Kondisi duka masih menghiasi Nagari Salareh Aia Timur pada hari itu, Sabtu (6/12). Sembilan hari setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang kampung yang terletak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, suasana kesedihan masih terasa di mana-mana.
Saat saya dan tim tiba pukul 09.30 WIB setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari pusat Kota Padang, wajah-wajah penuh penantian dari warga yang kehilangan keluarga masih terlihat di mana-mana. Di sepanjang mata memandang, hanya kerusakan yang tampak.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Banjir besar bercampur material batu, pasir dan tanah telah menyapu benda apa saja yang berada di jalur banjir. Warga lokal menyebutnya sebagai galodo. Saya tak kuasa melihat, rasa getir menjalar hingga ke tulang hingga suara tercekat saat mencoba bicara. Satu kampung telah hilang.
“Dulu ini pemukiman warga. Ramai. Tapi sudah disapu galodo,” kata seorang polisi yang bertugas saat saya temui di lokasi bencana.
Pemulihan dan Bantuan
Dari pantauan di lapangan, terlihat jelas bahwa banjir besar yang terjadi pada Kamis (27/11) sore itu telah menghanyutkan satu kampung. Di sisi kanan dan kiri jalan kini telah diselimuti lumpur tebal. Sebagian rumah warga tenggelam hingga setengah badan. Bangunan yang tersisa hampir seluruhnya mengalami rusak berat. Dinding rumah pecah dan rusak berta, tiang miring dan atap yang seolah tinggal menunggu waktu untuk ambruk.
Lahan pertanian di sekitar desa, yang selama ini menjadi sumber hidup warga juga habis disapu galodo. Kampung ini seperti tak berpenghuni sebelumnya.
Di lokasi bencana, warga kini tak sepenuhnya sendiri. Di sepanjang jalan, mobil-mobil bak terbuka milik relawan terus berdatangan. Ada yang dari kelompok mahasiswa, rombongan ibu-ibu, organisasi kepemudaan, relawan hingga pelajar yang masih mengenakan seragam. Mereka datang menembus panas terik, membawa bantuan bagi warga yang terdampak.
Mencari yang Hilang
Di sebuah warung kecil, seorang ibu tampak mengeruk lumpur di teras menggunakan sekop. Ketika saya menghampiri, ia bercerita bahwa warung itu dulunya menyatu dengan rumah ibunya. Pada bagian belakang warung itu dulunya tersambung dengan rumah sang ibu. Kini, hanya ruang kosong yang tertinggal. Seperti kosongnya mata ibu itu menceritakan kembali bencana besar yang melanda Salareh Aia Timur pada sore naas di Kamis (27/11).
“Kejadiannya cepat kali, cuma 15 detik,” ujarnya dengan suara lirih. Ibunya ditemukan tak bernyawa. Ia dan keluarga intinya selamat, namun rumahnya hilang tak bersisa.
Pencarian korban banjir bandang gunakan anjing pelacak (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nz.)
Upaya Relawan
Di tengah upaya pencarian korban yang masih hilang, mayoritas warga juga tengah bimbang. Mereka menunggu kata pasti dari pemerintah tentang kebijakan relokasi usai galodo menerjang. Tinggal di posko pengungsian tidak mungkin berlangsung lama. Saya saja dengan pakaian lengkap menggigil begitu malam tiba. Udara di wilayah perbukitan ini menusuk tulang. Bagi lansia, ibu hamil, dan anak-anak, kondisi ini bisa sangat berbahaya.
Akses darat penyintas bencana di Palembayan terhambat (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nz.)
Narso dan Arif
Duka di Salareh Aie tak bisa dihindarkan, tapi asa menyala makin besar di sana. Aparat TNI dan Polri, tenaga kesehatan, relawan hingga tim SAR bergotong-royong membersihkan sisa-sisa banjir. Mereka mengeruk lumpur, mengangkat batang pohon, memindahkan perabot yang hancur.
Narso adalah salah satu relawan yang memilih jalan pedang berada di antara para korban banjir bandang. Saya bertemu dengannya saat ingin melihat aliran air yang terbentuk usai banjir di Salareh Aia. Dia dan tim SAR duduk di tepi sungai. Mereka sedang istirahat setelah setengah hari melakukan pencarian korban. Meski hanya berbekal sebuah pipa sebagai alat bantu mencari korban, ia tetap semangat menembus luasan lumpur di Salareh Aia.
“Bagaimana saya menjelaskannya, hati saya bergerak. Ini panggilan jiwa," kata dia ketika saya tanya apa yang mendorongnya ikut menjadi relawan.
Tak jauh dari Narso, saya bertemu Arif, dokter spesialis bedah dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Ia datang bersama Satgas Bencana Unri. Ia bercerita tentang seorang lansia yang selamat setelah tertimbun longsor selama 24 jam.
Menyalakan Asa
Pukul empat sore, hujan deras kembali mengguyur Salareh Aia. Para pengungsi berlarian mencari tempat berteduh di posko-posko darurat. Saya melanjutkan perjalanan menuju puskesmas. Dalam perjalanan, sebuah ambulans melaju kencang melewati kami.
Sesampainya di sana, saya mendengar kabar bahwa tim SAR baru saja menemukan tiga jenazah lainnya, tepat di lokasi tempat saya berdiri memandangi bentangan lumpur saat pertama kali tiba di Salareh Aia.
Masih ada 49 orang yang hilang. Tak ada seorang pun yang benar-benar tahu di mana mereka tertimbun, apakah masih di dalam rumah, terkubur di bawah batu besar atau terbenam dalam lumpur. Setiap kali jenazah ditemukan, keluarga yang menunggu berkerumun antara berharap dan takut.
Di tanah yang porak-poranda ini, yang tersisa hanyalah kehilangan, ketabahan dan harapan yang terus digenggam warga Salareh Aia Timur. Pada malam hari suasana jauh lebih mencekam. Salareh Aie seketika menjadi kampung mati. Di bawah sorot lampu mobil yang saya tumpangi, yang tampak hanya bentang lumpur pekat dan rumah-rumah yang remuk. Bau lumpur yang tajam mengikuti perjalanan kami.