
aiotrade, JAKARTA – Industri tekstil dan garmen di Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat meskipun menghadapi tantangan global. Hal ini disampaikan oleh Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI) dalam berbagai pertemuan dengan pihak terkait.
Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menyatakan bahwa tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di sektor ini. Bahkan, beberapa perusahaan justru memperluas kapasitas produksi dan membuka pabrik baru. Pernyataan ini disampaikan setelah AGTI melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Jakarta, pada Kamis (6/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Tidak ada PHK. Justru banyak perusahaan yang menambah kapasitas produksi, merekrut tenaga kerja baru, bahkan membuka pabrik baru. Ini menunjukkan bahwa industri tekstil dan garmen Indonesia tetap tumbuh dan berkembang,” ujar Anne melalui rilisnya, Jumat (7/11/2025).
Dalam pertemuan tersebut, AGTI dan Kemenaker membahas beberapa langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri tekstil dan garmen. Beberapa fokus utama termasuk peningkatan kompetensi tenaga kerja serta penyederhanaan regulasi lintas kementerian.
AGTI juga menyatakan siap mendukung program-program Kemenaker, terutama melalui pelaksanaan magang industri dan penyusunan kurikulum berbasis kompetensi. Menurut Anne, program magang dari Kemenaker memiliki kuota hingga 15 persen dari total karyawan di setiap perusahaan. Ini menjadi peluang besar untuk menciptakan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri.
Selain itu, AGTI dan Kemenaker sepakat menyusun kurikulum berstandar kompetensi nasional secara kolaboratif antara dunia industri, akademisi, dan pemerintah. Kurikulum ini diharapkan mampu melahirkan tenaga kerja yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki daya saing tinggi di pasar global.
AGTI juga mendorong pembentukan Productivity Center di beberapa Balai Latihan Kerja (BLK) seperti di Serang, Bekasi, Solo, Bandung, dan Semarang. Fasilitas ini akan fokus pada peningkatan keterampilan dan efisiensi tenaga kerja di sektor tekstil dan garmen.
Selain fokus pada pengembangan sumber daya manusia, AGTI juga mengusulkan penyederhanaan proses perizinan dan pemangkasan biaya regulasi yang terkait dengan Kemenaker, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Anne menegaskan bahwa langkah-langkah ini diperlukan untuk memperkuat ekosistem industri tekstil dan produk tekstil (TPT) agar lebih efisien dan kompetitif, terutama di tengah implementasi berbagai perjanjian dagang internasional.
“Dalam rangka meningkatkan daya saing seiring dengan berbagai perjanjian dagang multilateral dan bilateral yang sudah atau akan efektif, seperti EU–Indonesia FTA dan Indonesia–Canada CEPA, kami sangat optimistis terhadap masa depan industri ini,” tambah Anne.