
Kinerja Keuangan Astra pada Tahun 2025
PT Astra International Tbk (ASII) berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 32,76 triliun selama tahun lalu. Angka ini mengalami penurunan sebesar 3,36% dibandingkan dengan laba bersih pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 33,9 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal seperti melemahnya harga batu bara dan lesunya pasar mobil baru.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa meskipun ada penurunan, kinerja bisnis Grup tetap menunjukkan ketahanan. Hal ini didukung oleh kontribusi positif dari berbagai bisnis lainnya. Dalam pernyataannya, dia menyampaikan bahwa perseroan optimis dengan membaiknya sentimen konsumen, meskipun kondisi operasional di beberapa lini usaha masih menantang.
Astra tetap fokus pada keunggulan operasional dan disiplin dalam alokasi modal. Perseroan memanfaatkan neraca yang kuat untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemanggu kepentingan. Berdasarkan laporan keuangan hingga periode 31 Desember 2025, pendapatan bersih ASII turun sebesar 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun dari Rp 328,48 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).
Penurunan ini terutama berasal dari pengurangan kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta penjualan mobil baru. Namun, kinerja ini sebagian diimbangi oleh pertumbuhan pada bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan sepeda motor.
Rincian Laba Bersih ASII pada 2025
Laba bersih ASII pada 2025 berasal dari berbagai divisi, antara lain: * Divisi otomotif dan mobilitas: Rp 11,36 triliun * Jasa keuangan: Rp 8,95 triliun * Alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi: Rp 9,09 triliun * Infrastruktur: Rp 1,25 triliun * Agribisnis: Rp 1,17 triliun * Properti: Rp 719 miliar * Teknologi informasi: Rp 208 miliar
Nilai aset bersih per saham meningkat sebesar 8% menjadi Rp 5.692. Sementara itu, kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan mencapai Rp 7,2 triliun, turun dari Rp 8 triliun pada 2024. Adapun utang bersih anak usaha jasa keuangan naik menjadi Rp 64,9 triliun dari sebelumnya Rp 60,2 triliun.
Program Pembelian Kembali Saham dan Akuisisi
Pada awal 2026, Astra telah menyelesaikan program pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp 2 triliun. Perseroan kemudian melanjutkan buyback tahap kedua yang selesai pada 25 Februari 2026 dengan nilai Rp 685 miliar. Manajemen menyebut langkah ini mencerminkan keyakinan terhadap prospek bisnis dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan, sekaligus mendukung stabilitas pasar modal.
Selain itu, Astra menyelesaikan akuisisi 100% PT Arafura Surya Alam, sebuah perusahaan tambang emas yang berlokasi di Sulawesi Utara pada Februari 2026. Langkah ini menunjukkan komitmen Astra dalam memperluas portofolio bisnis dan memperkuat posisi di sektor pertambangan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar