
aiotrade.CO.ID-JAKARTA.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 15,12 triliun hingga September 2025. Angka ini mengalami penurunan sebesar 7,32% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp 16,43 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan BNI, penurunan laba disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 0,6% menjadi Rp 29,25 triliun pada periode Januari-September 2025. Penurunan ini terjadi seiring dengan kenaikan beban bunga sebesar 13% secara tahunan menjadi Rp 21,19 triliun per kuartal III-2025. Meskipun demikian, pendapatan bunga BNI masih meningkat 4,8% menjadi Rp 51,1 triliun per September 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pendapatan bunga bersih BNI untuk kuartal III-2025 saja mencapai Rp 9,73 triliun, tumbuh 0,6% secara kuartalan. Selain itu, biaya provisi juga mengalami kenaikan sebesar 13,6% menjadi Rp 6,12 triliun. Sementara itu, pendapatan nonbunga naik 2,5% secara tahunan menjadi Rp 17,2 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan bahwa strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap tangguh dalam menghadapi volatilitas sekaligus menjaga keseimbangan pertumbuhan di seluruh segmen bisnis.
"Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Jumat (24/10/2025).
BNI mencatat rasio permodalan yang solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Kualitas aset pun tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%, mencerminkan keberhasilan BNI menjaga kualitas aset melalui penerapan manajemen risiko yang kuat dan strategi ekspansi bisnis yang sehat dan prudent.
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, hingga akhir September 2025, total penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5% (YoY) menjadi Rp 812,2 triliun. Pertumbuhan tersebut tercatat merata di seluruh segmen bisnis, mencerminkan portofolio kredit yang semakin sehat dan berimbang.
"Pertumbuhan kredit BNI kini lebih seimbang di seluruh segmen, baik korporasi, menengah, maupun UMKM. Hal ini menunjukkan efektivitas strategi pembiayaan kami dalam menjaga kualitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan sektor produktif," ujar Paolo.
Kredit korporasi naik 12,4% YoY menjadi Rp 450,7 triliun, ditopang peningkatan pembiayaan kepada korporasi swasta, BUMN, dan institusi. Sementara itu, kredit segmen menengah tumbuh 14,3% YoY, dan kredit UMKM non-KUR meningkat 13,9% YoY menjadi Rp46,3 triliun, menandakan komitmen BNI dalam memperkuat sektor riil dan mendorong kemandirian ekonomi nasional.
Segmen konsumer juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 9,6% YoY menjadi Rp 150,2 triliun, ditopang pembiayaan KPR, personal loan, dan kartu kredit. Sinergi dengan anak perusahaan turut memperkuat ekosistem bisnis BNI, tercermin dari pertumbuhan kredit usaha di level grup yang naik 15,3% YoY menjadi Rp 17,4 triliun.
BBNI Chart
by TradingView
Guna menjaga kualitas aset dan profil risiko bank tetap sehat, perseroan terus memperkuat ketahanan keuangannya melalui pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang solid dan disiplin. Hingga akhir kuartal III 2025, CKPN BNI tercatat sebesar Rp 34,7 triliun, dengan rasio cakupan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai 222,7%. Penguatan cadangan yang dilakukan secara selektif ini menegaskan komitmen BNI dalam mengantisipasi potensi risiko kredit serta menjaga ketahanan keuangan yang berkelanjutan.
"Kami terus memperkuat kualitas portofolio kredit dan menerapkan risk-based provisioning untuk memastikan ketahanan jangka panjang," tambah Paolo.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) melonjak 21,4 % secara tahunan menjadi Rp 934,3 triliun, didukung oleh penempatan dana SAL pemerintah sebesar Rp 55 triliun di BNI. Deposito meningkat 40,4 % menjadi Rp 320,9 triliun. Namun, dana murah juga masih tumbuh 13,3% menjadi Rp 613,3 triliun.