
Kinerja Finansial PT Betonjaya Manunggal Tbk. pada Kuartal III/2025
\nPT Betonjaya Manunggal Tbk. (BTON), produsen besi beton, mencatatkan penurunan kinerja penjualan hingga kuartal III/2025. Meski demikian, laba bersih perseroan mengalami kenaikan, yang dipengaruhi oleh faktor pergerakan kurs.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur Betonjaya Manunggal, Andy Soesanto, menyampaikan bahwa perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp87,7 miliar hingga 30 September 2025, turun 9,87% dibandingkan pada periode yang sama pada tahun 2024 atau YoY sebesar Rp97,3 miliar. Meskipun penjualan menurun, laba bersih BTON justru meningkat menjadi sebesar Rp15,9 miliar hingga kuartal III/2025, apabila dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 YoY sebesar Rp12,1 miliar. Andy menjelaskan kenaikan laba bersih banyak disebabkan oleh faktor nilai tukar yang memberikan keuntungan selisih kurs.
\n“Penjualan dan laba kotor mengalami tekanan, tetapi laba bersih naik karena adanya pengaruh kurs,” ujar Andy, Jumat (7/11/2025).
\nPerubahan Komposisi Penjualan Produk
\nDari sisi komposisi produk, Andy memaparkan hingga September 2025, penjualan besi beton sebagai kontributor utama tercatat menurun, dari Rp52,44 miliar pada 2024 menjadi Rp45,42 miliar. Produk waste plate juga mengalami penurunan signifikan, dari Rp35,12 miliar tahun lalu menjadi Rp21,19 miliar.
\nSebaliknya, segmen missroll dan lainnya meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp9,74 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp21,10 miliar, dengan volume penjualan naik dari 1.851 ton menjadi 4.158 ton.
\n"Perseroan menargetkan penjualan 2025 sebesar Rp135 miliar, dengan margin laba bersih 3% hingga 5%. Realisasi hingga September 2025 baru mencapai 65% dari target, dengan laba bersih justru mencapai 18,13% dari penjualan," jelasnya.
\nTantangan Pasokan dan Regulasi
\nAndy menambahkan, perseroan masih menghadapi keterbatasan pasokan bahan baku karena ketergantungan pada waste plate dari perusahaan afiliasi, PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST). Selain itu, isu regulasi terkait impor bahan baku scrap (besi tua) juga menekan industri baja nasional.
\n“Pemerintah memperketat impor skrap karena isu radioaktivitas. Padahal 80%–90% industri besi beton di Indonesia mengandalkan skrap untuk peleburan,” tambahnya.
\nSelain itu, dirinya juga menyebut, kewajiban pemasangan sistem pemantauan emisi seperti CEM (Continuous Emission Monitoring) dan HPM/RPM juga menambah beban investasi bagi industri baja domestik di tengah kondisi pasar yang belum pulih.
\nStrategi Perseroan untuk Masa Depan
\n"Perseroan menyatakan akan tetap fokus menjaga hubungan dengan pelanggan utama, mengeksplorasi peluang ekspor, serta mengoptimalkan fleksibilitas layanan dan pengadaan bahan baku yang lebih kompetitif," pungkasnya.