Kritik Romo Kopong pada Danrem Kupang dan Upaya Menyembunyikan Ayah Prada Lucky Namo

admin.aiotrade 07 Nov 2025 5 menit 25x dilihat
Kritik Romo Kopong pada Danrem Kupang dan Upaya Menyembunyikan Ayah Prada Lucky Namo
Kritik Romo Kopong pada Danrem Kupang dan Upaya Menyembunyikan Ayah Prada Lucky Namo

Pelda Chrestian Namo Diperiksa karena Laporan Pelanggaran Disiplin

Dalam proses hukum terkait kematian anaknya, Prada Lucky Namo, Pelda Chrestian Namo kini harus berurusan dengan Denpom Kupang. Hal ini dilakukan setelah adanya laporan dari Kodim 1627 bahwa ia memiliki istri lain dan telah memiliki dua orang anak.

Dandrem 161 Wirasakti Kupang, Brigjen Hendro Cahyono, menyatakan bahwa berdasarkan laporan tersebut, Pelda Chrestian wajib diperiksa meskipun sedang berjuang mencari keadilan bagi anaknya. Namun, tindakan Dandrem ini menuai protes dari berbagai pihak, termasuk biarawan Katolik Romo Yohanes Kopong Tuan, MSF.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Romo Kopong, pendisiplinan ayah Lucky di saat seperti ini adalah bentuk kriminalisasi dan upaya pembungkaman kebenaran serta keadilan. Ia menegaskan bahwa siapa pun tidak berhak mengambil nyawa sesama manusia, dan kekuasaan apa pun tidak memiliki kewenangan untuk menghabisi nyawa orang lain.

Perasaan Orang Tua yang Sedih dan Marah

Setiap orang pasti akan terpukul dan sedih ketika anak kesayangan mereka meninggal dunia, baik karena kecelakaan, sakit, atau mungkin bunuh diri. Bahkan, rasa sedih dan dukacita bisa dirasakan oleh seseorang yang tidak mengenal korban sama sekali. Apalagi jika anak itu dirawat sejak dalam kandungan dengan penuh kasih dan cinta, lalu meninggal dunia di tangan para seniornya karena kekerasan.

Ibu dari Prada Lucky menyampaikan perasaannya dengan jelas: "Jika Lucky meninggal dunia karena tugas di medan perang itu adalah kebanggaan, karena itu memang tugas Lucky sebagai anggota TNI AD. Tapi meninggal karena kekejamannya sesama anggota TNI AD sendiri, siapapun tidak akan menerimanya."

Kami yang bukan saudara dan keluarga Prada Lucky bisa dan sangat memahami perasaan kedua orang tua dan keluarga besar yang sangat sakit dan menderita karena kepergian anak mereka bukan karena menjalankan tugas sebagai abdi negara, namun dianiaya hingga merenggut nyawa Prada Lucky dengan cara yang sangat keji, kejam, dan tidak berprikemanusiaan.

Tindakan yang Tidak Berprikemanusiaan

Demi memuaskan hasrat dan nafsu para senior, Prada Lucky dan Richard harus menjadi korban dengan memaksa mereka melakukan hubungan seks, mengolesi kemaluan dan anus mereka dengan lombok. Dari sini saja, kami semua merasa bahwa tindakan para senior ini adalah tindakan kejam dan keji. Menuduh Prada Lucky dan Richard mereka LGBT, tetap mereka sendiri adalah LGBT, merasa puas dengan melihat orang lain berhubungan sesama jenis.

Maka bisa dipahami ketika suara keras sang ayah dan ibu dari Prada Lucky meminta keadilan. Secara psikologis, siapapun orang tua yang anaknya mengalami kematian dengan cara penyiksaan yang keji pasti marah dan tidak mampu mengendalikan emosi sehingga setiap kata dan bahasa yang keluar tidak bisa dikontrol, ketika mendengar kesaksian para saksi yang berbeli-belit penuh kebohongan serta hukuman yang tidak setimpal dengan rasa keadilan dan kemanusiaan bagi Prada Lucky dan keluarga.

Kritik terhadap Hukuman yang Tidak Setimpal

Sebagai seorang masyarakat biasa, yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan Prada Lucky, saya sendiri saja emosi dan marah serta prihatin ketika mendengar hukuman menurut KUHP Militer bagi pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematian Prada Lucky maksimal 9 tahun. Bagaimana reformasi ditubuh TNI bisa berjalan kalau hukuman bagi pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematian hanya dipecat dan dihukum 9 tahun? Kok hukuman seorang pencuri ayam lebih berat dari pelaku pembunuhan?

Coba bapak pada posisi seperti ini. Pasti mengalami situasi yang sama dirasakan oleh orang tua Prada Lucky. Ditengah usaha pencarian keadilan dan kebenaran yang bagi saya pribadi sangat tidak manusiawi karena hukuman yang tidak setimpal dengan perbuatan para terdakwa, Bapak sebagai pimpinan dari ayah Prada Lucky seharusnya memanggil, menenangkan dan menasehati serta mendengarkan jeritan dan tangisan hati ayah dan ibu Prada Lucky dan bukannya mengumbar soal pelanggaran disiplin terhadap ayah Prada Lucky.

Persoalan Status Perkawinan yang Tidak Disampaikan Sejak Awal

Ketika seorang ayah dan ibu berteriak meminta keadilan dan kebenaran bagi anak mereka dan karena itu “terpeleset” dalam bertutur kata lantas dinilai melanggar aturan disiplin militer lalu bagaimana dengan sikap bapak terhadap para terdakwa dan KUHP Militer yang hanya menghukum para terdakwa maksimal penjara 9 tahun dan dipecat. Apakah itu sudah adil dan benar? Sejatinya bapak lebih bijak dalam melihat kondisi psikologis orang tua Prada Lucky saat ini, bukan menambah duka dan penderitaan bagi mereka dengan mengatakan ayah Prada Lucky melanggar disiplin militer.

Dan ketika bapak mendapat laporan bahwa Ayah Prada Lucky melanggar disiplin militer terkait status perkawinan kedua orang tuanya, seharusnya bapak sebagai pimpinan memanggil ayah Prada Lucky dan menanyakan kebenarannya. Sudah sekian belas tahun mereka hidup bersama sebagai pasangan suami istri persoalan ini tidak pernah diungkit, tapi ketika suara keras sang ayah berteriak atas nama keadilan dan kebenaran bagi anak mereka, baru ribut soal pelanggaran disiplin militer.

Bukankah ini sebuah bentuk kriminalisasi? Bentuk pembungkaman agar mereka tidak bersuara atas nama keadilan dan kebenaran. Jika status perkawinan mereka bermasalah, kenapa tidak diurus sejak dulu? Mengapa mendiamkan dan baru disuarakan ketika ayah Prada Lucky terus berteriak menyuarakan keadilan dan kebenaran bagi anak mereka: Alm. Prada Lucky?

Pandangan Romo Kopong

Secara pribadi, saya melihat hal ini sebagai bentuk kriminalisasi dan pembungkaman terhadap usaha pencarian keadilan dan kebenaran bagi Prada Lucky. Jika pak Danrem bijak, maka jadilah pimpinan, bapak yang mendinginkan suasana dan bukannya semakin menambah luka dan duka bagi orang tua dan keluarga Prada Lucky.

Seorang pemimpin itu ketika mengetahui atau mendengar persoalan yang menimpah anak (anggotanya) maka dia akan memanggil dan berbicara dari hati ke hati dan bukan mengumbar di depan media. "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali" (Mat 18:15). Atau dengan segala kemampuan bapak Danrem, bapak bisa lebih bijaksana untuk menasehati (bdk. Rom 15:14).

Laporan Terkait Pelanggaran Disiplin

Sebagaimana diketahui, Ayah korban Prada Lucky Namo, Pelda Chrestian Namo dilaporkan Kodim 1627/Rote Ndao tempatnya bertugas dalam dugaan pelanggaran disiplin yang ke Denpom IX/1 Kupang pada Rabu 5 Nopember 2025.

"Saya sudah menerima laporan dari Dandim 1627/Rote Ndao bahwa Pelda Chrestian Namo telah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tata kehidupan seorang prajurit. Yang bersangkutan diketahui telah hidup bersama dengan seorang wanita tanpa ikatan pernikahan yang sah, baik secara kedinasan maupun agama, sejak tahun 2018 hingga saat ini, dan telah memiliki dua orang anak," ungkap Danrem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Hendro Cahyono.

Menurutnya langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab komando dalam menegakkan aturan serta menjaga marwah dan kehormatan institusi TNI Angkatan Darat.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan