun dibagi 100 gudang,” jelasnya.

Biaya pembangunan gudang di setiap daerah akan berbeda. Di Pulau Jawa, lahan yang relatif mahal bisa mencapai lebih dari Rp50 miliar. Sementara gudang di daerah non-sentra produksi yang tidak memiliki RMU atau dryer bisa jadi kurang dari Rp50 miliar. “Ini akan ada subsidi silang antargudang, tidak bisa disamaratakan,” imbuhnya.

Prioritas Pembangunan Gudang

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan bahwa pembangunan gudang akan diprioritaskan di kabupaten dan kota yang belum memiliki gudang. Tujuannya adalah untuk mengefisienkan dan mengefektifkan sehingga gudang lebih dekat dan biaya menjadi lebih murah.

Bulog juga akan memprioritaskan pembangunan gudang di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti Nias Selatan dan Morotai. Alasannya, karena kondisi cuaca sering mengganggu perjalanan kapal ke daerah tersebut.

“Kalau musim pasang air tinggi atau musim barat, kapal nggak bisa berlayar ke sana. Jadi, perlu mengandalkan gudang tersebut. Nah, ini prioritasnya,” ujarnya.

Namun, Rizal menegaskan bahwa tidak semua gudang dilengkapi dengan mesin penggiling padi (RMU) maupun dryer. Hanya gudang saja. Untuk daerah yang tidak sentra produksi pangan, Bulog hanya akan membangun gudang.

Sinkronisasi Data dan Pemilihan Mitra

Ke depan, Bulog akan melakukan sinkronisasi data dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui daerah mana yang menjadi sentra produksi, infrastruktur, SDM, hingga teknologi.

Adapun, Bulog akan memprioritaskan BUMN Karya untuk membangun 100 gudang Bulog. Namun, hingga saat ini Bulog belum memutuskan siapa BUMN Karya yang akan membangun gudang tersebut.

Meski begitu, Bulog menargetkan 100 gudang tersebut akan rampung pada tahun ini. “Kita penginnya sih 100 [gudang] itu setahun jadi. Tapi kan kita nggak tahu, kaitannya masalah material, alam, cuaca, dan sebagainya itu kan kami tidak bisa prediksikan,” tutupnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan