
Konsolidasi dan Program Makan Bergizi Gratis sebagai Strategi Efektif Mengendalikan Inflasi
Praktisi ekonomi TB Raditya Indrajaya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna atau yang akrab disapa Kang DS dalam menekan inflasi. Langkah tersebut dilakukan dengan memaksimalkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai intervensi ekonomi yang strategis.
Dalam sebuah rilis pers bertajuk "Konsolidasi, Pangan Bergizi dan Inflasi yang Tak Lagi Menakutkan", Raditya menyebut bahwa tindakan yang diambil oleh Kang DS berbeda dari pendekatan biasanya. Ia tidak hanya memadamkan api ketika harga pangan sudah melambung tinggi, tetapi lebih memilih memperkuat fondasi ekonomi daerah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Salah satu cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menggelar konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mengoptimalkan program MBG. Dengan demikian, pemerintah setempat dapat mengendalikan harga pangan sejak awal.
"Di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna mengambil langkah berbeda. Alih-alih hanya memadamkan api ketika harga sudah meledak, beliau memilih menguatkan fondasi, mulai dari hal paling dasar: makanan bergizi untuk masyarakatnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program bantuan. Ini adalah intervensi ekonomi yang sangat strategis. Mengapa? Karena pangan adalah penyumbang utama inflasi daerah. Jika harga pangan terkendali, maka setengah masalah inflasi sudah selesai," ujarnya.
Inflasi yang Selalu Menghantui
Di tengah situasi ekonomi yang sering membuat masyarakat kewalahan, isu inflasi selalu muncul di meja makan. Inflasi datang tanpa mengetuk pintu, merayap dari harga cabai, telur, beras hingga ongkos kehidupan sehari-hari.
"Inflasi adalah 'hantu lama' yang selalu kembali, dan—ironisnya—sering dibiarkan hidup berlarut-larut karena kita sibuk membahas gejalanya, bukan akarnya," tambah Raditya.
Bupati Kang DS pun memanfaatkan program MBG yang masif, dengan target 1,25 juta hingga 1,7 juta penerima manfaat. Namun, program ini tidak akan berjalan efektif tanpa adanya konsolidasi.
Konsolidasi sebagai Penstabil Inflasi
"Dan di sinilah letak poin besarnya. Konsolidasi sebagai Penstabil Inflasi. Ketika Kang DS mengumpulkan seluruh pengelola, mitra, dan pemerintah untuk 'menyamakan frekuensi', beliau sebenarnya sedang membangun rangkaian benteng agar inflasi tidak merajalela. Konsolidasi membuat distribusi pangan lebih rapi, memastikan tidak ada keterlambatan, tidak ada kekurangan bahan, tidak ada ruang spekulasi harga di tengah jalan. Ketika suplai aman, harga pun tenang," kata Raditya.
Mengurangi Tekanan Rumah Tangga
Lebih lanjut, Raditya menjelaskan bahwa saat kelompok rentan mendapat makanan bergizi tanpa harus berebut harga di pasar, permintaan liar yang sering memicu gejolak harga bisa diredam. Hal ini bukan sekadar teori, tetapi logika keseharian yang jarang dibahas.
"Tidak ada lonjakan permintaan mendadak dari masyarakat yang sedang terhimpit. Tekanan psikologis terhadap makanan pokok pun mereda. Inilah intervensi ekonomi yang bekerja dengan sentuhan manusiawi," tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa inflasi bukan hanya soal angka di tabel, tetapi juga soal psikologi publik. Ketika pemerintah daerah menunjukkan kendali lewat dasbor monitoring harian, koordinasi berlapis, dan langkah-langkah teknis yang rapi, maka persepsi masyarakat ikut tenang.
Inflasi Dikendalikan dari Dapur, Bukan dari Podium
Raditya menegaskan bahwa langkah efektif yang dilakukan Kang DS untuk menekan inflasi tidak hanya sekadar kata-kata yang diungkap di podium semata. Inflasi tidak turun hanya dengan rapat, ia turun ketika masyarakat bisa makan dengan layak tanpa terbebani harga yang melambung.
"Apa yang dilakukan Kang DS melampaui seremoni. Beliau 'turun ke dapur', memastikan sistemnya bekerja. Menguatkan struktur dari bawah, bukan dari mikrofon," ujar Raditya.
Konsolidasi sebagai Gerakan Kolektif
Di tangan pemimpin yang memahami denyut rakyat, konsolidasi bukan lagi sekadar jargon. Ia menjadi gerakan, menjadi energi kolektif yang merapikan ekosistem pangan dan menenangkan ekonomi daerah.
"Dan pada akhirnya, kita belajar satu hal penting; inflasi tidak bisa diperangi sendirian, tetapi bisa dikendalikan bersama melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, rapi, dan berorientasi masyarakat," ucapnya.
Program MBG sebagai Kebijakan Sosial dan Ekonomi
Raditya menekankan bahwa program MBG menunjukkan bahwa kebijakan sosial bisa sekaligus menjadi kebijakan ekonomi. Dan konsolidasi yang dilakukan hari ini akan menjadi fondasi bagi stabilitas harga esok hari.
"Inflasi memang hantu lama. Tapi dengan strategi yang tepat, ia bisa kita hadapi tanpa rasa takut," tuturnya mengakhiri.