
Kembali Ditutup, Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Selat Hormuz kembali menjadi perhatian global setelah Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran komersial di wilayah tersebut dalam waktu kurang dari 24 jam. Penutupan ini terjadi akibat ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS), dengan alasan bahwa AS tidak memenuhi kesepakatan yang ada serta masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz
Ketegangan mencapai titik puncak setelah laporan adanya penembakan terhadap sebuah kapal tanker oleh kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa dua kapal cepat IRGC menembak kapal tanker yang sedang melintasi Selat Hormuz. Meskipun kapal dan awak dalam kondisi aman, belum ada informasi lebih lanjut mengenai identitas kapal maupun tujuan pelayarannya.
Sebelumnya, pada Jumat (17/6/2026), Iran sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz dibuka untuk kapal-kapal dagang selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Namun, dalam waktu singkat muncul kebingungan di lapangan terkait status pembukaan tersebut, termasuk mengenai syarat pelintasan yang harus dipenuhi kapal. Akhirnya, media pemerintah Iran pada Sabtu kemudian menyampaikan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup.
Penutupan Dilakukan karena Kesepakatan Tidak Dipenuhi
Iran menilai bahwa AS tidak menjalankan kewajiban dalam kesepakatan yang ada, sekaligus menuding Washington masih memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui media penyiaran negara, Iran menyebut bahwa sebelumnya telah memberikan izin pelayaran terbatas di Selat Hormuz sesuai kesepakatan yang berlaku.
"Amerika Serikat tidak memenuhi kewajibannya. Maka Selat Hormuz kini kembali ditutup dan setiap pelintasan harus mendapat persetujuan Iran," demikian dalam pernyataan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ebrahim Zolfaghari juga menyatakan bahwa kendali atas Selat Hormuz kembali berada di bawah pengawasan penuh militer Iran. "Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya ... di bawah pengelolaan dan kontrol ketat angkatan bersenjata," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan terus membatasi pelayaran selama blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat masih berlangsung.
Pernyataan Donald Trump di Washington
Di Washington, Presiden Donald Trump menyebut bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan baik dan ia memperkirakan akan memperoleh informasi lebih lanjut dalam waktu dekat. "Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat baik," ujar Trump.
Dalam kesempatan yang sama, ia menolak menjawab pertanyaan wartawan terkait Iran, namun menegaskan bahwa komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung. Trump juga menyebut Iran sedikit bertindak berlebihan dan menyinggung kembali upaya penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. "Mereka tidak bisa memeras kami," katanya.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan kemungkinan tidak akan memperpanjang gencatan senjata yang sedang berjalan, dengan alasan blokade tetap diberlakukan. Ia bahkan membuka opsi eskalasi militer jika diperlukan.
Status Selat Hormuz yang Strategis
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia, sehingga penutupan atau pembatasan akses di sana memiliki dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global. Kini, situasi pelayaran di Selat Hormuz berubah lagi, tak sampai 24 jam Iran kembali umumkan penutupan jalur pelayaran komersial tersebut.
Dengan penutupan ini, Iran mengklaim bahwa mereka memiliki kendali militer penuh atas Selat Hormuz dan melarang kapal lewat tanpa izinnya. Hal ini semakin memperburuk hubungan antara Iran dan AS, yang sudah sejak lama berada dalam siklus konflik dan diplomasi yang sulit.