Laporan Agam: Terisolasi 2 Hari Pasca Banjir Bandang

admin.aiotrade 10 Des 2025 5 menit 20x dilihat
Laporan Agam: Terisolasi 2 Hari Pasca Banjir Bandang

Pengalaman Muzahar Saat Banjir Bandang Menghancurkan Kampungnya

Muzahar, seorang warga Jorong Toboh yang berada di Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, tidak bisa menyembunyikan rasa gundah saat menceritakan pengalamannya menghadapi bencana alam yang baru saja menimpanya. Ia masih ingat jelas bagaimana banjir bandang menghancurkan kampungnya pada Rabu (26/11). Di hari yang tak terduga itu, hujan turun sejak pagi hari. Muzahar dan keluarganya melakukan aktivitas seperti biasa. Sekitar pukul empat sore, anak laki-lakinya berteriak dari luar rumah. Ia memberitahu bahwa ada aliran air tak biasa datang dari arah perbukitan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Air besar di banda (selokan),” ujar Muzahar, mengulang teriakan putranya sesaat sebelum air bah datang menerjang. Dalam hitungan detik, air itu menyapu rumahnya, ikut terseret arus. Muzahar bercerita saat itu, ia berada di dalam rumah bersama anak perempuannya yang sedang menyusui bayi berusia satu tahun. Ketika banjir bandang datang, ia terbanting ke dinding.

Ketika mencoba bangkit, ia tidak lagi melihat anak perempuan maupun cucunya. Sementara anak laki-lakinya terhimpit puing rumah yang runtuh. “Tolong aku, tolong aku,” teriak anaknya. Saat hendak menolong, sebuah kayu datang dari depan wajahnya dan menghantam pelipis Muzahar hingga mengeluarkan darah.

Dia masih merasakan darah mengalir, saat terus berupaya menggapai sang putra yang terluka. Sambil menahan rasa sakit, ia berusaha memanjat atap rumah untuk menyelamatkan diri. Dari atap, ia kembali melihat anaknya yang terjepit kayu besar. Dengan sisa tenaga, Muzahar mencoba menyingkirkan kayu dan menggenggam tangan anaknya. Namun gelombang berikutnya datang lebih besar, menyeret anaknya jauh hingga ke rumah tetangga.

Ia lalu meminta anaknya memeluk tiang rumah. Sudah dicoba namun sang anak tak mampu bertahan. Di tengah terjangan banjir bandang, sang anak terseret dan hilang dari pandangan Muzahar. “Tiga anggota keluarga saya hilang,” ujar lelaki paruh baya itu.

Kini, Muzahar tinggal sementara di rumah kakaknya. Rumahnya hancur total. Ia mengatakan kebutuhan paling mendesak adalah tempat tinggal. Kebutuhan logistik seperti makanan dan pakaian juga diperlukan mengingat sawah yang selama ini menjadi mata pencahariannya telah disapu bersih oleh banjir.

Dua Hari Terisolasi

Warga melintasi sungai dengan jembatan darurat yang dibuat usai jembatan permanen diterjang banjir bandang, Minggu (6/11). Banjir besar atau warga lokal menyebutnya sebagai galodo telah memutus sejumlah jembatan penghubung dusun atau jorong. Saat berada di lokasi, bertemu dengan Rosmida yang tinggal di kampung seberang. Ia tengah memilih pakaian dari para relawan untuk dibawa pulang ke rumahnya di jorong seberang, Minggu (7/12).

Saat galodo menerjang, jalan akses ke kampungnya terputus. Ia sama sekali tak bisa pergi ke kampung seberang lantaran tak berani turun dan melintas di sungai. Sementara jembatan penghubung telah roboh. Selama terisolasi, ia dan keluarganya hidup seadanya, bertahan dengan mengandalkan sisa-sisa makanan yang terbatas di rumah. Ditambah lagi, sebelum galodo terjadi, wilayah Malalak terus diguyur hujan deras sehingga warga tidak bisa keluar untuk berbelanja.

“Sudah lima belas hari tak ada ke pasar,” kata Rosmida. Dia mengatakan, setelah dua hari setelah galodo, barulah bantuan logistik bisa diperoleh dari para relawan. Setelah jembatan antar jorong hancur, warga kemudian membuat jembatan darurat dari tiga batang pohon kelapa. Jembatan tersebut hanya dapat dilalui oleh satu sepeda motor.

Dengan jembatan itu, warga dapat berjalan ke pusat pendistribusian logistik di Jorong Toboh untuk dibawa pulang ke rumah. Ada yang mengangkat telur dan beras menggunakan sepeda motor, ada juga yang mengangkutnya secara manual dengan mengandalkan tangan. Tabung gas diletakkan di pundak kanan sementara sekarung beras dipegang erat di tangan sebelah kiri.

Warga desa seberang harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk mendapatkan bantuan makanan dan kebutuhan lainnya. Mereka rela berjalan kaki sekitar tiga kilometer dari Jorong Toboh ke Jorong Seberang. Tak hanya itu, warga juga membuat tali penghubung yang dipasangi katrol agar dapat menyalurkan bantuan ke dua jorong di seberang. Bantuan logistik diikat pada katrol di tali tersebut, kemudian didorong melintasi sungai yang terbentuk karena banjir bah menuju jorong seberang.

Butuh Alat Berat

Di tengah reruntuhan dan tanah yang kini ditutupi lumpur, Malalak kini banyak dibantu relawan. Seorang anggota Basarnas, Idri mengatakan tim SAR gabungan saat ini sangat membutuhkan alat berat, terutama eskavator mini untuk membantu membuka akses jalan yang terputus. Tak hanya itu, eskavator itu juga akan digunakan untuk mencari tiga korban lainnya yang hilang.

Menurut idri, setelah dua belas hari pasca kejadian, lumpur longsor sudah mulai mengeras sehingga peralatan manual seperti cangkul dan alkon yang biasa digunakan tim SAR sudah tidak efektif. “Kami pakai eskavator mini lima ton, tapi untuk membuka akses jalan dan mencari korban, kami butuh sepuluh ton. Kendalanya di Padang kami belum menemukan unitnya,” kata Idri di Malalak, Minggu (7/12).

Setelah dua minggu melakukan pencarian korban, tim SAR gabungan di Malalak telah menemukan 14 jenazah. Tiga orang lainnya saat ini masih dalam status hilang. Berdasarkan data BNPB, Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan dampak paling serius di Sumatera Barat. Hingga 10 Desember pukul 14.03 WIB, tercatat 181 korban jiwa dan 57 orang masih dinyatakan hilang. Banjir bandang juga menyebabkan sekitar 1.500 rumah rusak serta memaksa 5.300 warga mengungsi.

Hari mencekam di Malalak memang sudah lewat. Tapi ketakutan akan datangnya bencana baru masih menghantui. Hujan masih sering turun di Malalak dengan intensitas sedang hingga berat. Di tengah keterbatasan alat evakuasi Indri masih terus mencari. Berharap korban yang hilang segera ditemukan. Dan saat meninggalkan kampung yang kini mencoba bangkit itu, hujan kembali turun membasahi tanah Malalak.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan