Laba JPFA Diperkirakan Melonjak pada 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya

admin.aiotrade 25 Des 2025 3 menit 27x dilihat
Laba JPFA Diperkirakan Melonjak pada 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya


Prospek Keuntungan JPFA pada Tahun 2026 Dinilai Menjanjikan

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diprediksi akan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan pada tahun 2026. Berdasarkan riset dari Maybank Sekuritas Indonesia, laba bersih perusahaan diperkirakan mencapai Rp 4,69 triliun di akhir tahun tersebut, naik sebesar 29,3% dibandingkan estimasi laba bersih tahun 2025 yang sebesar Rp 3,63 triliun.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, pendapatan bersih JPFA juga diproyeksikan meningkat menjadi Rp 79,81 triliun pada 2026, tumbuh sebesar 22,16% secara tahunan dari estimasi penjualan tahun 2025 yang berada di level Rp 65,33 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan outlook pertumbuhan pendapatan perusahaan yang terus menunjukkan tren positif.

Faktor Pendorong Pertumbuhan JPFA

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margaret, menjelaskan bahwa prospek JPFA dinilai semakin solid karena penguatan harga ayam hidup (livebird) pasca penurunan kuota Grand Parent Stock (GPS) pada 2024. Selain itu, tambahan permintaan dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi faktor pendorong utama.

Harga livebird nasional tercatat stabil di tingkat Rp 24.853 per kilogram per 15 Desember 2025, didukung oleh penurunan kuota GPS tahun 2024 menjadi 530 ribu ekor, atau turun 21% secara tahunan. Dari diskusi dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), harga livebird diperkirakan tetap bertahan di atas Rp 21.000 per kilogram hingga akhir tahun, seiring pasokan yang lebih ketat dan permintaan tambahan dari program MBG.

Untuk tahun 2025, kuota GPS dinaikkan menjadi 560.000 untuk mengantisipasi permintaan MBG yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan proyeksi penjualan bersih tahun 2025 hingga 2027 dinaikkan sebesar 2%–4%.

Dampak Program MBG dan SPPG

Percepatan implementasi MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi katalis positif bagi industri perunggasan. Paula memperkirakan 17.500 unit SPPG yang saat ini beroperasi berpotensi meningkatkan permintaan unggas sekitar 18% secara tahunan pada tahun 2026. Dampaknya bahkan dapat melonjak hingga sekitar 36% apabila target 35.000 unit SPPG terealisasi sepenuhnya.

Selain itu, alokasi anggaran APBN 2026 sebesar Rp 335 triliun untuk MBG mencerminkan komitmen kuat pemerintah terhadap program ini. Hal ini menempatkan MBG sebagai katalis utama sektor perunggasan ke depan.

Strategi Perkuatan Segmen Produk Konsumen

Di sisi lain, JPFA terus memperkuat segmen produk konsumen melalui peningkatan penetrasi produk, perluasan jaringan distribusi, serta eksekusi yang lebih ketat pada aspek merek dan strategi go-to-market. Langkah ini dipandang sebagai positif secara struktural, karena mampu memperbaiki bauran pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga livebird.

Segmen produk konsumen yang diperkirakan berkontribusi sekitar 17% terhadap total penjualan tahun 2026 diyakini masih akan tumbuh di atas 20% secara tahunan. Pertumbuhan ini diharapkan menopang margin dan arus kas yang lebih stabil dalam jangka menengah panjang, sekaligus memperkuat posisi kompetitif JPFA di segmen hilir bernilai tambah.

Perspektif Analis Lain

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan prospek JPFA didukung oleh kebijakan dan permintaan domestik. Program pangan nasional seperti MBG dan food estate bisa memperkuat permintaan terhadap produk unggas dan pakan, sehingga menguntungkan JPFA.

Selain itu, JPFA juga mengalami perbaikan marjin dan efisiensi biaya input. Marjin membaik karena harga pakan relatif turun, sementara harga live bird dan produk hilir cukup mendukung.

Rekomendasi Investasi

Paulina mempertahankan rekomendasi buy untuk saham JPFA dengan target harga dinaikkan 15% menjadi Rp 3.200 per saham. Kenaikan target harga ini didasarkan pada valuasi 8,2 kali price earning ratio (PER) estimasi tahun 2026, atau sekitar 0,2 standar deviasi di atas rata-rata tiga tahun terakhir.

JPFA juga tetap menjadi top pick sektor perunggasan, ditopang oleh valuasi yang relatif atraktif. Saham ini diperdagangkan pada 6,9 kali PER tahun 2026, jauh di bawah CPIN yang berada di level 16,2 kali, dengan dividend yield lebih tinggi sekitar 5,8%, dibandingkan CPIN yang hanya sekitar 3,2%.

Meski demikian, Paulina mengingatkan sejumlah risiko utama, antara lain potensi kenaikan biaya input di atas ekspektasi serta pelemahan harga livebird.

Sementara itu, Nafan memberikan rekomendasi add saham JPFA di target harga jangka pendek di Rp 2.720 per saham dan target jangka panjang di posisi Rp 2.980 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan