Evaluasi Kinerja PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) Diperlukan
Anggota Komisi B, Dwi Rio Sambodo, menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran manajemen dan direksi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA). Hal ini dilakukan mengingat perusahaan plat merah tersebut mencatat penurunan laba bersih hingga 41,6 persen pada kuartal III 2025. Penurunan ini menjadi indikasi bahwa strategi dan pengelolaan operasional perusahaan memerlukan peninjauan lebih mendalam.
Rio menekankan pentingnya audit kinerja secara komprehensif untuk memastikan bahwa pengelolaan dan strategi bisnis berjalan efektif. Menurutnya, Ancol merupakan salah satu tempat rekreasi terbesar di DKI Jakarta yang banyak diminati masyarakat, sehingga diperlukan pengawasan yang ketat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Transparansi dan Profesionalisme Dibutuhkan
Kinerja direksi dan manajemen PJAA memiliki tanggung jawab besar terhadap strategi bisnis dan pengelolaan operasional. Hal ini berdampak langsung pada kinerja keuangan perusahaan daerah. Oleh karena itu, transparansi dan profesionalisme di tubuh manajemen Ancol menjadi hal penting. Dengan demikian, ada peluang peningkatan mutu pelayanan publik.
Pelayanan yang baik akan berdampak pada kepercayaan publik dan peningkatan kinerja keuangan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) itu sendiri, ujar Rio.

Penurunan Laba Bersih Sebesar 41,6 Persen
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp58,6 miliar hingga kuartal III 2025. Terjadi penurunan 41,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024, yaitu sebesar Rp100,5 miliar. Penurunan laba ini disebabkan oleh kemerosotan pendapatan hingga 9,4 persen, dari Rp881,4 miliar menjadi Rp798,5 miliar.
Meski beban pokok pendapatan turun sebesar Rp22,3 miliar, beban langsung meningkat menjadi Rp417,6 miliar. Laba kotor ikut menyusut menjadi Rp358,4 miliar dari Rp438,3 miliar.

Penurunan Aset PJAA
Selain itu, beban administrasi dan penjualan meningkat. Hal ini mendorong penurunan laba usaha menjadi Rp164,2 miliar, dari Rp238,3 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, rugi bersih investasi ventura bersama naik menjadi Rp437 miliar. Laba sebelum pajak turun menjadi Rp87,9 miliar, dari Rp143,4 miliar.
Total aset PJAA hingga kuartal III 2025 tercatat sebesar Rp3,43 triliun. Kondisi ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai Rp3,59 triliun.
